Jika Birokrasi Mati Rasa, Demokrasi Juga Bernasib Sama

Dosen Digital Public Relations Telkom University, sekaligus pembaca dan resensor buku lintas genre
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Sufyan Abdurrahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul Buku: Birokrasi Pemerintahan
Penulis: Prof Dr Drs H Pandji Santosa dan Dr Merdi Hajiji
Penerbit: Refika Aditama
Tahun Terbit: November 2024 | 136 halaman
Apa yang paling sering disalahkan ketika pelayanan publik lambat, aturan tumpang tindih, atau urusan sederhana malah jadi ruwet? Jawabannya selalu sama: birokrasi. Tapi bagaimana sebenarnya wajah birokrasi di Indonesia? Buku ini mencoba menjawabnya secara jernih dan terstruktur, tidak dengan menghakimi, tapi juga tidak menghindar dari kritik.
Ditulis oleh dua akademisi dan praktisi yang sudah lama bergelut di pemerintahan, buku Birokrasi Pemerintahan membawa kita menyelami dunia birokrasi dari akarnya. Bukan hanya definisi dan sejarah, tapi juga bagaimana birokrasi bisa menjadi mesin pelayanan publik yang adil, efisien, dan bermartabat.
Penulis mengawali buku ini dengan mengutip Max Weber, pemikir sosial klasik yang menyebut birokrasi sebagai fondasi penting masyarakat modern. Di titik ini, birokrasi digambarkan sebagai sistem yang rasional dan perlu, bukan beban. Tapi realitas tidak selalu seindah teori. Maka buku ini pun mengajak kita menelisik tiga wajah birokrasi yang berbeda.
Pertama, birokrasi yang rasional dan patuh aturan. Kedua, birokrasi yang jadi alat elite untuk mempertahankan kuasa, seperti dikritik Marx. Dan ketiga, birokrasi yang netral, hanya bekerja berdasarkan prosedur teknis tanpa afiliasi politik apa pun. Melalui ketiga perspektif itu, pembaca diajak memahami bahwa birokrasi bukan entitas tunggal yang hitam putih, melainkan sistem yang kompleks dan penuh tarik-menarik.
Buku ini tidak hanya berbicara di tataran konsep. Ada ulasan menyeluruh soal reformasi birokrasi: bagaimana posisi jabatan dirancang, bagaimana proses pengambilan keputusan seharusnya berjalan, sampai bagaimana teknologi bisa digunakan untuk mempercepat dan memperbaiki tata kelola. Penulis menyebut e-governance sebagai keniscayaan yang perlu dipikirkan serius oleh pemangku kebijakan.
Yang menarik, buku ini juga menautkan erat antara birokrasi dan kualitas demokrasi. Di sini, gagasan penulis menjadi semakin bernyawa. Menurut mereka, birokrasi tidak boleh menjauh dari rakyat. Ia harus menjadi ruang etis yang menghadirkan keadilan, bukan sekadar mesin regulasi. Demokrasi yang baik tidak akan pernah bertahan jika birokrasi justru menghalangi partisipasi dan memperumit urusan warga.
Bagian akhir buku ini memperkuat pesan tersebut. Bahwa birokrasi yang baik tidak hanya dinilai dari kelengkapan dokumen atau kerapihan prosedur, tetapi dari seberapa besar ia mampu menghadirkan rasa keadilan dan kemudahan. Dalam masyarakat yang plural dan terus bergerak, birokrasi harus jadi penggerak, bukan penghambat.
Namun tentu saja, buku ini tidak sepenuhnya sempurna. Beberapa pembahasan cenderung normatif dan terasa mengulang jargon yang kerap kita dengar dalam wacana reformasi birokrasi. Beberapa solusi yang ditawarkan kurang membumi, apalagi ketika menyentuh konteks birokrasi daerah atau pelayanan langsung yang sering kali jauh dari sorotan. Kurangnya contoh kasus konkret membuat beberapa gagasan terasa lebih akademik daripada praktis.
Meski begitu, Birokrasi Pemerintahan tetap merupakan bacaan penting bagi siapa pun yang peduli pada nasib bangsa ini. Mahasiswa, aparatur sipil negara, jurnalis kebijakan, hingga pengambil keputusan akan mendapat banyak pelajaran dari buku ini. Ia bukan sekadar catatan teknis, tapi cermin untuk menilai sejauh mana negara hadir di balik meja-meja birokrasi.
Jika kita ingin birokrasi berubah, maka kita harus mulai dari memahami bagaimana ia bekerja, bagaimana ia salah arah, dan bagaimana ia bisa diperbaiki. Buku ini memberi kita alat untuk memulai percakapan itu, dan mudah-mudahan, mempercepat jalan menuju pelayanan publik yang benar-benar berpihak pada rakyat.
Penulis:
Dr Muhammad Sufyan Abdurrahman
Dosen Digital Public Relations, Telkom University
