Konten dari Pengguna

Tawakal: Kunci Bahagia yang (Sering) Terlupakan di Era Modern

Surya Hanif

Surya Hanif

Pria yang sedang menempuh pendidikan S1 Psikologi di Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Surya Hanif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Ahmed akacha from Pexels: https://www.pexels.com/photo/rescuing-of-a-girl-15804050/
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Ahmed akacha from Pexels: https://www.pexels.com/photo/rescuing-of-a-girl-15804050/

Tahukah Anda bahwa kearifan spiritual dalam agama, khususnya konsep tawakal, ternyata menyimpan rahasia kebahagiaan. Seiring waktu, cara kita memaknai religiusitas kini mulai berubah. Tak lagi hanya soal ritual dan aturan, religiusitas kini lebih dipahami sebagai pengalaman batin yang mendalam dan sebuah relasi spiritual yang memberi makna, harapan, dan kekuatan dalam menjalani hidup.

Lebih menarik lagi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bentuk religiusitas yang dibangun atas dasar cinta, harapan, dan syukur jauh lebih menyehatkan secara psikologis dibandingkan religiusitas yang dibangun atas dasar rasa takut. Ketika seseorang merasa dicintai dan diterima oleh Tuhannya, relasi tersebut menjadi sumber kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi stres dan kesulitan hidup.

Lebih dari Sekadar Pasrah

Salah satu konsep religius yang semakin mendapat perhatian adalah tawakal. Dalam banyak budaya Muslim, tawakal sering kali dimaknai sebagai "pasrah" kepada ketentuan Tuhan. Namun, makna ini kini berkembang lebih luas menjadi sikap spiritual yang menyatu dengan dimensi emosional dan kognitif. Ia bukan sekadar menyerah, tetapi bentuk keyakinan aktif yang membawa rasa cukup (sufficiency), penerimaan (acceptance), dan ketenangan batin.

Ketika seseorang benar-benar mempraktikkan tawakal, bukan hanya ia merasa lebih bahagia, tapi juga lebih tangguh. Ia tidak mudah goyah saat diterpa masalah, karena dalam dirinya telah tertanam keyakinan bahwa segala sesuatu punya makna, dan ada tangan Tuhan yang selalu menyertai.

Do'a yang Menyembuhkan

Lebih jauh lagi, praktik keagamaan seperti berdo'a, yang apabila dilakukan dengan penuh kesadaran dan kedalaman hati, terbukti dapat memperkuat rasa makna dalam hidup. Inilah yang menjadi kunci penting dari well-being: hidup yang tidak hanya “baik secara lahiriah,” tetapi juga terasa berarti dan terarah secara batiniah.

Namun perlu digarisbawahi, hubungan antara religiusitas dan kebahagiaan tidak bersifat universal. Ia sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan pendidikan. Di masyarakat yang stabil secara sosial dan memiliki harmoni antarumat beragama, nilai-nilai spiritual lebih mudah berkembang secara sehat dan berdampak positif bagi kesehatan mental.

Akhirnya, kita dapat memahami bahwa tawakal bukan sekadar sikap berserah diri, melainkan sebuah kekuatan batin yang lahir dari cinta dan keyakinan. Ia mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Bukan sebagai beban, melainkan sebagai perjalanan spiritual yang penuh makna, harapan, dan penerimaan.