Refleksi di Dapur Redaksi: Dari AI Hingga ke Ruang Praktik Jurnalisme

Sedang menjalani peran sebagai seorang mahasiswa program studi komunikasi dan penyiaran Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Syafri Laudiu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kamis, 12 Februari 2026 - Saya dan teman - teman yang sedang berkuliah di jurusan komunikasi dan penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bersama civitas akademika prodi melakukan kunjungan industri ke Solopos Media Group yang berlokasi di Griya Solopos, Jl. Adisucipto No. 190, Karangasem, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah.

Kunjungan ini tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk menambah pengalaman dan pengetahuan kami terkait bagaimana industri media itu bekerja. Beberapa teman terlihat antusias, sebagiannya lagi terlihat masih mencari motivasi kenapa dia ikut dalam kunjungan ini.
Perjalanan dimulai sekitar pukul 07.00 lewat berapa menit. Kami bergegas dari kampus langsung menuju lokasi. Perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih 2 jam. Bis yang kami tumpangi tidak lambat tidak pula cepat. Setidaknya kami masih bisa menikmati obrolan hangat di dalam bis. Tidak jarang juga bercanda dengan beberapa dosen yang menemani kami dalam kunjungan kali ini.
Sesampainya di Solopos Media Group, kami langsung disambut oleh beberapa staf yang ramah dan terlihat profesional dengan lanyard dan kartu anggota. Kami langsung dipersilakan masuk dan menuju ke sebuah ruangan. Katanya, ruangan tersebut biasa digunakan untuk rapat atau diskusi, tapi kali ini disediakan untuk penyambutan kunjungan kami. Kami duduk, dan acara dimulai dengan beberapa kata sambutan dari pihak Solopos Media Group dilanjut ucapan terima kasih dari kami yang diwakili oleh pihak dosen.
Setelah itu, kami para mahasiswa diberi kesempatan untuk berbicara. Topiknya tentang AI atau artificial intelligence. Hal yang 4 tahun belakangan menjadi pembahasan menarik di segala bidang -- tak terkecuali dalam industri media. Kami ditanya apa pendapat kami tentang penggunaan AI di kalangan mahasiswa. Saya menjadi orang pertama untuk menggunakan kesempatan ini.
"AI seharusnya menjadi rekan berfikir yang kritis dan koheren, bukan sebagai pengganti mutlak dalam mengerjakan tugas kuliah". Ujar saya dengan penuh percaya diri.
Setelah itu, disambung oleh beberapa pendapat teman saya atas pengalamannya menggunakan AI dalam berkuliah, baik dalam membantu dia memahami materi kuliah atau mengerjakan tugas kuliah yang kompleks.
Kegiatan dilanjut dengan pemaparan materi. Tidak salah lagi, materi yang disajikan oleh staf Solopos Media Group adalah Jurnalisme dan AI: Tantangan dan Peluang. Kami menyimak dengan seksama. Beberapa ada yang fokus mendengarkan sambil menyalakan rekaman di gawainya berniat akan memutarnya kembali sepulang dari sini. Beberapanya lagi terlihat sangat asyik mencatat penggalan kata demi kata yang disampaikan oleh pemateri. Ada juga yang hanya memotret powerpoint yang ditampilkan di layar.
Materinya daging banget. Ujar saya dalam hati. Materi yang diberikan setidaknya terdiri dari 5 bagian, mulai dari disrupsi media, tantagan AI bagi media, penggunaan AI di redaksi, peluang AI bagi media, hingga jurnalis sebagai penentu.
Di bagian disrupsi media, dijelaskan tentang sejarah berkembangnya indsutri media sampai saat ini. Lebih lanjut dijelaskan awal mula signifikan pada akhir tahun 1990-an hingga awal 2000-an, seiring meningkatnya popularitas internet dan world wide web (www). Kemudian masuk ke era media sosial yang dimulai sejak tahun 2000 sampai sekarang. Dimana media sosial menambah corak terhadap media massa, mengubah banyak hal seperti pola konsumsi berita dari cetak ke digital. Hingga masuk ke era AI yang mulai mendisrupsi pada tahun 2020-an, sampai muncul kekhawatiran akan menggantikan fungsi dan tugas jurnalis di media massa. Sampai saat ini, AI sudah menjadi bagian dari ekosistem media modern dengan mengubah cara produksi, distribusi, dan konsumsi berita. Meskipun begitu, AI hanyalah alat bantu dan bukan pengganti jurnalis.
Bagian kedua yakni tantangan AI bagi media. Di bagian ini kami akhirnya menyadari bahwa media harus memaksimalkan AI sebagai alat bantu (tools) untuk menunjang kerja redaksi agar lebih efektif dan efisien, meningkatkan kualitas produk sesuai kaidah dan kode etik jurnalistik. Dibutuhkan juga literasi digital dan AI yang merata diantara jurnalis, Pemahaman yang sama mengenai peran AI dalam kerja redaksi, dan dukungan kebijakan dan SOP penggunaan AI.
Lanjut ke bagian ketiga, pemateri semakin asyik menjelaskan tentang penggunaan AI di redaksi khususnya di dapur produksi Solopos Media Group. Setidaknya ada 5 poin yang saya catat terkait penggunaan AI dalam redaksi, yaitu;
1. Meminimalkan kesalahan tulis (cek typo)
2. Visualisasi/ilustrasi (misalnya untuk isu – isu yang sensitif)
3. Menyederhanakan data agar lebih mudah dipahami dengan cepat
4. Analisis tren isu dan audiens/pembaca
5. Riset dan pengolahan dokumen (infografis)
Kemudian lanjut ke bagian keempat yaitu tentang peluang AI bagi media. Di bagian ini kami memahami bahwa kehadiran AI memberikan peluang bagi media dalam banyak hal, diantaranya untuk efisiensi dan efektivitas kerja redaksi, peningkatan kualitas jurnalisme data, produksi konten lebih cepat dan relevam dengan kebutuhan pembaca, optimalisasi distribusi dan SEO. Tapi, ada hal yang perlu diwaspadai dalam penggunaan AI seperti: risiko informasi keliru dan bias, ancaman terhadap etika jurnalistik, rawan plagiarisme, manipulasi konten atau deep fake/hoax, turunnya kepercayaan publik serta ketergantungan berlebihan pada AI.
Terakhir, bagian yang menurut saya paling krusial karena menyinggung salah - satu profesi impian saya yaitu jurnalis. Pemateri menegaskan bahwa dalam kerja - kerja media seperti ini, jurnalis harus tetap menjadi penentu Perkembangan teknologi tidak boleh menggeser sepenuhnya tanggung jawab seorang jurnalis yang dianggap lebih memiliki rasa dan empati dalam menulis atau memproduksi sebuah berita. AI hanyalah alat bantu, penentu hasil akhir tetap jurnalis. Jurnalis harus tetap menjalankan fungsi:
1. Verifikasi fakta dan konfirmasi lapangan
2. Memahami konteks dan sosial budaya
3. Investigasi dengan keberpihakan pada kepentingan publik
4. Bekerja dengan penuh tanggung jawab terhadap etika dan kaidah jurnalistik
Untuk selalu menjaga kepercayaan publik, penting untuk jujur dan transparan kepada pembaca terkait penggunaan AI dengan mencantumkan disclaimer/kredit untuk setiap produk yang dibuat menggunakan AI.
Setelah sesi materi, kami akhirnya bergegas ke ruang - ruang produksi. Kami diajak untuk bisa melihat langsung ruangan tempat bekerja para staf - staf. Mulai dari produksi radio, ruangan finance, hingga ruang para redaktur berita. Tidak hanya diajak untuk melihat ruangan tersebut, dijelaskan juga fungsi dari ruangannya. Diiringi dengan beberapa pertanyaan dari teman mahasiswa, sesi ini menjadi sesi yang cukup seru dan menyenangkan. Setelah hampir 1 jam lebih berkeliling kantor, kami akhirnya bersiap - siap untuk pamit.
Itulah sedikit pengalaman dan refleksi saya dalam sebuah kesempatan kunjungan industri ke Solopos Media Group. Besar harapan bahwa kunjungan ini tidak hanya agenda formalitas semata, tapi benar - benar memberikan ilmu dan pengalaman yang berkesan bagi kami. Dan juga menyalakan kembali api semangat dalam diri kami sebagai mahasiswa komunikasi, untuk terus percaya diri meraih mimpi sebagai seorang jurnalis.
Terima Kasih.
