Tidak Ada Ramadan Tahun Ini

Sedang menjalani peran sebagai seorang mahasiswa program studi komunikasi dan penyiaran Islam di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Syafri Laudiu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ya, kalimat yang saya pilih sebagai judul dari tulisan ini bukan bermaksud untuk berfatwa apalagi bersabda. Bukan seorang ulama fiqh kontemporer, apalagi nabi baru – hanya seorang Muslim yang habis merenung dan kemudian punya hajat untuk menulis renungan itu. Syukur – syukur bisa memantik kesadaran hingga terbesit untuk berubah karena sejatinya ramadan belum selesai, ramadan justru baru dimulai.

Doa Sahabat Tentang Bulan Ramadan dan Aminnya Rasulullah
Dalam Islam, bulan ramadan sangat spesial. Dan seharusnya dalam menyambut atau menyiapkannya pula harus spesial. Saya mengutip catatan Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab legendarisnya yang berjudul Lathaif Al-Ma’arif. Beliau menukil perkataan seorang ulama Tabiin terkemuka, Mualla bin Al-Fadhl rahimahullah, yang menceritakan:
“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan."
Ketika persiapan yang spesial itu telah ditambatkan, maka menjadi seru kemudian berjumpa dengan ramadan itu. Namun, ternyata ada yang diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan ramadan tetapi dia malah masuk ke dalam golongan yang tidak diampuni dan justru mendapat laknat-Nya. Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu, beliau berkata,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, ketika beliau naik ke atas tangga, beliau berkata ‘Aamiin,’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat kedua) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat ketiga) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau berkata, ‘Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan dia tidak diampuni, maka Allah akan melaknatnya.’ Lalu aku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: ‘Aamiin.’”
Jibril berkata lagi, ‘Dan siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu dia masuk ke dalam Neraka, maka Allah akan menjauhkannya dari rahmat-Nya.’ Aku katakan, ‘Aamiin.’
Jibril berkata lagi, ‘Siapa saja yang ketika namamu disebutkan, lalu ia tidak bershalawat kepadamu, maka Allah akan melaknatnya, katakanlah aamiin, lalu aku katakan, ‘Aamiin.
Syarat dan Ketentuan Berlaku
Dari hadis sebelumnya, kita seharusnya cemas karena kita bisa saja termasuk dalam golongan tersebut. Padahal dalam hadis lain nabi SAW pernah mengabari:
“Barang siapa yang puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari no. 2014).
Mungkin banyak yang hanya fokus pada kata puasa dan diampuninya dosa, seakan – akan cukup dengan dia dengan menahan lapar, haus, dan nafsu dari terbit sampai terbenamnya matahari maka dosa – dosanya yang di masa lalu akan diampuni. Padahal, ada 2 kata yang sebenarnya menjadi syarat dan ketentuan. Yang dimana jika syarat dan ketentuan itu tidak terpenuhi maka boleh jadi puasanya menjadi sia – sia. Yaitu dalam kata imaanan dan wakhtisab atau iman dan mengharapkan pahala. Ini pula sebenarnya yang membedakan puasa yang sebenar-sebenarnya puasa dan yang tidak sebenar-benarnya atau kalau boleh meminjam istilah kawan saya yaitu puasa substansial dan puasa situasional.
Puasa Situasional dan Puasa Substansial
Sederhananya, puasa situasional adalah puasa yang hanya terikat oleh dimensi situasi atau dimensi ruang dan waktu. Puasa yang dilakukan hanya karena dia ‘tahu’ bahwa sudah masuk waktu bulan ramadan. Puasa yang dilaksanakan hanya karena dia ‘tahu’ bahwa temannya, tetangganya, kerabatnya pasti berpuasa maka dia juga ikut berpuasa. Jadi, dia ‘gengsi’ atau ‘malu’ karena mungkin sudah dewasa dan ketahuan tidak berpuasa. Puasa yang seperti ini sebenarnya tidak salah, hanya saja perlu sedikit diluruskan. Rasa – rasanya ada yang kurang. Tapi, setidaknya puasa yang seperti ini masih lebih baik daripada tidak puasa sama sekali apalagi menyengaja untuk mokel dan menjadi kebiasaan.
Kemudian puasa substansial. Ya, dari namanya saja kita bisa tahu bahwa puasa yang dimaksud adalah puasa yang memiliki nilai atau substansi. Puasa yang sebenar-benarnya puasa atau puasa yang dimaksud sebelumnya yaitu puasa yang dilandasi dengan keimanan dan mengharapkan pahala. Ketika dia berniat, tidak hanya terucap secara lisan tapi juga hatinya dikuatkan dengan iman atau percaya bahwa puasa ini adalah perintah Allah yang pasti membawa berkah dan manfaat juga ada pengharapan dengan puasanya tidak hanya diganjar pahala tapi juga menjadi sebab diampuninya dosa – dosanya di masa lalu.
Menjadi Bertakwa
Lebih lanjut, ayat yang paling sering kita dengar di bulan Ramadan yaitu Al – Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Dalam ayat tersebut, Allah dengan sangat lugas menjelaskan bahwa puasa tujuannya agar menjadi bertakwa. Kalau dikaitkan dengan hadis sebelumnya, sebenarnya sudah jelas input – proses – dan outputnya yaitu iman dan mengharapkan pahala sebagai inputnya, berpuasa sebagai prosesnya dan bertakwa adalah outputnya. Sungguh indah proses tersebut. Tapi ada satu pertanyaan yang menarik untuk dibahas yaitu “Apa sebenarnya maksud bertakwa dalam ayat tersebut? apakah takwa dalam pengertian umum yakni melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya, yang didasari rasa takut, cinta, dan ketaatan kepada-Nya?
Ini yang menarik, ternyata kata “tattaqun” dalam ayat tersebut tidak hanya diartikan sebagai bertakwa tapi memiliki makna yang mendalam. Kata “tattaqun” termasuk jenis “kalimah fi’il” atau kata kerja. Jenis kata yang memberi dampak sprit lebih aktif dan dinamis. Lebih lanjut, kata “tattaqun” termasuk “fi’il mudhari” yang bermakna, perbuatan yang sedang atau akan terlaksana. Artinya, mengisyaratkan pesan, perbuatan yang dimulai dan berlanjut ke arah depan dan sifatnya konsisten, terus menerus, atau istiqomah.
Lebih jauh lagi, fi’il mudhari’ juga memiliki sifat “istimrar”. sifat yang memberikan pesan makna, “perbuatan terus menerus berkesinambungan”. Bila demikian dapat ditangkap makna, tujuan diperintahkan puasa ramadan, agar yang terpanggil sebagai mukmin, semakin berkualitas dengan ketaqwaan yang meningkat. Kebaikan yang terpelihara terus menerus, tiada putus.
Mudahnya, takwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya yang dilakukan tidak hanya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari tetapi juga setelah itu atau bisa disebut konsisten dan berkesinambungan. Dalam jangka panjangnya lagi, melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya tidak hanya dalam 30 hari bulan ramadan, tapi di bulan – bulan seterusnya. Kalau tidak demikian, maka ‘tidak ada ramadan tahun ini’.
Saya mengakhiri tulisan ini dengan satu pengingat dari Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya At-Tabshirah (2/78):
“Demi Allah, seandainya ditanyakan kepada penghuni kubur: 'Berangan-anganlah...!', niscaya mereka pasti berangan-angan sehari saja di bulan Ramadhan"
Bagaimana dengan kita? kita sudah diberi berapa hari bulan ramadan tahun ini? apakah kita sudah memanfaatkannya sebaik mungkin?
