Konten dari Pengguna

Mengungkap Falconry – Olahraga Kaum Elite di Timur Tengah

Muhammad Fallas Taufiqurrohman

Muhammad Fallas Taufiqurrohman

Mahasiswa S2 Prodi Kajian Wilayah Timur Tengah (KTTI) dan Islam Universitas Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fallas Taufiqurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Youtube
zoom-in-whitePerbesar
Source: Youtube

Pernahkah anda melihat seorang pria dengan jubah putih (thobe) dan menggunakan penutup kepala dengan kain motif kotak-kotak berwarna merah-putih (ghutra), berdiri tegak dengan latar belakang padang pasir kuning dengan seekor elang bertudung sedang bertengger di pergelangan tangannya? di mana elang jenis pregrine ini akan melesat terbang dari tangan falconer, seketika setelah tudung yang menutupi kepalanya dibuka untuk menangkap mangsa buruan yang sudah disiapkan. Inilah falconry, pemandangan yang akan anda temui sebagai salah satu bidang olahraga yang berasal dari tradisi berburu yang telah mengakar di belahan dunia timur tengah khususnya negara-negara teluk arab.

Sejarah dan Transformasi Falconry

Berburu dengan elang (falconry) sudah menjadi bagian integral dari sejarah Suku Badui di Semenanjung Arab selama kurang lebih 10.000 tahun yang lalu. Para arkeolog telah menemukan bukti burung di antara sisa-sisa peradaban Neolitik Al-Magar yang ditemukan di wilayah tersebut.

Menurut legende, falconer pertama adalah Raja Persia yang haus darah pada abad ke-7 SM, yang begitu terpesona oleh elang yang menangkap seekor burung sehingga dia memerintahkannya untuk menangkapnya agar dapat belajar darinya. Singkat cerita, setelah mempelajarinya terjadi perubahan pada sang raja yang berkembang menjadi penguasa bijaksana nan sabar. Sejarah lain mengatakan bahwa orang-orang arablah yang pertama kali merawat elang dengan baik dan melatih mereka untuk membentuk ikatan yang abadi, lalu menyebarkan budaya berburu dengan elang ini ke Roma kuna dan Persia selama ekspedisi perdagangan mereka.

Apa pun mitosnya, elang telah dihormati selama berabad-abad di mana mereka secara tradisional digunakan oleh suku badui pada masa lalu untuk berburu di gurun gersang dengan kelangkaan makanan dan kesulitan berjalan kaki. Dengan penglihatan elang yang tajam dan kecepatan terbangnya, mereka membantu para penghuni gurun untuk menangkap Bustard dan Curlew untuk makanan. Terutama pada acara-acara khusus ketika orang badui harus menjamu tamu-tamu terkemuka.

Meskipun elang sangat penting untuk bertahan hidup di iklim gurun yang keras, perburuan telah dilarang di sebagian besar wilayah gurun sejak tahun 1975 oleh Sheikh Zayed. Namun tradisi berburu ini tetap dilestarikan sampai dengan hari ini dengan didefinisikan ulang sebagai "olahraga raja" dan merupakan hobi yang sangat populer di seluruh wilayah Teluk. Mereka juga dikagumi karena kecantikan dan kecepatan mereka serta sebagai simbol kebanggaan dan kehormatan di kalangan orang Arab, di mana sebagian negara timur tengah menjadikan elang sebagai burung nasional.

Dan tidaklah salah jika mengaitkan falconry dengan bangsawan dan kelompok elite di kawasan itu, dimulai dengan harga burung raptor itu sendiri berkisar dari $ 10.000, bahkan ada yang terjual sebesar $ 173.000 (sekitar Rp. 2.5 miliar) pada bulan Oktober 2020 di Arab Saudi (dilansir dari Al Arabiya, 15/10/2020). Uang telah mentransformasi dan menghembuskan kehidupan baru ke dalam budaya lama ini, ditambah dengan status Qatar, Kuwait, Arab Saudi dan UEA yang seluruhnya termasuk kedalam 10 (sepuluh) negara terkaya di dunia turut mengangkat status elang ini ke tingkat yang baru.

Salah satu contoh peningkatan status elang ini adalah dengan pemberlakuan paspor khusus untuk elang. Media lokal Uni Emirat Arab (UEA), Gulf News melaporkan bahwa selama tahun 2002-2013, UEA merilis 28 ribu paspor untuk elang dengan masa berlaku 3 tahun. Program paspor elang diluncurkan Kementerian Lingkungan dan Kelautan dengan tujuan memerangi perdagangan ilegal burung pemangsa itu. Dengan paspor itu, elang bisa dibawa bepergian ke Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Pakistan, Maroko dan Suriah. Dengan biaya pengurusan paspor untuk seekor elang sekitar $ 130.

Jadi tidaklah heran jika beberapa maskapai yang mengudara ke wilayah teluk di Timur Tengah memperbolehkan untuk membawa elang di kabin utama. Maskapai Qatar Airways menjelaskan secara detail soal aturan membawa elang di pesawat pada situsnya. Untuk kelas ekonomi, Qatar Airways hanya memperbolehkan maksimum enam ekor elang di kabin. Etihad Airways mengizinkan elang di kabin utama asalkan seluruh dokumen yang dibutuhkan telah lengkap. Adapun maskapai Flydubai menyatakan setiap elang di kabin harus ditempatkan di kursi sendiri dan diletakkan di atas kain untuk menghindari insiden. Sedangkan maskapai Jerman, Lufthansa, menyediakan pijakan khusus untuk elang agar penumpang bisa berdekatan dengan elang kesayangan mereka.

Contoh ekstrem dari penggunaan fasilitas maskapai ini, terdokumentasi ketika seorang pangeran kerajaan Arab Saudi membawa serta 80 ekor burung elang di dalam kabin pesawat. Bahkan burung-burung predator itu mendapatkan kursi mereka sendiri-sendiri. Pemandangan tak biasa itu tertangkap kamera pada salah satu penerbangan Maskapai Qatar Airways dan fotonya diposting ke jejaring sosial Reddit pada 30 Januari 2017, seperti dilansir The Huffington Post, Selasa (31/1/2017).

King Abdulaziz Falconry Festival

Terdapat beberapa festival falconry yang diselenggarakan di berbagai negara teluk di timur tangah, namun yang paling terkenal adalah King Abudulaziz Falconry Festival. Merupakan acara yang diselenggarakan oleh Saudi Falconry klub di kantor pusatnya di Malham, utara Riyadh. Acara ini menarik elang elite dari seluruh Arab Saudi dan kawasan Teluk bahkan internasional. Festival ini hadir dalam rangka untuk melestarikan warisan budaya dan peradaban Arab Saudi serta mendukung rencana untuk mencapai Visi Saudi 2030.

Festival ini menawarkan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat dan merasakan segala sesuatu yang berhubungan dengan falconry, termasuk di dalamnya lomba olahraga elang dengan total hadiah SR 17 juta (sekitar $ 4.59 juta), lomba photography dengan total hadiah SR 100 ribu (sekitar $ 27 ribu), konser musik dan acara lelang penjualan burung elang.

Untuk mengikuti acara ini tidak dikenakan biaya masuk, namun untuk mengikuti konser musik dan acara tertentu dikenakan sejumlah biaya.

Kontroversi Falconry

Meskipun menjadi makhluk dengan kecepatan sampai 300 km/jam, namun elang-elang ini belum berhasil terbang bebas dari kontroversi. Salah satunya, terdapat investigasi pada tahun 2010 yang menemukan bahwa beberapa negara Skandinavia melakukan negosiasi diskon minyak dengan Arab Saudi dengan imbalan sejumlah gyrfalcon yang mereka cari. Dan itu tidak berakhir di sana, perdagangan elang ilegal dapat secara langsung dikaitkan dengan korupsi terhadap para pemimpin militer, pembunuhan politik dan bahkan terorisme internasional. Burung-burung ini adalah bisnis yang serius dan bernilai lebih tinggi daripada heroin di kawasan Timur Tengah .

Dikenal sebagai 'tak ternilai' di sebagian besar Timur Tengah, uang yang dicurahkan ke industri elang menjadi tidak masuk akal. Kondisi ini menarik pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan dengan menyelundupkan elang dan menjualnya di pasar gelap. Perdagangan dan transportasi ilegal burung-burung berharga ini tersebar luas dari Mafia Rusia hingga pemerintah Mongolia dan menjadi urutan kedua sebagai komoditas yang paling aktif diselundupkan setelah penyelundupan senjata di pasar gelap di seluruh Teluk.

Kondisi ini menyebabkan elang ditangkap, dibius, dibungkus kain dan diselundupkan melewati banyak perbatasan yang dijejalkan ke dalam koper atau dibedong dan dimasukkan ke dalam tabung surat. Beberapa burung bahkan mati lemas dalam perjalanan. Di Pakistan, ada sebuah lapangan terbang yang sampai saat ini hanya digunakan untuk penyelundupan elang. Dan pada Oktober 2020, petugas bea cukai Pakistan berhasil membongkar tempat persembunyian 75 elang dan seekor houbara bustard di sekitar kota pelabuhan selatan Karachi pada operasi anti-penyelundupan. (dilansir dari The Hindu, 18/10/2020)

Di luar kontroversinya falconry sudah menjadi gaya hidup yang mengakar bagi Elite di Timur Tengah dan menjadi olahraga dengan nilai hadiah yang fantastis. Bagaimana apakah Anda tertarik untuk turut andil dalam olahraga ini?