Konten dari Pengguna

Lokananta Solo Adalah "Third Place" yang Selama Ini Kita Cari

Muhammad Tegar Prasetyo

Muhammad Tegar Prasetyo

Undergraduate Student of Communication Studies at Sebelas Maret University

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Tegar Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

lokananta surakata
zoom-in-whitePerbesar
lokananta surakata

Lokananta Solo - Lo pernah ngerasa capek di rumah, tapi juga nggak mau ke kampus? Butuh tempat yang bukan keduanya tempat yang bikin lo ngerasa bebas, tapi tetap somehow terasa milik lo? Gue nemu tempat itu. Dan jawabannya ada di Lokananta Solo.

Apa Itu "Third Place" dan Kenapa Anak Muda Butuh Itu?

Sosiolog Ray Oldenburg pernah nulis soal konsep third place tempat ketiga setelah rumah dan tempat kerja/kampus. Tempat yang nggak punya tekanan produktivitas, nggak ada ekspektasi sosial yang berat, tapi tetap bikin lo ngerasa jadi bagian dari sesuatu.

Dulu, third place itu warung kopi pinggir jalan, taman kota, atau alun-alun. Tapi buat anak muda Solo sekarang? Gue rasa Lokananta Solo udah ngisi peran itu dengan cara yang jauh lebih kaya.

Lokananta Solo Bukan Sekadar Destinasi Ini Ruang

Sebelum masuk lebih dalam, sedikit konteks. Lokananta Solo berdiri sejak 1956 di Jalan Ahmad Yani, Laweyan, Surakarta. Dulunya studio rekaman dan pabrik piringan hitam pertama milik negara tempat lahirnya suara-suara bersejarah Indonesia. Sejak direvitalisasi oleh M Bloc Group pada Juni 2023, Lokananta Solo hadir bukan cuma sebagai museum, tapi sebagai ruang kreatif dan publik yang terbuka untuk siapa saja.

Dan justru di situ kuncinya: terbuka untuk siapa saja

Nggak ada dress code. Nggak ada minimum order. Nggak ada ekspektasi lo harus ngapain. Lo bisa dateng dengan agenda penuh atau tanpa agenda sama sekali — dan dua-duanya terasa equally valid di Lokananta Solo

Tiga Cara Gue "Tinggal" di Lokananta Solo

Duduk di Tribun, Nggak Ngapa-ngapain dan Itu Cukup

Third place yang baik itu nggak maksa lo produktif. Dan tribun di **Lokananta Solo** adalah definisi paling literal dari itu.

Tribun ini ngadep langsung ke Taman Lingkar area hijau terbuka di tengah kawasan Lokananta Solo. Dari sini lo bisa lihat orang-orang lalu-lalang, nonton aktivitas yang lagi berlangsung di bawah, atau sekadar bengong sambil ngopi. Kadang rame, kadang sepi. Dua-duanya punya energi yang berbeda tapi sama-sama nyaman.

Yang paling gue suka: nggak ada yang ngusir. Nggak ada tekanan buat beli sesuatu. Lo bisa duduk berjam-jam dan itu ngerasa normal di sini. Itulah yang bikin tribun ini beda dari bangku mall atau kursi coffee shop yang bikin lo merasa bersalah kalau nggak pesan sesuatu tiap sejam.

Di Lokananta Solo, lo boleh ada begitu saja.

Taman Lingkar: Rapat BEM yang Akhirnya Terasa Manusiawi

Gue pernah bawa agenda rapat BEM ke Taman Lingkar Lokananta Solo dan itu salah satu keputusan terbaik yang pernah gue buat sebagai bagian dari organisasi.

Nggak ada ruangan formal. Nggak ada meja panjang yang bikin semua orang auto-kaku. Yang ada adalah hamparan taman, orang-orang duduk di atas rumput, dan udara Solo yang lumayan bisa diandalkan.

Hasilnya? Diskusinya beda. Lebih cair. Orang-orang lebih berani ngomong jujur. Ide-ide yang biasanya tenggelam di rapat formal malah muncul ke permukaan.

Ini bukan kebetulan. Third place yang baik memang punya efek itu ngilangin hierarki sosial yang nggak perlu, bikin semua orang ngerasa setara. Dan Taman Lingkar Lokananta Solo melakukan itu tanpa harus usaha ekstra.

Sineloka di Aula Timur: Nonton Film Bareng Orang yang Emang Mau Ada di Sana

Salah satu event rutin di Lokananta Solo adalah Sineloka pemutaran film yang diadakan di Aula Timur, bagian langsung dari bangunan bersejarah Lokananta itu sendiri.

Pertama kali gue ikut, yang paling berasa bukan filmnya tapi siapa yang ada di ruangan itu.

Orang-orang yang datang ke Sineloka bukan yang kebetulan lewat. Mereka datang karena emang mau. Dan itu menciptakan sesuatu yang jarang banget lo rasain di ruang publik modern: rasa kebersamaan yang nggak dipaksakan.

Di dalam Aula Timur Lokananta Solo, dengan dinding-dinding yang menyimpan sejarah musik Indonesia, menonton film terasa seperti lebih dari sekadar hiburan. Ini adalah momen komunitas. Dan momen komunitas itulah inti dari *third place* yang sesungguhnya.

Kenapa Lokananta Solo Berhasil Jadi Third Place

Banyak tempat yang *mencoba* jadi ruang publik yang inklusif tapi gagal karena satu hal: mereka terlalu berusaha.

Lokananta Solo tidak seperti itu. Tempat ini berhasil karena punya sesuatu yang nggak bisa dibuat-buat lapisan sejarah yang genuine. Lo nongkrong di tempat yang sama di mana musik-musik paling ikonik Indonesia pernah direkam. Dan energi itu, entah lo sadar atau nggak, ikut ngebentuk cara lo ngerasa saat berada di sana.

Ditambah desainnya yang terbuka, program-programnya yang beragam, dan atmosfernya yang nggak judgmental Lokananta Solo jadi tempat di mana berbagai jenis orang bisa ada secara bersamaan tanpa merasa out of place.

Mau lo anak seni, mahasiswa ormawa, pecinta musik, atau orang yang literally cuma mau duduk lo tetap belong di sini.

Solo Butuh Lebih Banyak Lokananta

Di tengah kota yang terus berkembang, ruang publik yang benar-benar *milik semua orang* makin langka. Kafe makin mahal. Mal makin penuh tekanan konsumsi. Taman kota sering kali kurang terawat.

Lokananta Solo menjawab kekosongan itu bukan dengan sempurna, tapi dengan cara yang terasa genuine. Dan itu, buat gue, jauh lebih berharga.

Kalau lo orang Solo atau lagi mampir ke kota ini, pergilah ke Lokananta Solo. Bukan buat foto. Bukan buat checklist destinasi wisata.

Pergi ke sana untuk tinggal sebentar dan rasain sendiri bedanya.