PEDAL JUARA Ajak Anak SMP Adisa Ubah Tutup Botol Bekas Jadi Karya Bernilai
Tulisan dari Muhammad Wafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belajar daur ulang lewat kerajinan bahan limbah.

Bekasi (24/07/2026) — Bagi peserta didik SMP Adisa, Bantargebang, Bekasi, botol bekas bukan benda yang asing. Lingkungan tempat mereka tinggal dan belajar dekat dengan aktivitas pengumpulan dan pemilahan barang bekas yang dilakukan para pemulung. Melalui PEDAL JUARA, mereka mencoba melihat botol bekas dari sisi yang berbeda.
Alih-alih membiarkannya menjadi limbah, peserta mengumpulkan tutup botol plastik dari pengumpul di depan sekolah. Benda tersebut kemudian diolah menjadi gantungan kunci melalui kegiatan daur ulang dan kerajinan bahan limbah.
Proses sederhana itu membawa pengalaman baru bagi peserta. Mereka tidak hanya membuat sebuah kerajinan, tetapi juga melihat bagaimana bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi produk yang memiliki fungsi.
Bahan yang digunakan pun berasal dari lingkungan yang dekat dengan keseharian mereka. Aktivitas pemulung dalam mengumpulkan dan memilah barang bekas yang sebelumnya hanya mereka lihat kini menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Melalui kegiatan tersebut, peserta mulai memahami bahwa botol bekas dan barang limbah lainnya masih dapat dimanfaatkan. Dengan kreativitas dan proses pengolahan yang tepat, barang yang dianggap sampah dapat memiliki bentuk dan kegunaan baru.
Ketika gantungan kunci selesai dibuat, muncul rasa bangga dari hasil karya yang mereka kerjakan sendiri. Terlebih ketika karya tersebut mendapat perhatian dan apresiasi dari orang lain.
Bagi peserta didik SMP Adisa, pengalaman tersebut membuat pembelajaran tentang lingkungan terasa lebih dekat. Mereka tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai daur ulang, tetapi langsung mengolah bahan limbah menjadi sebuah produk.
Kegiatan ini merupakan bagian dari PEDAL JUARA yang dilaksanakan mahasiswa IPB University di SMP Adisa. Selain mengenalkan pemanfaatan limbah, kegiatan tersebut memberikan pengalaman kewirausahaan sederhana kepada peserta.
Mereka belajar bahwa membuat produk hanyalah bagian awal. Sebuah karya juga dapat memiliki nilai ketika mampu digunakan, ditawarkan, dan mendapat apresiasi dari orang lain.
Dari sebuah botol bekas, peserta menemukan pengalaman yang lebih besar dari sekadar membuat gantungan kunci. Mereka belajar melihat limbah sebagai bahan yang masih memiliki peluang untuk diolah menjadi karya, sekaligus menemukan bahwa sesuatu yang sederhana dari lingkungan sekitar dapat menjadi sumber kreativitas dan kebanggaan.

