Representasi Diskriminasi terhadap Umat Islam Pada Film My Name Is Khan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan. seseorang yang ingin belajar dunia penulisan
Konten dari Pengguna
8 Januari 2021 13:24
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari muhamadyusril tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
sumber : google.com
zoom-in-whitePerbesar
sumber : google.com
ADVERTISEMENT
Kita sama kita setara, kalimat yang sering didengar dalam kehidupan. Memilih jalan sendiri tanpa harus dibatasi oleh identitas yang melekat pada diri. Apa yang terjadi jika semua hal tersebut hanya sebuah harapan. Atau hanya sebuah bayangan belakang. Begitulah perjuangan Rizwan Khan dalam Film My Name Is Khan (2010). Digambarkan Harmonis tapi miris, ditambah lagi menceritakan sebuah realita yang berjalan begitu tragis.
ADVERTISEMENT
Faktanya, permainan menyalahkan atau mempermalukan dilingkungan publik ini telah menjadi popular, dalam kalangan tertentu ini bahkan dipandang sebagai sesuatu yang “keren”. Menyebarkan ketidak adilan kepada publik memanen perhatian dan emosi yang jauh lebih banyak dan menarik ketimbang sebagian besar peristiwa lain di media social, serta mampu memberikan imbalan berupa perhatian dan simpati yang berlimpah ruah, kepada orang-orang yang mampu secara terus menerus merasa menjadi korban.
Orang lain terkadang menuntut kita untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Mengejar bahagia menjadi standar orang lain justru hanya akan melewatkan momen-momen bahagia kita.
Hidup kita memang sederhana, jauh dari standar mereka. Tidak bisa memiliki apa yang mereka punya, tapi kebahagiaan itu akan selalu ada. Jika hati kita mau terbuka dan menerima apa yang telah menjadi milik kita saat ini. Sungguh bahagia ada di setiap hati, tapi kadang hati kita yang sulit menerimanya.
ADVERTISEMENT
Hidup ini adalah ujian. Bahagia itu adalah pilihan. Bisa menerima kekurangan dan mensyukuri apa yang ada adalah jalan menuju bahagia. jika kesempurnaan adalah kebahagiaan. Maka pastilah bahagia itu hanyalah milik sebagian orang, jika kebahagiaan dijadikan kesempurnaan hidup maka pastilah semua orang akan bisa merasakan indahnya bahagia. apa yang menurut orang lain baik belum tentu baik untuk diri kita dan apa yang menurut kita baik belum tentu menurutnya.
Bahagiaku bukan versi mereka, sempurna. Jabatan tinggi, harta, popularitas, cantik, anggun, terhormat, dan dikagumi banyak orang karena bahagiaku tidak bersumber dari itu. Mungkin saja hal itu menjadi kebahagiaan bagi mereka. Namun, keterpurukan bagiku, karenanya bahagiaku bukanlah standar bagi mereka.
Membebani diri dengan mindset yang bukan tipe hanya akan melumpuhkan rasa bahagia. Dengan mengejar kesempurnaan di mata manusia secara tidak langsung mengakhiri diri sendiri, padahal sejatinya bukan kesempurnaan yang membuat bahagia tetapi kebahagiaan yang membuat kita terasa sempurna.
ADVERTISEMENT
Mungkin bahagia menurut sebagian orang adalah ketika memiliki segalanya, kesempurnaan materi, tetapi bagi orang-orang tertentu karena kebahagiaan terlalu sempit jika hanya memaknainya dengan materi. Semakin dalam kita mencari keindahan materi maka akan terasa semakin sempit, lupa bersyukur. Hinga akhirnya hidup hanya kita akan disibukkan dengan mencari kebahagiaan dunia padahal menyatakan kebahagiaan itu ada di dalam hati.
Hidup itu tidak harus sesuai standar orang lain. Bahagia kita tidak harus sesuai tipe orang lain, tapi merujuk pada penerimaan hati kita karena jika mengikuti standar atau versi mereka, maka sampai kapan pun kita tidak akan pernah merasakan bahagia, yang ada hanyalah mengeluh dan terus mengeluh.
Hati yang sulit menerima ketentuannya akan selalu merasa cemas, gelisah, takut, dan hilang kepercayaan diri. Sedangkan keiklasan hati akan menjadi energi positif yang akan bersinergi dengan rasa syukur hingga menciptakan bahagia. Bukan berarti kita tidak memiliki misi kehidupan, tetapi berjalanlah sesuai dengan kenyataan bukan pernyataan orang lain karena setiap manusia menentukan target dan pola masing-masing. Permasalahan ini pun semakin bisa di rasakan oleh Rizwan Khan dalam film My Name Is Khan (2010).
ADVERTISEMENT
Film bermulai saat seorang anak yang Bersama Rizwan Khan adalah seorang muslim yang menderita Aspergers’s Syndrome (Spektrum Autis). Rizwan Khan hidup bersama ibu dan adiknya, Zakir. Kelainan yang diamami Rizwan membuatnya sulit berinteraksi dengan kebanyakan orang. Saat ibunya telah meninggal, Rizwan memutuskan untuk pindah ke AS, di Fransisco. Dia tinggal Bersama Zakir, lalu atas bantuan adiknya Rizwan bekerja sebagai pramuniaga atau sales produk kecantikan yang terbuat dari herbal. Semua tampak berjalan dengan lancar. Zakir, dan istrinya Hasena adalah seorang psikolog muslim. Mereka tampak hidup rukun dan bahagia.
Ketika sedang menawarkan produk kecantikan yang dijualnya, Rizwan bertemu dan berkenalan dengan seorang perawat kecantikan. Mandalira menjalankan kehidupan sebagai seorang janda dengan satu anak laki-lakinya Samer alias Sam. Rizwan dan mandira telah menjalin hubungan, lalu mereka memutuskan untuk menikah, meskipun mendapat tantangan dari kedua belah pihak keluarga karena beda Agama. Mereka akhirnya menikah dan menetap di Fransisco, dimana mereka membuat salon kecantikan kecil. Mandira dan Samer menambahkan Khan dibelakang nama mereka. Keluarga kecil ini sangat akrab dengan tetangganya, Mark dia seorang wartawan, dan Sarah istrinya. Mereka memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Resse, yang menjadi teman baik Sam.
ADVERTISEMENT
Ketika terjadi peristiwa 11 September. Penduduk Muslim AS mengalami diskriminasi, toko dirusak, rumah dilempar batu, dan mereka mengalami penyerangan-penyerangan. Tidak sedikit dari penganut Sikh (India) yang menggunakan serban di kepala turut menjadi korban, karena mereka disangka orang Afganistan Muslim. Nasib Hasena justru lebih parah, karena dia dikeroyok sejumlah laki-laki di jalan. Hanya karena dia menggunakan jilbab.
Mark, tetangga mereka yang seorang wartawan, ditugaskan untuk meliput perang yang sedang terjadi di Afganistan, dan ia terbunuh disana. Sejak itulah anaknya Resse, teman akrab Samer menjadi berubah, dia memusuhi Samer. Yang menjadi penyebab utama adalah karena ada Khan dibelakang namanya. Lalu Resse menganggap Samer sebagai orang Afganistan. Orang lainpun turut memusuhi Samer Kahn.
ADVERTISEMENT
Nasib paling parah yang dialami oleh Samer. Bermula diawali pertengkaran dengan Resse. lalu samer dikroyok oleh sejumlah remaja bule hanya karena kulit hitam. Sebenarnya Resse telah mencoba menyelamatkan Samer, namun ia tidak berhasil. Samer akhirnya sekarat dan dia sempat dibawa kerumah sakit namun Tuhan berkendak lain, nyawa Samer tidak dapat tertolong lagi dan akhirnya Samer meninggal dunia.
Rizwan sangat sedih karena ia akrab dengan putra tirinya. Namun yang paling terguncang adalah istrinya, Mandira ia menganggap bahwa bencana yang telah menimpa mereka itu karena ada nama Khan di belakang namanya dan Samer. Rizwan yang dianggap sebagai bencana bagi Samer dan dirinya telah diusir dari rumah. Lalu ia memerintahkan kepada Rizwan agar mengatakan kepada seluruh warga AS dan juga kepada presiden “bahwa dia bernama Khan, dan saya bukan teroris”
ADVERTISEMENT
Rizwan pun dengan penuh iklas melakukan semua yang diperintahkan oleh Mandira. Ia mengembara seorang diri, dalam pengembaranya, ia sempat menghadiri acara terbuka yang dihadiri Presiden George W. Bush. Lalu ia berusaha mendekati Presiden AS tersebut sambil berteriak “My name is Khan and I am not a Terorist” belum sempat teriakannya didengar oleh Presiden, ia sudah ditangkap oleh pengawal Presiden karena ia dicurigai sebagai teroris. Apa yang dialaminya sungguh menyakitkan dan menyayat hatinya, belum selesai masalah yang ia hadapi tetapi ia mendapat masalah baru yang pada akhirnya ia dihukum dengan dimasukkan ke dalam ruang dengan suhu yang panas dan dingin. Berbagai siksaan yang dialaminya harus ia terima. Akhirnya, ia pun dibebaskan karena tidak terbukti sebagai teroris. itu semua berkat dukungan dan bantuan tiga wartawan asal India yang menolongnya, Raj, Komal, dan Bobby Ahuja, yang membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Dengan menggali bukti yang mereka dapatkan, uapaya untuk menginformasikan FBI tentang Dr. Fairsal Rahman. Setelah dibebaskan, ia kembali ke Wilhemina untuk membantuk Mama Jenny dan Putranya yang terkena musibah badai Molly. Ternyata, upaya yang ia lakukan menarik perhatian warga AS.
ADVERTISEMENT
Lalu nama Rizwan kemudian melambung menjadi pahlawan, karena banyak stasiun televisi menyorotinya. Karena, ia menolong sebuah penduduk desa yan dimana mayoritas berkulit hitam. Berhari-hari mereka tidak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Melalui peristiwa ini Presiden Bush mendapat kecaman keras dari masyarakat berkulit hitam AS. Setelah ramai berita yang ditayangkan televisi, barulah bantuan sosial itu datang, yang lebih mengejutkan lagi mereka mendapat bantuan dari orang-orang Muslim yang telah dikoordinasi oleh Hasena dan suaminya.
Saat berada ditempat pengungsian korban banjir, Rizwan didatangi oleh sesama Muslim yang tidak sepaham dengannya, disana Rizwan pun diserang, mereka menganggap bahwa tindakan Rizwan membantu korban banjir telah merusak perjuangan umat Islam dalam melawan AS. Setelah melewati masa perawatan Rizwan selamat dan impiannya bertemu presiden AS terwujud pada masa pemerintahan Obama.
ADVERTISEMENT
Keyakinan dan perinsip dalam film my name is Khan menjadikan bukti bahwa masyarakat menyimpulkan perbuatan satu orang berdampak pada semua khalangan seperti tragedi Wartawan terbunuh di Afganistan yang dimana belum tentu yang membunuh umat Islam itu sendiri. Diskriminasi pada film ini membuat kita sadar akan perbedaan dinilai dari segi agama dan warna kulit serta kekurangan yang dialami oleh Rizwan Khan yang selalu ditindas dengan pandangan merendahkan.
Jika berbicara masalah diskriminasi, sebagai mana yang dikemukakan oleh Amelia. L.E Diskriminasi Rasial Terhadap Minoritas Muslim Uighur China Di Tinjau Dari Hukum Islma (2018) adanya diskriminasi menunjukan bahwa manusia itu dibedakan lantaran dari segi luarnya saja. Manusia kurang dihargai sebagai manusia, tetapi lebih dipandang dan dinilai dari fisik. Perbedaan warna kulit hitam, putih, kuning, atau warna lain telah banyak menjadikan sebab perpecahan, permusuhan dan bahkan perang. Sulit untuk menerima adanya diskriminasi berdasarkan ras atau warna kulit. Ras dan warna kulit manusia tidaklah dapat menjadi ukuran tunggal. Manusia hendaknya dinilai dari segi martabatnya. Manusia sungguh-sungguh sebagai manusia, justru karena martabatnya itu, harga diri dan martabat itu melekat pada diri manusia dan tidak dapat dipisahkan lantaran adanya perbedaan warna kulit dan ras tertentu. Itulah landasan HAk Asasi Manusi (HAM).
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020