Konten dari Pengguna

Sade Terbakar, Apa yang Harus Kita Selamatkan?

Rizal Amwa

Rizal Amwa

Pustakawan di Salah satu Perguruan Tinggi

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizal Amwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Desa Adat Sade dan warisan pengetahuan yang terancam oleh bencana. Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Desa Adat Sade dan warisan pengetahuan yang terancam oleh bencana. Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi

Kebakaran melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Api menghanguskan rumah adat dan harta benda warga. Puluhan keluarga terdampak dan sejumlah rumah mengalami kerusakan berat. Di tengah kerugian tersebut, ada kehilangan lain yang tidak mudah dihitung. Sejumlah naskah lontar kuno yang diwariskan secara turun-temurun ikut terbakar.

Perhatian publik tentu tertuju pada warga yang kehilangan tempat tinggal, kerugian materi, dan upaya membangun kembali kawasan yang terdampak. Semua itu penting. Namun, kebakaran Sade juga menyisakan pertanyaan yang lebih jauh: apa yang terjadi pada pengetahuan ketika ruang tempat pengetahuan itu hidup ikut terbakar?

Pertanyaan ini tidak hanya untuk Sade. Justru dari Sade kita perlu berkaca.

Sade bukan sekadar kawasan rumah tradisional yang dikenal sebagai tujuan wisata. Ia merupakan ruang hidup masyarakat Sasak. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang membangun rumah, menenun, menjalankan tradisi, menjaga hubungan sosial, dan mewariskan cerita keluarga. Pengetahuan tersebut tidak seluruhnya tersimpan dalam dokumen. Sebagiannya hidup dalam ingatan dan keterampilan orang-orang yang menjalaninya.

Seorang penenun, misalnya, tidak hanya mengetahui cara membuat kain. Ia memahami bahan, teknik, motif, serta makna yang menyertainya. Demikian pula orang yang memahami rumah adat. Ia tidak sekadar mengetahui bentuk bangunan, tetapi juga cara membangun, merawat, dan menggunakan setiap ruang sesuai dengan pengetahuan yang diwariskan kepadanya.

Pengetahuan semacam ini sering luput dari perhatian karena tidak selalu memiliki bentuk yang dapat disimpan di lemari atau perpustakaan. Padahal, ketika orang yang menguasainya meninggal, atau ketika benda dan ruang yang menjadi bagian dari proses pewarisannya musnah, sebagian pengetahuan itu dapat ikut hilang.

Naskah lontar yang terbakar di Sade memperlihatkan persoalan tersebut secara nyata. Yang hilang bukan hanya lembaran lontar sebagai benda. Di dalamnya terdapat jejak cerita dan pengetahuan yang membantu generasi sekarang memahami kehidupan masyarakat pada masa lalu. Ketika sumber semacam itu rusak, kesempatan untuk mempelajarinya dalam bentuk aslinya juga semakin terbatas.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada naskah.

Di banyak komunitas adat, pengetahuan masih diwariskan melalui cerita lisan, keterampilan, ritual, kerajinan, arsitektur, bahasa, dan benda budaya. Sebagian mungkin sudah terdokumentasi. Sebagian lainnya masih bergantung pada orang-orang tertentu. Selama pengetahuan tersebut belum dicatat dengan baik dan belum memiliki cara pewarisan yang kuat, bencana dapat memutus mata rantai yang terbentuk selama beberapa generasi.

Karena itu, penyelamatan pengetahuan tidak seharusnya menunggu bencana.

Sade semestinya menjadi cermin bagi komunitas adat lainnya. Kita perlu mulai bertanya: pengetahuan apa yang dimiliki suatu komunitas? Siapa yang masih menguasainya? Di mana sumbernya berada? Bagaimana pengetahuan itu diwariskan? Dan jika sumber aslinya rusak atau hilang, apakah masih ada jejak yang dapat dipelajari kembali?

Teknologi dapat membantu menjawab sebagian persoalan tersebut. Sejarah lisan dapat direkam melalui audio dan video. Pengetahuan tentang arsitektur tradisional dapat dipetakan dan didokumentasikan. Proses menenun dan membuat kerajinan dapat direkam, bukan hanya hasil akhirnya. Naskah yang masih tersisa dapat dipindai dan dikaji. Cerita, istilah lokal, motif, dan praktik adat dapat dicatat bersama konteksnya.

Dengan cara ini, dokumentasi tidak berhenti pada pengambilan gambar. Sebuah foto rumah, misalnya, dapat disertai informasi tentang siapa yang membangunnya, bagaimana ruang tersebut digunakan, mengapa bentuknya dipertahankan, dan cerita apa yang melekat padanya. Informasi itu membuat dokumentasi tetap bermakna meskipun bentuk fisiknya suatu saat tidak lagi utuh.

Namun, ada batas yang perlu dijaga. Tidak semua pengetahuan adat harus dibuka kepada publik.

Sebagian pengetahuan mungkin bersifat sakral, terbatas, atau memiliki nilai komunal. Karena itu, masyarakat adat harus dilibatkan dalam menentukan apa yang boleh direkam, apa yang dapat diakses, dan bagaimana informasi tersebut digunakan. Teknologi semestinya membantu masyarakat menjaga pengetahuannya, bukan mengambil alih kendali atas pengetahuan tersebut.

Pemerintah, perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, dan lembaga kearsipan dapat membantu menyediakan metode, tenaga, perangkat, dan sistem penyimpanan. Dokumentasi juga perlu memiliki salinan cadangan dan ditempatkan pada media atau lokasi yang aman. Yang paling penting, seluruh proses tersebut dilakukan bersama masyarakat yang menjadi pemilik dan pewaris pengetahuan.

Pelajaran dari Sade juga perlu mengubah cara kita memandang pemulihan pascabencana. Selama ini, pemulihan lebih mudah dilihat dari kerusakan yang tampak: rumah yang harus dibangun, fasilitas yang perlu diperbaiki, dan bantuan yang harus disalurkan. Semua itu memang diperlukan. Namun, bagi komunitas yang memiliki warisan pengetahuan yang kuat, pemulihan tidak cukup hanya mengembalikan bangunan.

Pengetahuan juga membutuhkan rencana penyelamatan.

Setiap komunitas adat perlu mengetahui pengetahuan penting yang mereka miliki, siapa yang menguasainya, bagaimana pengetahuan tersebut diwariskan, dan apa yang harus dilakukan jika bencana terjadi. Dokumentasi dengan demikian bukan sekadar kegiatan mencatat. Ia menjadi bagian dari kesiapsiagaan.

Kita tidak pernah tahu kapan kebakaran, banjir, gempa, atau bencana lain akan datang. Yang dapat kita lakukan adalah mengurangi risiko kehilangan. Pengetahuan penting tidak semestinya hanya bergantung pada satu rumah, satu naskah, atau satu orang.

Sade sudah memberi kita sebuah peringatan. Kita tidak perlu menunggu kejadian serupa menimpa komunitas lain untuk mulai bertindak.

Ketika pembangunan kembali Sade dimulai, perhatian kita seharusnya tidak berhenti pada mendirikan kembali rumah yang terbakar. Pengetahuan yang masih tersisa juga perlu dicatat, dijaga, dan diwariskan.

Sade bukan hanya tempat yang perlu dipulihkan. Sade adalah cermin. Dari sana kita dapat melihat betapa banyak pengetahuan adat di tempat lain yang mungkin masih menunggu untuk diselamatkan.