Hujan di Perantauan: Rindu yang Turun Bersama Doa

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Zaidan Mufadhdhal Alyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siang ini hujan turun lagi di kota perantauan. Bukan hujan deras yang memaksa orang berteduh, hanya gerimis kecil yang cukup untuk membuat jendela kamar kosku basah. Tapi entah mengapa, setiap kali hujan turun, ada sesuatu yang terasa pulang, meski tubuhku masih di sini, jauh dari rumah.
Sudah beberapa bulan aku tidak pulang ke kampung halaman. Di tengah kesibukan kuliah, organisasi, dan hidup yang harus terus dilanjutkan, rindu pada suara ibu dari dapur, wangi tanah sawah selepas hujan, atau sekadar tawa ringan adik-adik di halaman rumah, sering datang diam-diam, seperti rintik ini tenang, tapi menghunjam.
Hujan yang Tidak Pernah Memilih di Mana Ia Jatuh
Sebagai perantau, aku belajar banyak dari hujan. Ia tak pernah bertanya apakah tempat yang ia datangi akan menyambutnya hangat atau malah mengutuknya karena banjir. Ia tak pernah menunda turunnya meski tahu ia akan jatuh di aspal kotor atau tanah becek. Hujan selalu hadir dengan tulus.
Begitu pula aku di tanah rantau ini, tak selalu disambut baik, tak selalu mendapatkan tempat. Tapi aku tetap belajar datang, belajar bertahan, belajar memberi makna bahkan di tempat yang terasa asing. Karena seperti hujan, aku juga sedang belajar menjadi dewasa, yakni selalu memberi meski tak selalu dihargai.
Doa yang Diam-Diam Tumbuh di Dalam Rindu
Dulu, setiap kali hujan turun di rumah, ibu selalu berkata, “Kalau berdoa saat hujan, insya Allah dikabulkan.” Mungkin itu sebabnya, sampai sekarang aku selalu spontan berdoa saat hujan datang. Tapi makin ke sini, aku sadar bahwa doa tak selalu langsung terlihat hasilnya. Sama seperti hujan yang butuh waktu untuk menumbuhkan sebuah benih untuk menghasilkan sesuatu yang besar.
Terkadang aku berdoa agar bisa cepat pulang, agar diberi semangat saat lelah mengejar deadline tugas, agar bisa melewati hari-hari tanpa harus merasa sendirian di kota ini. Dan meski jawabannya belum datang, aku percaya bahwa hujan akan menyuburkan bumi secara perlahan, doa juga sedang menyuburkan hatiku dari dalam dengan kesabaran, kekuatan, dan rasa cukup.
Melankoli yang Tidak Selalu Buruk
Tak bisa dipungkiri, suasana hujan di perantauan seringkali membawa rasa melankolis. Tapi aku belajar menerimanya bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai ruang untuk berkembang. Hujan membuatku berhenti sejenak dari scroll-scroll yang tak jelas arahnya, dari tugas-tugas yang tak kunjung selesai, dan dari rutinitas yang kadang terasa kosong.
Saat hujan datang, aku biasanya diam di kamar, menatap jendela, membayangkan suasana rumah. Mungkin ini cara semesta mengajakku untuk tidak lupa, meski sibuk mengejar mimpi, tapi ada hati yang harus terus dijaga.
Langit yang Menunduk, Seperti Kita yang Belajar Tunduk pada Takdir
Hujan itu dari langit, tapi ia rela turun untuk memberi kehidupan. Ia tak sombong dan tak pilih kasih. Ia menyentuh genteng kosan yang bocor, trotoar yang retak, hingga pot kecil tempat aku menanam daun bawang seadanya. Tapi justru dari kerendahannya itu, hujan memberi arti.
Sebagai mahasiswa perantauan, aku belajar bahwa menjadi tinggi tidak berarti harus selalu di atas. Kadang, justru saat kita menunduk, mengakui lelah, menerima kekurangan, dan tetap berbuat baik. Maka disanalah kemanusiaan kita akan hidup.
Hujan dan Kerinduan yang Mengingatkan Pulang
Kini, setiap kali hujan datang, aku tak buru-buru menutup jendela. Tak langsung kesal karena cucian belum kering atau jalanan jadi licin. Aku biarkan rintik itu masuk, membasahi sedikit lantai, mengusik sedikit rasa.
Karena aku percaya bahwa dalam setiap tetesnya, ada doa yang datang dari langit. Doa yang tidak menuntut untuk segera dijawab. Doa yang mungkin tak terlihat hari ini, tapi suatu saat, akan tumbuh menjadi sesuatu yang tak pernah kuduga.
Mungkin seperti rinduku pada rumah yang kupendam diam-diam, tapi ia diam-diam pula menguatkanku untuk terus melangkah.
Penutup: Hujan, Doa, dan Perjalanan Seorang Perantau
Hidup sebagai perantau seperti menanti hujan di tanah yang asing. Kadang terasa sejuk, kadang menyiksa. Tapi selama kita yakin bahwa semua yang turun dari langit bukanlah kebetulan, maka tak ada rintik yang sia-sia. Tak ada perjuangan yang sia-sia. Tak ada doa yang sia-sia.
Karena seperti hujan, doa bekerja dalam diam. Dan seperti rindu, ia tak perlu selalu disampaikan untuk tetap terasa nyata.
