Ketika Generasi Z Menjauh dari Politik: Apatis atau Bentuk Perlawanan Baru?

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad zidane secario artha guna Zidane tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Generasi muda masa kini terlihat acuh tak acuh terhadap politik. ” Kalimat ini sering kali disampaikan dalam sejumlah perbincangan umum. Generasi Z sering dinilai tidak peduli dengan hal-hal politik dan lebih terfokus pada media sosial, tren digital, atau kehidupan online mereka. Politika dinilai kini tak lagi menjadi hal yang menarik bagi kaum muda. Namun, apakah benar Generasi Z tidak peduli dengan politik, atau kah kita yang kurang memahami cara mereka terlibat dalam politik?
Pernyataan bahwa generasi muda tidak peduli terhadap politik sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sepanjang sejarah, generasi muda sering kali diberi label yang serupa oleh generasi sebelumnya. Mereka kerap dianggap kurang memperhatikan kehidupan kenegaraan, terlalu terikat pada gaya hidup, atau tidak tertarik pada proses politik yang formal. Namun, situasi yang dihadapi oleh Generasi Z sekarang berbeda dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Mereka tumbuh pada zaman digital yang memungkinkan aliran informasi mengalir lebih cepat, luas, dan lebih mudah diakses.
Melalui internet dan platform media sosial, Generasi Z dapat dengan mudah menjangkau berbagai informasi politik global. Berita mengenai politik, debat publik, hingga isu-isu kebijakan dapat mereka saksikan setiap hari di layar ponsel mereka. Keadaan ini menunjukkan bahwa generasi muda sebenarnya tidak terasing dari politik. Sebaliknya, mereka hidup di tengah lautan informasi politik yang terus menerus hadir dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Namun, kedekatan dengan informasi tersebut juga membawa beberapa dampak. Banyak anak muda yang menjadi lebih kritis terhadap praktik politik yang ada. Berbagai konflik antar tokoh politik, polemik terkait kebijakan publik, hingga janji-janji politik yang sering kali tidak terealisasi menambah kesan bahwa politik adalah medan yang dipenuhi dengan kepentingan. Dalam banyak situasi, politik dipersepsikan sebagai arena yang dikuasai oleh elit dan sukar diakses oleh masyarakat umum.
Kondisi ini membuat sebagian dari generasi muda menyikapi politik dengan skeptisisme. Bagi mereka, politik tidak selalu dianggap sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat, melainkan sering kali dilihat sebagai arena perebutan kekuasaan. Ketika kepercayaan terhadap institusi politik menurun, banyak anak muda yang memilih untuk menjauh dari politik formal.
Namun, menjaga jarak dari politik formal tidak selalu berarti kurang peduli terhadap aspek publik. Generasi Z tetap menunjukkan perhatian terhadap berbagai masalah sosial dan politik yang ada di masyarakat. Masalah-masalah seperti keadilan sosial, lingkungan, kesetaraan, dan kebijakan publik sering menjadi topik hangat dalam diskusi di kalangan mereka.
Perbedaannya terletak pada cara mereka mengungkapkan kepedulian tersebut. Jika generasi sebelumnya lebih banyak terlibat dalam organisasi politik atau partai politik, Generasi Z lebih aktif menyuarakan pendapat mereka melalui media sosial. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) berfungsi sebagai tempat baru bagi anak-anak muda untuk berdiskusi, memberikan kritik terhadap kebijakan, serta meningkatkan kesadaran terhadap berbagai isu publik.
Media sosial memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk menyampaikan pandangan mereka secara langsung kepada publik tanpa perlu melewati struktur politik yang resmi. Dalam banyak situasi, diskusi politik yang terjadi di dunia digital bahkan mampu memengaruhi opini publik secara luas. Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang politik kini tidak hanya terbatas di lembaga formal, tetapi juga berkembang di ranah digital.
Perubahan dalam cara berpartisipasi ini juga terlihat di banyak negara lain. Di Amerika Serikat, contohnya, banyak gerakan sosial yang dipimpin oleh anak muda dengan bantuan media digital. Gerakan seperti Black Lives Matter menunjukkan bagaimana generasi muda menggunakan teknologi untuk mengangkat isu keadilan sosial dan menggalang dukungan dari masyarakat secara luas. Hal serupa juga dapat diamati di berbagai negara di mana kaum muda memainkan peranan penting dalam meningkatkan kesadaran politik melalui platform digital.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan dalam partisipasi politik oleh generasi muda adalah bagian dari transformasi yang lebih besar dalam praktik demokrasi secara global. Generasi Z tidak sepenuhnya menjauh dari politik, namun mereka mengubah cara mereka berinteraksi dengan politik. Bagi mereka, politik tidak selalu harus berlangsung di tempat-tempat formal seperti partai politik atau lembaga pemerintah.
Di Indonesia, potensi politik dari Generasi Z sebenarnya sangat besar. Jumlah pemilih dari kalangan muda terus meningkat di setiap pemilu, menjadikan mereka salah satu kelompok pemilih yang paling berpengaruh dalam proses demokrasi. Kaum muda memiliki kemampuan untuk mempengaruhi keputusan publik dan masa depan demokrasi di Indonesia.
Namun, potensi tersebut hanya dapat berkembang jika ruang politik bisa beradaptasi dengan perubahan zaman. Politik tidak bisa lagi dipahami hanya dengan cara-cara lama. Jika institusi politik tetap eksklusif dan sulit dijangkau, maka jarak antara generasi muda dan politik formal bisa semakin melebar.
Sebaliknya, jika ruang politik bisa membuka partisipasi yang lebih inklusif, transparan, dan merespons aspirasi masyarakat, generasi muda justru bisa menjadi kekuatan penting dalam memperkuat demokrasi. Generasi Z memiliki semangat, kreativitas, serta kemampuan menggunakan teknologi yang dapat membawa perubahan baru dalam dunia politik.
Pada akhirnya, label apatis yang sering disematkan pada Generasi Z mungkin perlu ditinjau kembali. Generasi ini mungkin terlihat menjauh dari politik formal, tetapi bukan berarti mereka tidak peduli mengenai masa depan komunitas. Justru melalui cara-cara baru—terutama melalui ruang digital—Generasi Z tengah membentuk bentuk partisipasi politik yang berbeda.
Dengan kata lain, yang berubah bukanlah kepedulian generasi muda terhadap politik, melainkan cara mereka memahami dan terlibat dalam politik itu sendiri. Generasi Z mungkin tidak selalu muncul dalam ranah politik tradisional, namun suara mereka tetap memiliki potensi besar dalam menentukan arah demokrasi di masa mendatang.
