Kemiskinan dan Eksploitasi Emosi Anak: Kasus Galang dalam Bingkai Teori Framing

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Zikrillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah video pendek yang menampilkan tangisan seorang bocah laki-laki bernama Galang Rawadhan, 12 tahun, warga Desa Sansarino, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, viral di media sosial. Dalam video tersebut, Galang tampak menangis tersedu, menyatakan bahwa ia tidak bisa lagi bersekolah karena ayahnya lumpuh dan tak mampu membiayai pendidikannya. Ucapannya polos, tapi menyentuh, membuat warganet berbondong-bondong menyebarkan video itu dengan empati dan ajakan untuk membantu.
Respons datang cepat. Polisi dan aparat setempat mendatangi rumah Galang, memberikan bantuan sembako serta perlengkapan sekolah. Bahkan ada komitmen dari pihak kepolisian dan DPRD untuk menjamin biaya pendidikan Galang hingga lulus. Video itu berhasil membangkitkan simpati publik dan memicu gerakan kemanusiaan. Namun, beberapa hari kemudian, muncul fakta mengejutkan. Kepolisian mengungkap bahwa video tersebut direkayasa oleh sang ayah sendiri, Rikson Lawadang. Galang sebenarnya masih bersekolah seperti biasa. Video dibuat dengan tujuan menggugah simpati agar mendapat bantuan sosial. Yang lebih tragis, sejumlah bantuan yang diterima di masa lalu ternyata digunakan untuk bermain judi online, bukan untuk kebutuhan anak atau keluarga.
Kasus ini kemudian memunculkan pertanyaan mendasar yaitu bagaimana mungkin masyarakat bisa begitu mudah percaya?. Mengapa sebuah video sederhana, tanpa bukti pendukung, bisa langsung membentuk opini publik ?. Untuk menjawab itu, kita bisa menggunakan pendekatan dari Teori Framing dalam ilmu komunikasi. Teori ini menjelaskan bahwa realitas sosial tidak pernah ditampilkan secara utuh, melainkan selalu disaring dan dikemas dalam bingkai tertentu (frame). Frame adalah cara suatu isu atau peristiwa disajikan agar terlihat dengan sudut pandang tertentu, membentuk interpretasi publik, dan memengaruhi respons masyarakat.
Dalam kasus Galang, frame yang dibentuk adalah "anak miskin yang terancam putus sekolah karena kemiskinan dan sakitnya ayah". Visualisasi tangisan, narasi emosional, dan kesan kemiskinan menjadi elemen yang menonjol. Frame ini sangat efektif menyentuh empati publik dan itulah kekuatannya. Menurut Robert Entman, salah satu tokoh utama teori framing, proses ini melibatkan selecting some aspects of a perceived reality and making them more salient (memilih sebagian aspek realitas dan menonjolkannya agar terlihat penting). Dalam video Galang, aspek yang ditonjolkan adalah kesedihan dan ketidakberdayaan. Sementara fakta bahwa anak tersebut sebenarnya masih sekolah dan bahwa ayahnya pernah menyalahgunakan bantuan tidak dimunculkan sama sekali.
Inilah potret kekuatan framing. Bukan karena informasi dalam video itu sepenuhnya palsu, tetapi karena penyajiannya dibuat secara sepihak dan emosional. Realitas ditampilkan sebagian, agar membentuk narasi yang menggugah dan itu berhasil. Framing semacam ini sangat mudah menyebar di era media sosial, karena algoritma platform seperti TikTok, Instagram, atau Facebook cenderung memperkuat konten yang menyentuh emosi. Konten yang mengandung kesedihan, ketidakadilan, atau penderitaan lebih mudah viral karena orang terdorong untuk membagikannya tanpa sempat memverifikasi fakta.
Namun framing yang manipulatif seperti dalam kasus Galang bisa berdampak luas. Publik bisa kehilangan kepercayaan terhadap konten sosial yang benar-benar membutuhkan bantuan. Lebih jauh lagi, anak seperti Galang bisa jadi korban eksploitasi emosional, hanya untuk kepentingan ekonomi orang dewasa. Bahkan aparat bisa merasa dibohongi setelah mereka bersungguh-sungguh ingin membantu. Inilah mengapa literasi media menjadi sangat penting. Masyarakat harus diajarkan untuk tidak hanya melihat konten secara emosional, tetapi juga secara kritis dan kontekstual. Kita perlu mulai bertanya: Siapa yang menyampaikan informasi ini? Apa tujuannya? Apa yang ditampilkan, dan apa yang sengaja disembunyikan?
Teori framing bukanlah teori yang menyalahkan media sepenuhnya. Sebaliknya, ia memberi kita alat untuk memahami bahwa setiap pesan adalah konstruksi ada yang disorot, ada yang dikaburkan. Dan dalam dunia digital hari ini, di mana siapa pun bisa membuat narasi, kemampuan untuk mengenali framing menjadi bekal penting untuk tetap waras dan adil dalam menyikapi berbagai isu. Dalam kasus Galang, yang perlu dikritisi bukan hanya tindakan ayahnya, tetapi juga bagaimana kita sebagai masyarakat mudah terjebak dalam narasi yang dikemas apik. Kita perlu membangun sensitivitas terhadap cara media dan individu menyusun cerita. Bukan untuk bersikap sinis, tetapi untuk tetap rasional dalam memberi empati. Kisah Galang adalah cermin zaman. Di mana kebenaran bisa dibentuk, bukan hanya ditemukan. Di mana simpati bisa dipancing dengan cerita, bahkan jika ceritanya tidak sepenuhnya nyata.
