Konten dari Pengguna

#Kaburajadulu, Pelarian atau Bertahan hidup

MUHAMMAD ZULKIFLI
Dosen IAIN Palopo
14 Februari 2025 16:15 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari MUHAMMAD ZULKIFLI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi by AI; #KaburAjaDulu (Muklisul Amal)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi by AI; #KaburAjaDulu (Muklisul Amal)
ADVERTISEMENT
Frasa **“Kabur aja dulu”** kini semakin sering terdengar, terutama di kalangan anak muda Indonesia yang merasa frustasi dengan kondisi negara. Dari masalah ekonomi, politik, hingga kebebasan berekspresi, banyak yang mulai mempertanyakan: apakah tetap bertahan di Indonesia adalah pilihan terbaik, atau justru pergi ke luar negeri untuk mencari kehidupan yang lebih baik?
ADVERTISEMENT
Keinginan untuk pergi dari Indonesia bukanlah hal baru. Setiap tahun, ribuan orang memilih untuk merantau ke luar negeri demi pendidikan, karier, atau bahkan sekadar mencari kehidupan yang lebih stabil. Namun, yang membuat tren ini semakin viral adalah adanya perasaan kolektif bahwa bertahan di Indonesia terasa semakin sulit.
Salah satu alasan utama yang mendorong orang ingin “kabur” adalah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Gaji rendah, harga barang yang semakin mahal, dan sulitnya mencari pekerjaan dengan kesejahteraan yang layak membuat banyak orang merasa tidak bisa berkembang di negeri sendiri. Sementara di luar negeri, meskipun tantangan tetap ada, banyak yang melihat peluang untuk hidup lebih sejahtera.
Selain itu, faktor politik dan sosial juga memainkan peran besar. Ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, ketidakpastian hukum, serta maraknya diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Tidak sedikit yang merasa bahwa kebebasan berekspresi semakin terancam, sehingga memilih keluar dari Indonesia menjadi alternatif yang menarik.
ADVERTISEMENT
Fenomena ini juga terlihat dari meningkatnya jumlah pekerja migran dan digital nomad dari Indonesia. Dengan kemajuan teknologi, semakin banyak orang yang bisa bekerja dari mana saja, asalkan ada internet. Ini membuka peluang bagi mereka untuk tinggal di negara lain tanpa harus bergantung pada pekerjaan konvensional di Indonesia.
Namun, di sisi lain, ada yang mengkritik tren “kabur aja dulu” sebagai bentuk sikap tidak bertanggung jawab. Mereka yang tetap bertahan di Indonesia merasa bahwa perubahan harus diperjuangkan dari dalam, bukan dengan meninggalkan masalah begitu saja. Jika semua orang yang punya potensi memilih pergi, siapa yang akan membangun negeri ini?
Meski begitu, realita di lapangan menunjukkan bahwa bertahan di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Banyak yang sudah berusaha keras untuk sukses di dalam negeri, tetapi tetap terhambat oleh sistem yang tidak mendukung. Dari birokrasi yang rumit, aturan yang tidak jelas, hingga budaya nepotisme, sering kali jalan menuju kesuksesan terasa lebih sulit dibandingkan dengan mereka yang berkarier di luar negeri.
ADVERTISEMENT
Beberapa negara seperti Kanada, Australia, dan Jerman menjadi tujuan favorit bagi mereka yang ingin “kabur”. Negara-negara ini menawarkan sistem kerja yang lebih adil, kualitas hidup yang lebih tinggi, serta lingkungan yang lebih mendukung perkembangan individu. Bahkan, beberapa negara memiliki program khusus untuk menarik tenaga kerja asing yang berkualitas.
Namun, pergi ke luar negeri juga bukan tanpa tantangan. Biaya hidup yang tinggi, perbedaan budaya, serta sulitnya mendapatkan izin tinggal atau kewarganegaraan bisa menjadi hambatan besar. Banyak juga yang akhirnya menyadari bahwa hidup di luar negeri tidak seindah yang dibayangkan dan merindukan kenyamanan hidup di Indonesia.
Menariknya, ada juga yang memilih untuk “kabur sementara” dengan cara kuliah atau bekerja di luar negeri, lalu kembali ke Indonesia dengan pengalaman dan modal yang lebih besar. Strategi ini memungkinkan seseorang untuk berkembang di luar negeri, tetapi tetap bisa berkontribusi bagi Indonesia di masa depan.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, keputusan untuk “kabur aja dulu” adalah pilihan pribadi yang bergantung pada situasi dan tujuan masing-masing individu. Ada yang pergi karena ingin kehidupan yang lebih baik, ada juga yang bertahan karena masih memiliki harapan untuk perubahan di dalam negeri.
Yang jelas, tren ini menunjukkan bahwa banyak anak muda Indonesia yang tidak lagi pasrah dengan keadaan. Mereka lebih berani untuk mencari alternatif, bahkan jika itu berarti meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Lantas, apakah “kabur aja dulu” dari Indonesia adalah pilihan terbaik? Jawabannya bergantung pada bagaimana seseorang merencanakan langkah berikutnya. Jika pergi ke luar negeri bisa memberikan kehidupan yang lebih baik dan peluang yang lebih luas, maka itu adalah langkah cerdas. Namun, jika pergi hanya untuk melarikan diri tanpa rencana yang jelas, maka itu bisa menjadi awal dari tantangan baru yang tidak kalah berat.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, baik memilih untuk bertahan atau pergi, yang terpenting adalah bagaimana seseorang bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya sendiri dan, jika memungkinkan, bagi orang-orang di sekitarnya.