Kenapa Banyak Orang Jujur Justru Tersandung Hukum?

Lawyer, Writer, Songwriter No Viral, No Justice
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Ari Pratomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di banyak ruang pengadilan, kita akan menemukan hal yang menyakitkan:
orang yang jujur belum tentu menang.
Sementara yang licik, tapi tahu celah hukum — bisa bebas tertawa di luar.
Pertanyaannya: kenapa?
Jawaban paling sederhana: karena banyak orang baik tidak dibekali pemahaman hukum.
Mereka sibuk bekerja, mengurus keluarga, membangun bisnis — sampai suatu hari sebuah surat panggilan datang, dan semuanya berubah.
Tidak Semua Masalah Harus Sampai ke Meja Hijau
Contoh nyata:
Seorang teman curhat karena kontraknya dibatalkan sepihak oleh rekan bisnis. Ia marah, ingin lapor polisi. Tapi setelah didalami, perkaranya bukan pidana, melainkan perdata.
Sayangnya, seperti kebanyakan orang awam, ia mengira semua masalah bisa “dilaporkan”. Padahal dalam hukum, salah langkah di awal bisa merugikan banyak hal: waktu, uang, bahkan reputasi.
Ketidaktahuan Bukan Dosa, Tapi Bisa Berakibat Fatal
Banyak orang tanda tangan perjanjian tanpa membaca isinya.
Banyak orang menikah tanpa tahu apa itu harta bersama.
Banyak yang merasa cukup bikin “surat warisan” di kertas, padahal tidak sah menurut hukum.
Bukan karena mereka bodoh. Tapi karena tidak ada yang mengajarkan.
Dan inilah kenyataan pahit: hukum tidak memaafkan ketidaktahuan.
Pasal tetap berjalan. Proses tetap berputar. Hak bisa hilang karena kita tidak tahu cara mempertahankannya.
Lalu Apa Solusinya?
Bukan semua orang harus jadi sarjana hukum. Tapi setiap orang berhak paham hukum dasar.
Seperti:
Apa bedanya pidana dan perdata?
Apa hak kita saat dihadapkan aparat?
Apa isi minimal dari sebuah perjanjian yang sah?
Apa yang harus dilakukan jika dilaporkan secara tidak adil?
Dan itu bisa dimulai dari literasi hukum sederhana. Lewat video singkat, tulisan singkat, bahkan diskusi di warung kopi.
Karena hukum tidak harus rumit untuk dipahami. Yang penting: aksesibel dan bisa dipraktikkan.
Hukum Harus Menyentuh yang Terpinggirkan
Kita perlu akui:
Sistem hukum kita belum ideal. Tapi itu tidak berarti kita harus diam.
Selama hukum hanya dimiliki segelintir elit yang tahu cara “mainnya”, maka keadilan akan selalu terasa mahal. Padahal, hukum seharusnya jadi pelindung, bukan pemukul.
Kita semua — termasuk aparat, pengacara, mahasiswa, sampai warga biasa — punya peran untuk menjadikan hukum lebih adil, transparan, dan membumi.
Keadilan bukan sesuatu yang turun dari langit. Ia diperjuangkan, dipahami, dan dijaga bersama.
Jangan tunggu sampai masalah datang untuk belajar hukum.
Karena kadang, yang jujur kalah bukan karena salah — tapi karena terlalu percaya semua akan berjalan adil.
Artikel ini ditulis untuk masyarakat umum, agar kita semua tidak lagi menjadi korban karena tidak tahu.
Semoga makin banyak yang tergerak untuk memahami hak-haknya — sebelum semuanya terlambat.
Penulis: Muhammad Ari Pratomo
