Ketika Cinta Dijadikan Senjata: Waspada Love Scamming di Era Media Sosial

Official Account Muhammad Ari Pratomo (MuhammadAriLaw) Indonesian Lawyer. Advocating for justice beyond public attention
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Ari Pratomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Cinta Dijadikan Senjata: Waspada Love Scamming di Era Media Sosial
Oleh: Muhammad Ari Pratomo
Media sosial membuat manusia semakin mudah terhubung. Dalam hitungan detik, seseorang yang sebelumnya tidak dikenal dapat hadir dalam kehidupan kita melalui pesan pribadi, komentar, atau aplikasi pertemanan.
Namun, kemudahan tersebut juga memiliki sisi lain.
Di balik percakapan yang terlihat romantis dan perhatian, bisa saja terdapat seseorang yang sedang membangun kepercayaan untuk tujuan tertentu: mendapatkan uang, mengambil data pribadi, melakukan pemerasan, bahkan mengeksploitasi korban.
Fenomena tersebut dikenal sebagai love scamming.
Belakangan, perhatian terhadap kejahatan dengan modus tersebut kembali menguat. Polri menyebut love scamming telah berkembang menjadi kejahatan yang tidak hanya berkaitan dengan penipuan, tetapi juga dapat melibatkan pemerasan, eksploitasi seksual, dan jaringan lintas negara.
Tidak Semua Perhatian di Media Sosial Adalah Ketulusan
Salah satu kekuatan pelaku love scamming adalah kemampuan membangun hubungan emosional.
Pelaku tidak selalu langsung meminta uang.
Justru sebaliknya, hubungan dapat dibangun secara perlahan.
Mulai dari sapaan sederhana, percakapan setiap hari, perhatian berlebihan, cerita mengenai kehidupan pribadi, sampai munculnya rasa percaya.
Setelah hubungan emosional terbentuk, barulah persoalan mulai muncul.
Misalnya, seseorang mengaku sedang menghadapi masalah keuangan, membutuhkan biaya pengobatan, mengalami kendala perjalanan, memiliki investasi yang membutuhkan tambahan modal, atau menghadapi persoalan lain yang membuat korban terdorong untuk membantu.
Pada tahap inilah korban dapat mengalami kerugian.
Persoalannya, korban sering kali tidak merasa sedang berhadapan dengan penipu. Mereka merasa sedang membantu seseorang yang sudah dipercaya.
Kasus Nyata Menunjukkan Modus Ini Bukan Persoalan Kecil
Ancaman tersebut bukan sekadar teori.
Polda Sumatera Utara baru-baru ini mengungkap jaringan penipuan daring internasional yang beroperasi di sebuah apartemen di Medan. Polisi menyebut kerugian korban dalam kasus tersebut mencapai sekitar Rp6,7 miliar.
Sementara itu, Polda Jawa Timur juga sebelumnya mengungkap sindikat love scamming internasional yang menyasar korban melalui sejumlah platform media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Dalam kasus tersebut, pelaku disebut membangun hubungan emosional dengan korban sebelum melakukan penipuan.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa kejahatan digital tidak selalu hadir dalam bentuk tautan mencurigakan atau pesan berisi hadiah palsu.
Kadang-kadang, kejahatan justru datang melalui seseorang yang setiap hari mengatakan:
"Aku sayang kamu."
Jangan Mudah Memberikan Data Pribadi
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam interaksi digital adalah memberikan terlalu banyak informasi kepada orang yang baru dikenal.
Nama lengkap, alamat, nomor telepon, foto identitas, informasi keluarga, pekerjaan, rekening, hingga berbagai dokumen pribadi dapat menjadi informasi yang sangat berharga bagi pelaku kejahatan.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara membangun hubungan dan memberikan akses terhadap kehidupan pribadi.
Kepercayaan tidak seharusnya diberikan sekaligus hanya karena seseorang terlihat baik di media sosial.
Terlebih lagi apabila hubungan tersebut belum pernah diverifikasi secara langsung.
Waspadai Permintaan yang Tidak Masuk Akal
Ada beberapa tanda yang patut diperhatikan.
Pertama, seseorang yang baru dikenal terlalu cepat membangun kedekatan emosional.
Kedua, identitas dan kehidupannya sulit diverifikasi.
Ketiga, selalu memiliki alasan untuk tidak melakukan video call atau pertemuan secara wajar.
Keempat, mulai meminta uang atau bantuan finansial.
Kelima, meminta foto atau video pribadi yang bersifat sensitif.
Keenam, meminta data pribadi atau dokumen identitas.
Ketujuh, membuat korban merasa bersalah apabila menolak membantu.
Kedelapan, mendesak korban mengambil keputusan dengan cepat.
Tidak satu pun tanda tersebut otomatis membuktikan seseorang adalah pelaku kejahatan. Namun, apabila beberapa tanda muncul bersamaan, kewaspadaan perlu ditingkatkan.
Jangan Merasa Malu Jika Menjadi Korban
Salah satu persoalan terbesar dalam kasus penipuan berbasis hubungan emosional adalah korban sering merasa malu.
Ada korban yang akhirnya memilih diam karena takut dianggap bodoh.
Padahal, kejahatan tidak menjadi sah hanya karena pelaku berhasil memanfaatkan kepercayaan seseorang.
Korban justru perlu mendapatkan dukungan agar dapat segera mengambil langkah yang tepat.
Jika seseorang menyadari telah menjadi korban, jangan menghapus percakapan, bukti transfer, nomor rekening, profil akun, foto, rekaman komunikasi, atau informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Simpan bukti secara aman dan pertimbangkan untuk melaporkan kejadian kepada pihak berwenang.
Teknologi Harus Membantu Manusia, Bukan Menjadikan Manusia Mangsa
Perkembangan teknologi digital pada dasarnya bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Media sosial dapat mempertemukan manusia, membuka peluang usaha, memperluas jaringan profesional, bahkan menemukan pasangan hidup.
Yang perlu dibangun adalah budaya digital yang lebih sehat.
Kita perlu memahami bahwa foto profil bukan identitas yang terverifikasi.
Kata-kata romantis bukan bukti ketulusan.
Jumlah pengikut bukan bukti seseorang dapat dipercaya.
Dan hubungan yang berlangsung lama di dunia maya bukan jaminan bahwa seseorang benar-benar mengenal siapa yang berada di balik layar.
Pada akhirnya, kehati-hatian bukan berarti tidak percaya kepada orang lain. Kehati-hatian adalah cara melindungi diri sebelum kepercayaan diberikan kepada orang yang tepat.
Di era ketika identitas dapat dibuat hanya dalam beberapa menit, masyarakat perlu belajar satu hal penting:
Jangan menyerahkan kepercayaan, uang, dan data pribadi hanya karena seseorang berhasil menyentuh perasaan kita.
Karena dalam dunia digital, terkadang yang paling berbahaya bukan orang yang terlihat mengancam.
Melainkan orang yang terlihat paling memahami kita.
