Konten dari Pengguna

Menulis dalam Sepi, Bernyanyi dalam Diam

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ari Pratomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Muhammad Ari Pratomo
zoom-in-whitePerbesar
Muhammad Ari Pratomo

Menulis dalam Sepi, Bernyanyi dalam Diam

Catatan Pribadi Muhammad Ari Pratomo: Di Antara Pasal dan Sunyi

Di balik toga dan meja persidangan, ada satu ruang yang tak pernah benar-benar diisi oleh siapa pun: sepi.

Aku adalah Muhammad Ari Pratomo. Sehari-hari aku dikenal sebagai pengacara — menangani perceraian, sengketa bisnis, hingga kasus pidana yang menyisakan jejak luka. Dalam ruang publik, aku harus tegas, logis, dan sigap. Tapi saat malam datang, ketika kota mulai diam dan lampu kamar hanya menyisakan bayangan, aku kembali menjadi manusia biasa. Tanpa pelukan. Tanpa pasangan. Hanya ada gitar tua, secarik kertas, dan sunyi yang mengisi ruang.

Setiap kasus yang kusentuh, menyisakan jejak. Aku membawanya pulang. Tak bisa tidak. Emosi yang tertahan, cerita-cerita yang tak selesai, bahkan tangisan yang hanya terdengar di ruang konsultasi — semua mengendap dan mencari jalan keluar. Dan jalannya bukan lewat amarah atau pelarian. Tapi lewat lirik lagu, bait puisi, dan paragraf demi paragraf yang kutulis dalam diam.

Dulu, aku menulis dan bermusik sebagai hobi. Kini, keduanya adalah ruang pelampiasan paling jujur. Sebuah terapi yang tidak pernah kutawarkan pada siapa pun, tapi selalu kutemui saat dunia terasa terlalu bising.

Ilustrasi By: Muhammad Ari Pratomo

Aku tak yakin kapan terakhir kali jatuh cinta. Barangkali karena terlalu sering melihat cinta hancur di hadapanku sendiri. Meja pengadilan mengajarkan banyak hal, tapi juga mencuri banyak rasa. Sampai-sampai, aku lupa caranya mencintai tanpa curiga, tanpa berjaga.

Namun anehnya, dalam kesendirian ini aku justru menemukan suara lain. Suara dalam diri sendiri yang selama ini tertutup rutinitas. Ia bicara tentang keadilan, tentang kasih yang tak harus romantis, dan tentang hidup yang tetap bisa bermakna meski dijalani sendirian.

Kadang, aku merasa lebih jujur saat bernyanyi dibanding saat berbicara. Kadang, aku merasa lebih utuh saat menulis dibanding saat duduk sendiri di meja makan.

Menjadi pengacara seringkali dikaitkan dengan menang atau kalah. Tapi bagiku, ini bukan sekadar soal hasil. Ini tentang menyelamatkan yang tersisa. Dan dalam proses menyelamatkan orang lain, aku terus belajar untuk tidak kehilangan diriku sendiri.

Aku mungkin tidak punya pelukan untuk pulang. Tapi aku punya lembaran kosong yang selalu siap menerima isi hati. Aku mungkin tidak punya cinta dalam bentuk yang lazim. Tapi aku masih punya kata-kata yang jujur, dan itu cukup untuk bertahan — setidaknya sampai hari esok.

Hidupku mungkin tak seperti film. Tapi aku percaya, setiap lagu, tulisan, dan advokasi yang kutawarkan pada dunia adalah bentuk cinta yang paling murni — dari seseorang yang memilih diam, tapi tak pernah berhenti menyuarakan.

Dan malam ini, aku kembali menulis. Entah untuk siapa. Mungkin untuk diriku sendiri. Atau mungkin untuk seseorang yang suatu hari akan membaca ini… dan mengerti.

Ditulis oleh:

Muhammad Ari Pratomo

Pengacara | Penulis | Musisi

"Menyuarakan keadilan bagi yang terbungkam — lewat hukum, musik, dan tulisan."