Mengapa Menilai Seseorang dari Diamnya Adalah Kesalahan Logika?

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Enrico Rahmat Adhari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kalian berada dalam sebuah forum diskusi atau sekadar kumpul santai, lalu melihat satu orang yang hanya duduk menyimak tanpa mengeluarkan sepatah kata pun? Biasanya, secara otomatis alam bawah sadar kita akan melabeli orang tersebut sebagai sosok yang tidak paham, tidak punya ide, atau bahkan dianggap lebih rendah secara intelektual dibandingkan mereka yang mendominasi pembicaraan. Di tengah masyarakat yang sangat memuja kemampuan retorika dan kecepatan bicara, diam sering kali dianggap sebagai sebuah kelemahan. Namun, jika kita bedah lebih dalam menggunakan kacamata logika, anggapan tersebut sebenarnya adalah sebuah kecacatan berpikir yang sangat nyata.
Jebakan Logika dalam Menilai Suara
Fenomena merendahkan orang yang diam ini merupakan bentuk konkret dari sesat pikir yang disebut sebagai Argumentum ad Ignorantiam. Secara sederhana, logika ini bekerja dengan asumsi bahwa sesuatu dianggap salah hanya karena belum dibuktikan benar. Dalam konteks ini, kita sering kali buru-buru menyimpulkan bahwa seseorang bodoh hanya karena ia tidak memberikan bukti kepintarannya melalui kata-kata. Padahal, ketiadaan pernyataan bukanlah bukti dari ketiadaan pemikiran. Menilai kualitas otak seseorang hanya berdasarkan volume suara adalah sebuah generalisasi yang terburu-buru atau hasty generalization. Kita mencoba mengukur kedalaman samudera hanya dengan melihat permukaan airnya yang tenang.
Bias Sosial terhadap Dominasi Retorika
Mengapa kita begitu mudah terjebak dalam bias ini? Hal tersebut terjadi karena adanya konstruksi sosial yang disebut sebagai Loudness Bias. Kita cenderung lebih percaya pada orang yang bicara dengan nada tinggi dan penuh percaya diri, meskipun isinya mungkin hanya omong kosong. Padahal, menurut Susan Cain dalam karyanya yang berjudul Quiet, sistem sosial modern saat ini memang dirancang untuk mendukung karakter ekstrovert. Cain menjelaskan bahwa banyak sekali pemikir hebat dunia yang sebenarnya membutuhkan keheningan untuk melakukan pemrosesan informasi secara mendalam. Bagi mereka, bicara tanpa esensi hanyalah pemborosan energi. Jadi, saat seseorang memilih untuk tidak bersuara, bisa jadi ia justru sedang memetakan premis-premis logis di kepalanya agar tidak terjebak dalam argumen yang dangkal.
Kerendahan Hati Intelektual dalam Keheningan
Selain itu, filsuf Blaise Pascal pernah menyinggung bahwa ketidakmampuan manusia untuk diam dalam ruangan sendirian adalah akar dari banyak masalah. Hal ini relevan jika kita tarik ke dunia komunikasi saat ini. Orang yang diam biasanya sedang menerapkan prinsip kerendahan hati intelektual. Mereka sadar bahwa sebuah masalah sering kali terlalu kompleks untuk langsung dikomentari tanpa riset yang kuat. Mereka lebih memilih untuk melakukan observasi tajam daripada mengeluarkan pendapat yang tidak menyambung atau non sequitur. Hal ini membuktikan bahwa diam adalah sebuah strategi kognitif yang aktif, bukan sebuah bentuk kepasifan apalagi ketidaktahuan.
Mengubah Standar Kualitas Berpikir
Kita harus mulai melatih diri untuk tidak terjebak pada kemasan luar. Kecepatan bicara tidak pernah menjadi tolak ukur validitas sebuah argumen. Justru, sering kali mereka yang paling banyak bicara di depan publik hanya sedang melakukan argumen melingkar yang tidak memiliki ujung pangkal. Sebaliknya, individu yang tenang biasanya sedang menunggu momentum yang tepat untuk memberikan solusi yang presisi.
