Pencak Silat: Tradisi Budaya yang Dimanfaatkan dalam Politik Identitas

M Fahmi Yahya
Mahasiswa Universitas Jember Pendidikan Sejarah
Konten dari Pengguna
2 April 2024 13:08 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari M Fahmi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Momen Jokowi dan Prabowo berpelukan dengan atlet Pencak Silat di Asian Games 2018 Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Momen Jokowi dan Prabowo berpelukan dengan atlet Pencak Silat di Asian Games 2018 Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pencak Silat, seni bela diri khas Nusantara, telah menjadi bagian integral dari kehidupan budaya di berbagai negara di Asia Tenggara. Namun, selain sebagai warisan budaya yang penting, Pencak Silat juga sering dimanfaatkan sebagai alat dalam politik identitas.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks ini, seni bela diri ini menjadi lebih dari sekadar latihan fisik atau pertunjukan, tetapi juga menjadi lambang dari identitas suatu kelompok atau komunitas. Artikel ini akan menjelaskan bagaimana Pencak Silat telah digunakan dalam politik identitas di berbagai negara, serta dampaknya terhadap masyarakat.
Peran Pencak Silat dalam Membentuk Identitas Kultural
Pencak Silat bukan hanya sekadar seni bela diri, tetapi juga mencakup nilai-nilai budaya yang mendalam. Di banyak masyarakat di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei, Pencak Silat menjadi simbol dari identitas kultural dan kebangsaan.
Latihan Pencak Silat, dengan gerakan-gerakan yang khas dan filosofi di baliknya, tidak hanya mengasah kemampuan fisik, tetapi juga membentuk kedisiplinan, keberanian, dan rasa persatuan dalam anggotanya.
ADVERTISEMENT
Pencak Silat dalam Politik Identitas
Dalam konteks politik, Pencak Silat sering dimanfaatkan oleh berbagai kelompok untuk memperkuat atau menegaskan identitas mereka. Di Indonesia, misalnya, Pencak Silat sering dikaitkan dengan semangat nasionalisme dan kebangsaan, terutama dalam memperjuangkan kemerdekaan dari penjajah. Banyak organisasi keagamaan, etnis, dan politik di Indonesia menggunakan Pencak Silat sebagai alat untuk memperkuat ikatan identitas kelompok mereka.
Dampak Politik Identitas Pencak Silat
Penggunaan Pencak Silat dalam politik identitas tidaklah tanpa kontroversi. Terkadang, hal ini dapat memicu polarisasi dan konflik antar kelompok. Misalnya, di beberapa wilayah di Indonesia, rivalitas antar perguruan Pencak Silat dapat menciptakan ketegangan sosial dan bahkan kekerasan. Namun, di sisi lain, Pencak Silat juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas dan persatuan di antara kelompok-kelompok yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Menghargai Warisan Budaya dan Merawat Identitas
Meskipun Pencak Silat sering dimanfaatkan dalam politik identitas, penting bagi masyarakat untuk tetap menghargai seni bela diri ini sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga. Pencak Silat bukan hanya milik satu kelompok atau komunitas, tetapi milik semua orang yang menghargai nilai-nilai keberanian, kedisiplinan, dan persatuan. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk merawat dan mempromosikan Pencak Silat sebagai bagian dari identitas kultural yang kaya dan pluralistik.
Kesimpulan
Pencak Silat bukan hanya sekadar seni bela diri, tetapi juga merupakan bagian penting dari budaya dan identitas di Asia Tenggara. Dalam politik identitas, Pencak Silat sering digunakan sebagai alat untuk memperkuat atau menegaskan identitas kelompok. Meskipun demikian, penggunaan Pencak Silat dalam politik identitas juga dapat menimbulkan konflik dan polarisasi. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menghargai warisan budaya ini sambil mempromosikan persatuan dan solidaritas di antara berbagai kelompok.
ADVERTISEMENT