Konten dari Pengguna

Ratu Tanpa Pangeran

M Fahmi Yahya

M Fahmi Yahya

Mahasiswa Universitas Jember

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Fahmi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com

Ratu dan Pangeran

Di banyak kebudayaan, dongeng sering kali menjadi pintu pertama yang memperkenalkan anak-anak pada gambaran tentang dunia. Kisah ratu yang menderita, kemudian diselamatkan oleh seorang pangeran, telah berulang kali diceritakan dari generasi ke generasi. Cerita tersebut tampak sederhana dan penuh harapan. Namun di balik keindahan kisah itu, tersimpan pula gambaran tentang relasi ketergantungan yang secara perlahan tertanam dalam imajinasi sosial.

Salah satu konsep yang lahir dari pengamatan terhadap pola tersebut adalah Cinderella Complex. Istilah ini merujuk pada kecenderungan psikologis yang menggambarkan ketakutan perempuan terhadap kemandirian serta dorongan bawah sadar untuk bergantung pada figur lain, khususnya laki-laki, sebagai penyelamat atau pelindung. Kompleks ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan berkaitan erat dengan proses panjang pembentukan nilai sosial dan budaya.

Sejak kecil, banyak perempuan dibesarkan dengan narasi yang menempatkan mereka dalam peran tertentu. Mereka diajarkan untuk menjadi lembut, patuh, dan bergantung pada perlindungan pihak lain. Dalam berbagai kisah populer, kebahagiaan tokoh perempuan sering kali datang bukan dari perjuangan pribadinya, melainkan dari kehadiran seseorang yang datang menyelamatkan keadaan. Pangeran yang tiba di saat yang tepat kemudian menjadi simbol dari penyelesaian segala persoalan.

Narasi semacam itu perlahan membentuk gambaran bahwa kebahagiaan perempuan berkaitan erat dengan kehadiran sosok penyelamat. Dalam banyak kasus, gagasan tersebut tidak disadari, tetapi tertanam dalam cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika menghadapi tantangan hidup, sebagian perempuan mungkin merasa ragu terhadap kemampuannya sendiri dan lebih memilih mencari perlindungan dari pihak lain.

Fenomena ini tidak dapat dipisahkan dari konstruksi sosial yang telah berkembang dalam masyarakat selama berabad-abad. Dalam sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang dominan di ruang publik, perempuan sering kali diarahkan untuk menempati ruang domestik dan peran yang lebih terbatas. Pembagian peran tersebut kemudian membentuk persepsi tentang siapa yang dianggap kuat dan siapa yang dianggap membutuhkan perlindungan.

Akibatnya, ketergantungan sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang wajar, bahkan romantis. Dalam banyak cerita populer, perempuan yang menunggu kedatangan sosok penyelamat digambarkan sebagai tokoh yang penuh harapan dan kesetiaan. Namun ketika pola ini terbawa ke dalam kehidupan nyata, ia dapat menjadi penghalang bagi perkembangan kemandirian seseorang.

Ketakutan terhadap kemandirian tidak selalu muncul dalam bentuk yang jelas. Ia dapat hadir dalam keraguan kecil terhadap kemampuan diri, dalam kecemasan saat harus mengambil keputusan sendiri, atau dalam keyakinan bahwa kebahagiaan hanya dapat dicapai melalui orang lain. Dalam situasi seperti ini, kemandirian tidak lagi dipandang sebagai kekuatan, melainkan sebagai sesuatu yang menakutkan.

Namun dunia modern menghadirkan kenyataan yang berbeda. Perempuan kini semakin banyak memasuki ruang pendidikan, dunia kerja, serta berbagai bidang yang sebelumnya dianggap tertutup bagi mereka. Perubahan ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk berdiri sendiri bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan identitas perempuan.

Memahami Cinderella Complex bukan berarti menolak nilai kasih sayang, hubungan, atau kerja sama dalam kehidupan manusia. Sebaliknya, pemahaman ini justru membuka ruang refleksi tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Hubungan yang sehat tidak lahir dari ketergantungan yang timpang, melainkan dari pertemuan dua individu yang sama-sama memiliki kemandirian.

Maka dari itu, membicarakan Cinderella Complex sesungguhnya adalah upaya untuk membaca kembali narasi lama yang telah lama hidup dalam imajinasi masyarakat. Dongeng tidak perlu dihapus dari kehidupan manusia, karena ia tetap memiliki nilai keindahan dan harapan. Namun penting pula untuk menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk seorang pangeran yang menjemput di ujung cerita.

Dalam kehidupan nyata, kemandirian sering kali justru menjadi langkah pertama menuju kebebasan. Ketika seseorang mampu mengenali kekuatannya sendiri, ia tidak lagi menunggu untuk diselamatkan. Ia berjalan dengan keyakinannya sendiri, menyusun takdirnya sendiri, dan menemukan kebahagiaan bukan sebagai hadiah dari orang lain, melainkan sebagai hasil dari keberanian untuk berdiri di atas kakinya sendiri.