Konten dari Pengguna

Teruntuk Kekasihku yang Seorang Stoik

M Fahmi Yahya

M Fahmi Yahya

Mahasiswa Universitas Jember

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Fahmi Yahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by AI
zoom-in-whitePerbesar
Image by AI

Kekasih Stoik

Stoikisme merupakan alairan filsafat dari yunani yang berfokus pada ketenangan batin atau jiwa melalui pengendalian diri, rasionalitas dan penerimaan terhadap hal-hal yang di luar kendali. Dalam konteks relationship atau hubungan asmara, Stoikisme bukan berarti dingin atau tidak punya perasaan, namun membangun hubunfan yang sehat melalui kesadaran diri dan mengelola emosi. Stoikisme mengajarkan Dichotomy Of Control, istilah ini merujuk terhadap bagaiman kita mengelola pikiran kita. Seperti hal yang bisa di kendalikan atau diluar kendali. Dalam konteks hubungan yang bisa dikendalikan berupa: sikap, komunikasi, kesetian, usaha, dan respon emosi. Sedangkan, yang tidak bisa dikendalikan: perasaan pasangan, tindakan pasangan, masa lalu, opini keluarga/teman.

Stoikisme tidak meminta kita untuk membunuh emosi, namun untuk menunda respon kita terhadap emosi ketika memuncak, melihat situasi dari sudut pandang rasional, dan tidak membuat keputusan besar saat emosi tidak stabil. Contohnya: Alih-alih langsung marah karena pasangan telat membalas pesan, kamu bertanya dulu: "Apakah ini benar-benar masalah atau hanya pikiran negatif kita saja?"

Stoikisme mengajarkan kita untuk tau bahwa sumber ketenangan didapat dari dalam diri, bukan dari validasi eksternal. Ketika dalam berhubungan: pasangan adalah tambahan kebahagian, bukan sumber kebahagian, jadi kita tetap lengkap sebagai individu. Ini justru membuat hubungan lebih sehat, karena tidak menuntu pasangan menjadi "penyelamat nasional".

Stoikisme dalam hubungan mendorong cinta yang tidak posesif, tidak obsesif, tidak memaksa pasangan untuk sesuai ekspetasi dan berdasarkan rasa hormat dan kebebasan. Marcus Aurelius mengatakan: "Cintai tanpa merasa memilikinya, karena sesuatu bisa hilang kapan saja". Artinya nikmati hadirnya pasangan, tapi jangan takut kehilangan sampai menghancurkan diri sendiri.

Stoikisme realistis tentang ketidakpastian hidup. Dalam konteks relationship: pasangan kita bisa saja berubah kapanpun, bahkan kita juga bisa berubah kapanpun. Disinilah realistis sotikisme dapat diimplementasikan bahwa hubungan bisa membaik, stagnan ataupun berakhir. Penerimaan bukan berarti pesimis, tetapi penerimaan justru membuatmu lebih kuat untuk menghadapi segala kemungkinan dengan kepala dingin.

Dalam hubungan, Stoikisme mengajarkan kita untuk melepaskan drama dan fokus pada Kebajikan (Virtue), terutama Kebijaksanaan dan Keadilan, melalui komunikasi. Inti Komunikasi Stoik: Alih-alih meluapkan emosi atau menyalahkan, kita diajak untuk mengidentifikasi masalah dengan jelas dan mengajukan solusi. Ini berarti menghilangkan bahasa menyalahkan yang menyerang karakter pasangan ("Kamu selalu bikin marah!") dan menggantinya dengan bahasa yang mengacu pada perasaan dan tindakan yang konstruktif: "Aku merasa terganggu ketika kejadian ini terjadi. Bisakah kita cari solusinya?" Dengan cara ini, komunikasi menjadi tenang, jujur, berorientasi pada masa depan, dan fokus pada apa yang bisa kita kendalikan bersama: tindakan dan solusi, bukan luapan emosi sesaat.

Stoikisme tidak pernah mengajarkan kita untuk menyerah atau pasrah terhaddap perlakuan buruk. Justru stoikisme mengajarkan kita untuk: Menghargai diri sendiri, mengutamakan ketenangan jiwa dan meninggalkan situasi yang merusak nilai-nilai diri.Jika pasangan manipulatif, abusif atau tidak menghargai, stoikisme mendorong kita untuk tegas melindungi diri.

Kesimpulan nya Stoikisme dalam relationship bukan tentang menjadi dingin atau menekan perasaan, tetapi tentang membangun hubungan dengan emosi yang sehat dan pikiran yang jernih. Prinsip dasarnya adalah mengelola emosi, bukan memendamnya...menyadari apa yang kamu rasakan, memahami penyebabnya, dan meresponsnya dengan tenang. Dengan begitu, kamu tidak lagi dikuasai ledakan emosi sesaat.

Dalam sebuah hubungan, kamu juga diajak untuk fokus pada hal-hal yang berada dalam kendalimu. Kamu tidak bisa mengatur bagaimana pasangan berpikir atau bertindak, tetapi kamu selalu bisa mengatur bagaimana kamu bersikap. Kesadaran ini membuat hubungan lebih ringan, karena kamu tidak menuntut pasangan menjadi versi ideal di kepalamu. Stoikisme juga mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak boleh sepenuhnya digantungkan pada pasangan. Pasangan adalah bagian dari hidupmu, bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Dengan fondasi ini, kamu mencintai dari kelimpahan, bukan dari kekosongan yang harus diisi orang lain.

Dari sana tumbuh cara mencintai yang lebih matang: tanpa posesivitas, tanpa rasa memiliki yang berlebihan, dan tanpa menganggap pasangan sebagai sesuatu yang harus selalu sesuai keinginanmu. Kamu mencintai dengan rasa hormat, memahami bahwa setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri.