Akankah Rebound Bursa Saham Berlanjut Hari Ini?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (21/10), setelah melonjak 5,67 persen pada penutupan perdagangan Selasa (20/10).
Rebound tersebut terjadi setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan tajam menyusul rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pada perdagangan Selasa, IHSG ditutup menguat 282,28 poin ke level 5.278,89. Berdasarkan data Stockbit, nilai transaksi mencapai Rp 26,24 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 56,53 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 2,49 juta kali.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, memproyeksikan IHSG bergerak menguat pada rentang 5.333–5.597 pada perdagangan Rabu (21/10).
“Berdasarkan indikator teknikal, sinyal Stochastics K_D dan RSI menunjukkan tren positif, sementara volume perdagangan mulai meningkat,” kata Nafan dalam keterangannya, Rabu (21/10).
Menurut Nafan, penguatan IHSG didukung oleh peluang technical rebound setelah tekanan jual tajam. Selain itu, kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) dan mengeluarkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG berpotensi memengaruhi sentimen investor.
Kebijakan tersebut diharapkan bisa meredam tekanan jual berlebihan dan memberikan ruang bagi stabilisasi perdagangan saham. Rencana buyback oleh sejumlah emiten dan dorongan agar investor institusi domestik lebih aktif juga dinilai berpotensi menopang permintaan saham ketika tekanan jual meningkat.
Namun, Nafan mengingatkan pasar juga akan mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu. Konsensus ekonom, menurut dia, cenderung memperkirakan kenaikan BI-Rate menjadi 6,00 persen, di tengah tekanan terhadap rupiah setelah pengumuman MSCI.
IHSG Sempat Anjlok 11,57 Persen setelah Pengumuman MSCI
Gejolak pasar bermula setelah MSCI pada 15 Oktober 2026 mengumumkan peluncuran konsultasi mengenai usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Dalam pengumumannya, MSCI menyoroti persoalan kelayakan investasi (investability) pasar saham Indonesia, terutama transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi.
Dalam Tinjauan Klasifikasi Pasar Juni 2026, MSCI menyebut pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran signifikan mengenai aspek tersebut. Meski otoritas Indonesia telah mengumumkan sejumlah reformasi, investor institusional masih menekankan perlunya implementasi yang konsisten dan bukti dampak material yang berkelanjutan.
MSCI menyatakan keputusan akhir mengenai klasifikasi pasar Indonesia akan diumumkan paling lambat akhir Juni 2027. Selama masa konsultasi, penyedia indeks tersebut juga dapat memberikan pembaruan sementara terkait masukan dari pelaku pasar.
Pengumuman tersebut segera memicu tekanan di pasar saham domestik. Pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10), IHSG berada di level 5.393,92 atau turun 8,01 persen berdasarkan data Stockbit pukul 09.00 WIB. Penurunan itu memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt.
Tekanan berlanjut hingga penutupan perdagangan. IHSG merosot 678,67 poin atau 11,57 persen ke level 5.185,11. Indeks LQ45 turut melemah 15,07 persen ke posisi 508,56.
Nilai transaksi pada hari itu mencapai Rp 31,56 triliun, dengan volume perdagangan 67,58 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,12 juta kali.
Penurunan tajam menempatkan transparansi kepemilikan saham, struktur free float, dan kualitas pembentukan harga sebagai sejumlah persoalan utama yang perlu mendapat perhatian MSCI dalam upaya memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia.
BEI dan OJK Lakukan Penyesuaian Aturan
Merespons gejolak pasar, BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menempuh sejumlah langkah untuk menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien.
Seperti, per Senin (19/10), BEI memberlakukan batas bawah auto rejection atau ARB asimetris sebesar 7 persen. Kebijakan yang berlaku hingga 31 Desember 2026 itu menurunkan batas ARB untuk saham berharga di atas Rp 10 hingga Rp 5.000 dari sebelumnya 15 persen menjadi 7 persen. Saham berharga di atas Rp 5.000 juga dikenakan ARB 7 persen.
Sementara, batas Auto Rejection Atas (ARA) tidak berubah, yakni 35 persen untuk saham berharga Rp 11–Rp 200, 25 persen untuk saham di atas Rp 200 hingga Rp 5.000, dan 20 persen untuk saham di atas Rp 5.000.
Sekretaris Perusahaan BEI, Elsierra Putri, mengatakan penyesuaian bertujuan memberikan waktu kepada investor untuk mencerna informasi dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi fundamental perekonomian.
“Penyesuaian ini juga bertujuan memberikan kesempatan bagi investor untuk mengevaluasi dan mencerna informasi yang tersedia, sehingga dapat membantu proses pengambilan keputusan investasi secara lebih baik berdasarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia,” tulis Elsierra dalam keterangan resminya, Senin (19/10).
Sehari kemudian, BEI kembali menyesuaikan ketentuan ARB untuk saham berharga Rp 11–Rp 14. Mulai Selasa (20/10), batas penurunan harga saham pada rentang tersebut ditetapkan sebesar Rp 1, dari sebelumnya 7 persen. Kebijakan ini berlaku hingga 31 Desember 2026.
Penyesuaian dilakukan setelah BEI mengevaluasi penerapan ARB asimetris 7 persen yang mulai berlaku pada 19 Oktober 2026.
“Kebijakan ini dilakukan berdasarkan hasil evaluasi terhadap penerapan ketentuan ARB asimetris sebesar 7 persen yang telah diberlakukan pada 19 Oktober 2026,” kata Elsierra dalam keterangan resminya, Selasa (20/10).
Selain mengubah batas ARB, BEI juga mengumumkan rencana mengeluarkan seluruh saham yang masuk kategori HSC dari perhitungan IHSG. Berdasarkan data BEI, ada 80 saham dalam kategori tersebut hingga 13 Oktober 2026.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan kebijakan itu bukan berarti saham-saham HSC akan dihapus dari pencatatan bursa. Sahamnya tetap dapat diperdagangkan, tetapi pergerakan harganya tidak lagi mempengaruhi IHSG.
“Bukan delisting, tetapi tidak diperhitungkan di dalam perhitungan IHSG. Saham-saham dalam High Shareholding Concentration itu sudah dikeluarkan atau tidak dapat masuk ke dalam beberapa indeks flagship seperti IDX30, LQ45, dan IDX80,” sebut Jeffrey dalam konferensi pers di BEI, Jakarta Selatan, Senin (19/10).
BEI juga menambahkan keterangan status afiliasi atau nonafiliasi pada publikasi nama pemegang saham dengan kepemilikan 1 persen.
BEI Minta Klarifikasi kepada MSCI
Di tengah tekanan pasar, BEI juga berencana meminta klarifikasi kepada MSCI mengenai dasar pertimbangan dan penilaian yang melatarbelakangi rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Jeffrey mengatakan BEI menghormati independensi MSCI dalam melakukan penilaian berdasarkan metodologi yang dimilikinya. Namun, otoritas bursa menilai berbagai langkah perbaikan telah dilakukan untuk menjawab evaluasi lembaga pemeringkat internasional tersebut.
"Hal ini mencerminkan komitmen berkelanjutan otoritas dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat kredibilitas serta daya saing pasar modal Indonesia," kata Jeffrey dalam keterangannya, Jumat (16/10).
MSCI sendiri dijadwalkan mengumumkan keputusan akhir terkait klasifikasi pasar Indonesia paling lambat pada akhir Juni 2027. Artinya, perkembangan implementasi reformasi pasar modal domestik dan respons MSCI terhadap perbaikan masih akan menjadi perhatian investor dalam beberapa bulan ke depan.
Proyeksi IHSG Hari Ini: Peluang Menguat, Risiko Koreksi Tetap Ada
Untuk perdagangan Rabu (21/10), Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak menguat pada rentang 5.333–5.597. Proyeksi ini didukung indikator teknikal yang menunjukkan tren positif dan peningkatan volume perdagangan.
Selain faktor teknikal, Nafan menilai penyesuaian ARB, perubahan perhitungan indeks terhadap saham HSC, serta potensi buyback dari sejumlah emiten dapat membantu menopang pasar
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham INKP, RAJA, dan TPIA untuk dicermati pada perdagangan hari ini.
Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak bervariasi dengan peluang menguji area penguatan 5.328–5.458. Namun, indeks juga berpotensi berbalik melemah ke rentang 5.093–5.191.
“Dalam jangka pendek, IHSG masih berpeluang untuk menguji 5.328-5.458. Namun, perlu diwaspadai akan adanya potensi pembalikan arah ke rentang 5.093-5.191,” tulis MNC Sekuritas dalam keterangannya, Rabu (21/10).
MNC Sekuritas merekomendasikan saham AKRA, GOTO, PSAB, dan MDKA.
##########
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan dan keputusan pembaca. Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli, menahan, atau menjual suatu produk investasi tertentu.
