Anjlok Hampir 11%, Harga Saham KOSPI Korsel Lebih Murah Dibanding IHSG

Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) ambruk lebih dari 10% pada perdagangan Selasa (28/7) pukul 14.06 WIB.
Pelemahan saham KOSPI jauh lebih dalam dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia di mana pada saat yang sama hanya terkoreksi sekitar 0,4%.
Berdasarkan data Investing, KOSPI bertengger pada level 6.023,66, turun 732,09 poin atau 10,84 persen. Sementara itu data RTI menunjukkan IHSG berada di level 6.161,11, melemah 24,67 poin atau 0,40%.
Aksi jual besar-besaran di pasar Korea Selatan dipicu anjloknya saham-saham semikonduktor, terutama Samsung Electronics dan SK Hynix, yang masing-masing merosot lebih dari 13%.
Mengutip Bloomberg pada Selasa (28/7), tekanan memaksa Korea Exchange (KRX) menghentikan sementara perdagangan (trading halt) di pasar KOSPI dan KOSDAQ selama 20 menit setelah kontrak berjangka jatuh tajam.
Sebelumnya, bursa juga sempat menghentikan perdagangan program (program trading) untuk meredam volatilitas.
Analis menilai pelemahan pasar dipicu kombinasi sentimen negatif global terhadap sektor kecerdasan buatan (AI), aksi deleveraging investor, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap persaingan industri semikonduktor dari China.
Chief Investment Officer Eugene Asset Management, Ha Seok Keun, mengatakan sentimen terhadap saham semikonduktor Korea saat ini berada dalam kondisi sangat lemah.
"Risk-off secara luas, aksi deleveraging, pelebaran credit default swap (CDS) perusahaan hyperscaler, dan memburuknya sentimen investor ritel semakin memperbesar tekanan jual," ujarnya.
KOSPI kini telah terkoreksi lebih dari 30 persen dari puncaknya sekitar satu bulan lalu, setelah sebelumnya sempat menjadi indeks saham dengan kinerja terbaik di dunia dengan kenaikan lebih dari 100% sepanjang tahun.
Volatilitas pasar juga meningkat tajam. Nilai transaksi di KOSPI pada perdagangan siang hari tercatat lebih dari 30% di bawah rata-rata 30 hari terakhir.
Aksi jual turut dipimpin investor asing yang membukukan penjualan bersih sekitar 4,5 triliun won atau sekitar USD 3 miliar di pasar saham Korea Selatan. Di sisi lain, investor ritel justru memanfaatkan penurunan harga untuk membeli.
