Australia Hadapi Risiko Ekonomi Imbas Populasi Menua dan Angka Kelahiran Turun

Menteri Keuangan Australia, Jim Chalmers, menyebut perekonomian negaranya menghadapi risiko serius seiring populasi yang semakin menua dan pertumbuhan penduduk yang melambat.
“Turun lebih jauh dan lebih cepat dari yang kami perkirakan bahkan tiga tahun lalu”, kata Chalmers kepada wartawan, seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (20/9).
Kementerian Keuangan Australia bakal merilis Intergenerational Report terbaru pada Senin (21/9). Laporan tersebut disusun untuk menjadi acuan kebijakan jangka panjang, dengan proyeksi kondisi ekonomi dan demografi hingga 40 tahun ke depan.
“Laporan ini akan menunjukkan bahwa ada risiko serius dalam perekonomian kita, serta tekanan serius terhadap anggaran,” kata Chalmers.
Populasi Diproyeksi Hanya 39 Juta
Populasi Australia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 28,1 juta orang. Jumlah ini diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 39 juta orang pada pertengahan 2060-an, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang mencapai lebih dari 40 juta orang.
Pada saat yang sama, angka harapan hidup juga meningkat. Harapan hidup perempuan diperkirakan mencapai lebih dari 89 tahun, sementara laki-laki sekitar 86 tahun. Angka tersebut berarti peningkatan sekitar 3 hingga 4 tahun dibandingkan tingkat saat ini.
Angka Kelahiran Capai Rekor Terendah
Berdasarkan data Australian Bureau of Statistics (ABS), total fertility rate Australia mencapai rekor terendah, yakni 1,481 kelahiran per perempuan pada 2024.
Penurunan angka kelahiran menjadi salah satu faktor yang membuat proyeksi pertumbuhan populasi Australia ke depan lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Chalmers melanjutkan, perubahan demografi akan memberikan tekanan terhadap anggaran pemerintah dalam jangka panjang.
Populasi yang semakin tua berpotensi meningkatkan kebutuhan belanja pemerintah, sementara pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja yang lebih lambat dapat membatasi pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara.
Chalmers juga mengakui Australia masih menghadapi tantangan dalam pertumbuhan produktivitas. Namun, menurut dia, perkembangan teknologi dapat membantu mengatasi sebagian tekanan.
“Artificial Intelligence akan menjadi pengaruh paling transformatif terhadap masyarakat dan perekonomian kita selama 40 tahun ke depan,” kata Chalmers.
