Kumparan Logo

Bangun Pusat Data AI, Lima Raksasa Teknologi AS Tambah Utang hingga USD 350 M

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Data Center. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Data Center. Foto: Gorodenkoff/Shutterstock

Lima raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) menggandakan beban utangnya dalam lima tahun terakhir demi membangun infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Tak tanggung-tanggung, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, Microsoft, dan Oracle secara kolektif menambah utang hingga USD 350 miliar atau sekitar Rp 6.322 kuadriliun (kurs Rp 18.065) dalam lima tahun terakhir.

Dilansir dari Bloomberg, dana itu dipakai untuk membangun pusat data (data center) AI yang diyakini bakal menjadi sumber pertumbuhan pendapatan baru di masa depan.

Meski investor masih mendukung ekspansi AI, mulai muncul kekhawatiran mengenai besarnya kebutuhan pendanaan perusahaan-perusahaan tersebut.

Ilustrasi Amazon Web Service. Foto: Shutterstock

Penerbitan obligasi senilai USD 25 miliar oleh Amazon pekan ini dilaporkan mendapat respons yang lebih dingin dibandingkan biasanya. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal bahwa pasar mulai mempertanyakan seberapa besar investasi AI masih dapat terus dibiayai.

Sepanjang 2025, beban bunga gabungan lima perusahaan tersebut telah melampaui USD 10 miliar (Rp 180 triliun) atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2019.

Namun, bagi sebagian perusahaan, biaya itu masih relatif kecil dibandingkan kemampuan menghasilkan kas. Alphabet, misalnya, membukukan arus kas bebas sebesar USD 64 miliar hingga akhir kuartal I 2026.

Di sisi lain, kondisi keuangan sejumlah perusahaan mulai menunjukkan tekanan. Arus kas bebas Amazon berubah negatif pada kuartal yang berakhir 31 Maret.

Logo perusahaan software Oracle asal Amerika Serikat. Foto: Oracle

Sementara itu, S&P Global Ratings menurunkan peringkat utang Oracle ke level investment grade terendah setelah menilai belanja AI perusahaan terus meningkat.

Analis DA Davidson Gil Luria mengatakan, model bisnis perusahaan perangkat lunak kini berubah drastis akibat besarnya kebutuhan investasi infrastruktur AI.

"Karakter bisnis perusahaan-perusahaan ini berubah sangat drastis dan terjadi secara tiba-tiba. Itulah sebabnya arus kas mereka saat ini sangat tertekan," ujarnya dikutip dari Bloomberg, Sabtu (11/7).

Meski demikian, para petinggi perusahaan teknologi tetap optimistis investasi tersebut akan menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.

CEO Amazon, Andy Jassy, mengatakan perusahaan memiliki keyakinan tinggi investasi ini bisa dimonetisasi, karena sebagian besar kapasitas baru Amazon Web Services telah mendapatkan komitmen dari pelanggan.

Ilustrasi Meta. Foto: Skorzewiak/Shutterstock

Sementara itu CEO Meta, Mark Zuckerberg, menilai permintaan terhadap kapasitas komputasi AI masih jauh melampaui pasokan.

"Hal utama yang membuat kami sangat yakin adalah bahwa terus membangun infrastruktur ini akan menjadi investasi yang baik," kata Zuckerberg.

Namun, optimisme perusahaan belum sepenuhnya diikuti investor. Sepanjang tahun ini, hanya saham Alphabet yang mampu mengungguli indeks S&P 500. Sebaliknya, saham Microsoft dan Oracle telah terkoreksi lebih dari 20%.