Kumparan Logo

IHSG Sesi I Anjlok 1,70 Persen, Imbas Ekspektasi The Fed Naikkan Suku Bunga

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Foto: ANTARA FOTO/ Wahyu Putro
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Foto: ANTARA FOTO/ Wahyu Putro

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada sesi I perdagangan Senin (14/9) ini. IHSG ditutup merosot 111,5 poin atau -1,70% ke level 6.429,88.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai kondisi ini menunjukkan RI perlu bersiap menghadapi periode harga modal global yang lebih tinggi.

“Meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, harga minyak yang kembali berada di atas USD 100 per barel, serta yield US Treasury yang mendekati 5% menunjukkan bahwa Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi periode harga modal global yang lebih tinggi,” kata Fakhrul kepada kumparan, Senin (14/9).

Menurut Fakhrul, kondisi higher-for-longer tak hanya berarti suku bunga global bertahan tinggi, tetapi juga membuka kemungkinan kenaikan bunga kembali.

“Kalau itu terjadi, tekanan terhadap emerging markets akan datang bukan hanya melalui dolar, tetapi juga melalui repricing seluruh harga modal global,” ucapnya.

Dia menilai respons kebijakan perlu disesuaikan dengan sumber tekanan yang muncul, bukan hanya mengandalkan BI Rate.

“Kalau muncul volatilitas berlebihan di pasar valas, BI dapat melakukan guardrail melalui intervensi. Kalau persoalannya structural dollar demand, pemerintah dan BI perlu memperkuat LCT, ekspor, FDI dan sumber pembiayaan eksternal lainnya. Kita jangan meminta BI Rate menyelesaikan semuanya,” ujarnya.

Federal Reserve. Foto: Shutterstock

Pasar Ekspektasi The Fed Naik 25 Bps

Sementara itu Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual, mengatakan pasar sudah memperkirakan adanya kenaikan suku bunga The Fed dalam rapat pada 16 September 2026.

“Probabilitasnya sudah 83% di pasar fed fund futures,” ungkap David.

Selain kebijakan The Fed, harga minyak yang kembali berada di atas USD 100 per barel juga menjadi perhatian karena berpotensi menekan kondisi fiskal Indonesia.

“Iya kekhawatiran juga dampaknya ke defisit APBN,” kata David.