Kumparan Logo

OJK Optimistis Target 1.100 Emiten pada 2030, Butuh 30 IPO Baru per Tahun

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai target Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memiliki 1.100 perusahaan tercatat pada 2030 dan membawa pasar modal Indonesia masuk dalam jajaran 10 bursa saham terbesar dunia masih realistis untuk dicapai.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan saat ini jumlah perusahaan tercatat di BEI telah mencapai 963 emiten. Dengan target 1.100 emiten pada 2030, diperlukan penambahan sekitar 30 perusahaan baru melalui penawaran umum perdana saham (IPO) setiap tahun.

"Saat ini perusahaan tercatat ada 963. Bila tahun 2030 ditargetkan 1100 maka ada penambahan 30-an IPO saham baru setiap tahun,” kata Hasan, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis (30/7).

Hasan menjelaskan, pertumbuhan jumlah emiten bakal berjalan seiring dengan peningkatan kapitalisasi pasar. Pada akhir 2025, kapitalisasi pasar tercatat mencapai sekitar Rp 15.000 triliun.

Menurutnya, penambahan sekitar 150 perusahaan baru hingga 2030, terutama yang memiliki kualitas fundamental baik, akan semakin meningkatkan nilai kapitalisasi pasar nasional.

"Pada akhir tahun 2025 nilai kapitalisasi pasar sekitar 15.000 Triliun. Dengan jumlah 963 perusahaan yang terus bertumbuh tentu nilai kapitalisasi pasarnya juga akan tumbuh,” kata dia.

Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Hasan melanjutkan, posisi pasar modal RI saat ini juga telah berada di kelompok 20 besar dunia berdasarkan kapitalisasi pasar dan nilai transaksi.

Karena itu, Hasan menilai target yang dicanangkan direksi baru BEI masih bisa diwujudkan selama reformasi pasar modal terus berjalan, termasuk peningkatan kualitas emiten, pendalaman pasar, transparansi, dan tata kelola.

Sebelumnya, BEI telah menargetkan 1.100 perusahaan bisa tercatat atau melakukan IPO pada 2030. Meski kini terdapat ketidakpastian global, optimisme target tersebut tetap ditegaskan.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik membuka kemungkinan untuk terus melakukan penyesuaian target tahunan seiring perkembangan situasi hingga 2030 nanti.

“Jadi, tentu untuk tahun 2030, ya, kami tetap optimis lebih dari 1.100 perusahaan akan tercatat. Tetapi dari tahun ke tahun, ya, tentu akan kita sesuaikan dengan kondisi pasar di tahun tersebut,” ujarnya dalam diskusi bersama media di Kantor BEI, Jakarta pada Senin (13/7).

Ia mengakui tahun 2026 ini kondisi pasar memang kurang kondusif. Hal ini memiliki dampak langsung pada minat perusahaan untuk melakukan IPO.

“Ya, seperti kita ketahui, di tahun 2026 ini, kan, kondisi pasar kurang kondusif. Ya, banyak uncertainty yang timbul dari kondisi global saat ini. Jadi, tentu itu juga akan mengurangi minat dari perusahaan-perusahaan untuk mencatatkan saham,” ujarnya.