Purbaya Gandeng Perusahaan Asing Siapkan Mesin Pelacak Cukai

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggandeng Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) dan perusahaan teknologi dari luar negeri untuk menerapkan sistem track and trace guna mengawasi peredaran produk hasil tembakau dan mencegah pemalsuan pita cukai.
Purbaya mengatakan teknologi itu bakal memiliki sistem digital khusus yang memungkinkan produk rokok ditelusuri asal-usulnya. Teknologi ini juga akan terhubung dengan sistem Bea Cukai Pusat.
"Jadi gini, kita sedang akan menerapkan teknologi baru. Namanya track and trace dari satu perusahaan kerja sama dengan Peruri. Nanti di situ cukainya nggak bisa dipalsu, beda lagi cukainya ada smart digital,” jelas Purbaya kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Jumat (28/8).
Menurut Purbaya, sistem baru ini bukan sekadar barcode biasa. Nantinya, informasi pada produk rokok bisa dipindai menggunakan telepon seluler untuk mengetahui asal produk dan informasi terkait lainnya.
Selain sistem digital pada produk, pemerintah juga akan memasang mesin track and trace di pabrik-pabrik rokok.
"Kita juga akan taruh mesin di pabrik-pabrik rokok besar, nanti mungkin semuanya, ya, dimonitor berapa yang diproduksi. Jadi mestinya tahu lebih itu,” sebut dia.
Purbaya berharap penerapan teknologi dapat mengurangi praktik kecurangan dalam perdagangan produk rokok dan pita cukai.
"Nanti kita lihat saja. sekarang begini, kalau nge-trace terus ke belakang, saya pusing. Saya main ke depan aja deh. Yang ke depan dengan alat itu, kelihatan, kan, yang main siapa,” kata Purbaya.
Dalam penerapan teknologi track and trace, selain Peruri, pemerintah juga melibatkan satu perusahaan dari luar negeri. Namun, Purbaya belum mengungkapkan identitas perusahaan tersebut.
"Dari luar negeri. Tapi saya belum bisa buka perusahaannya,” beber Bendahara Negara.
Terkait pembiayaan, Purbaya akan menggunakan skema pembayaran berbasis persentase tertentu dari tambahan penerimaan yang dihasilkan sistem tersebut.
Pemerintah akan menguji efektivitas sistem tersebut dalam lima tahun ke depan. Jika teknologi tersebut tidak mampu memberikan tambahan penerimaan, pemerintah akan menghentikan penggunaannya.
"Kita akan coba 5 tahun ke depan. Kalau nggak ada tambahan income, saya berhentiin,” sebutnya.
Uji Coba Mesin Track and Trace di Jawa Tengah
Purbaya menjelaskan penerapan mesin track and trace dilakukan secara bertahap karena mesin dibuat secara khusus sesuai kebutuhan.
"Kita uji coba dulu. Habis itu, kan, itu mesinnya juga itu, kan, betul-betul custom. Harus dibuat sendiri, itu perlu waktu,” terang Purbaya.
Saat ini, satu mesin telah diuji coba di Jawa Tengah. Pemerintah kemudian akan memperluas penerapannya dalam beberapa bulan ke depan.
Lebih lanjut, katanya, pemerintah menargetkan pemasangan sekitar 100 mesin dalam enam bulan dan meningkat menjadi 240 mesin dalam sembilan bulan.
"Karena kita dalam 6 bulan kalau nggak salah udah dapat berapa 100 mesin, 9 bulan tuh 240 mesin,” tutur Purbaya.
