Masker Menjadi Trend Fashion di Masa Pandemi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Tulisan dari Muhammad Syarifudin Fajirrul Ulum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Fashion adalah ekspresi seseorang untuk menunjukan eksistensi dirinya, Menurut Thomas Karlyle “Pakaian adalah perlambang dari jiwa. Pakaian tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia”. fashion tidak hanya berkaitan pada gaya berpakaian saja tetapi juga kosmetik, aksesoris, sepatu dan lain lain. Fashion tidak hanya menjadi kebutuhan saja tetapi sudah menjadi gaya hidup.

Seiring berjalannya waktu penyebaran virus Covid-19 di seluruh dunia masih terus bertambah, dilansir pada situs worldometers.info menunjukan bahwa saat ini ada 83,060,536 kasus, 1,812,050 kematian dan 58,862,045 yang sudah pulih di seluruh dunia.
Oleh karena itu masker sangat dibutuhkan oleh semua warga negara, dikutip dari website Kementrian kesehatan (kemkes.go.id) “Pada awal Juni, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk menganjurkan masyarakatnya memakai masker non medis dalam situasi dan keadaan tertentu terutama saat COVID-19. Hal tersebut merupakan sebagai bagian dari pendekatan komprehensif dalam mencegah penyebaran COVID-19.” Maka dari itu untuk mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah maka semua warga negara harus wajib menggunakan masker, baik itu face shield atau face mask guna mencegah penyebaran virus, menurut data yang tertera di situs Telunjuk.com menunjukan bahwa sejak 2 maret hingga 11 maret total penjualan masker mencapai Rp652.964.118.
Karena anjuran pemerintah mewajibkan memakai masker, maka masker dan fashion tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, para designer brand ternama tidak ingin pasrah dalam keadaan yang sulit ini, berbagai inovasi telah diciptakan untuk membuat masker bisa menjadi tren fashion di masa pandemi ini, sehingga banyak brand fashion ternama seperti Bathing Ape, Burberry, Nike, Supreme dan masih banyak brand lain yang berlomba-lomba membuat dan mendesign masker sedemikian rupa dan seunik mungkin agar tetap stylish saat digunakan.
Semua orang ingin selalu mengikuti tren, beberapa artis luar negeri dan dalam negeri juga ikut meramaikan tren fashion baru ini.
Seperti Billie Eilish saat mengenakan masker Gucci di acara Grammy Awards, walaupun ia menuai berbagai kritik dari berbagai pihak karena masker yang ia kenakan dinilai tidak fektif dalam mencegah penyebaran virus Covid-19 dan hanya memenuhi kebutuhan fashion saja, tetapi berkat dirinya masker menjadi salah satu fashion trend baru pada masa ini
Lady Gaga mengunggah foto dirinya yang bertuliskan “Be yourself, but wear a mask! I believe in being kind to yourself, the community, and the planet. I challenge my awesome friends to show off their mask! yang artinya “Jadilah dirimu sendiri, tetapi gunakan masker! Aku percaya sikap baik dirimu untuk dirimu sendiri, komunitasmu dan planetmu. Aku mengajak teman ku untuk memperlihatkan maskermu!”
Tidak hanya Billie Eilish dan Lady Gaga, penyanyi dalam negeri Raisa Andriana juga ikut meramaikan fashion trend ini.
Berbeda dengan Billie Eilish, Raisa tidak menuai kritik dari berbagai pihak, malah justru membantu pihak yang membutuhkan, yaitu dengan membeli 1 buah masker bisa menyumbang 3 masker untuk orang yang membutuhkan. Berkat Raisa, brand lokal lain pun juga ikut mendesain dan membuat masker fashion dengan ciri khas brand mereka, Seperti brand lokal bernama Humblezing, Shinning Bright, Monstore dan lain lain.
Pada maret lalu Bunga Citra Lestari dan anaknya Noah Sinclair juga ikut mengunggah dirinya menggunakan face mask lokal.
Banyaknya inovasi dari brand fashion membuat masyarakat biasa juga tidak ingin kalah dalam meramaikan masker di dunia fashion, ada banyak sekali DIY (Do It Yourself) masker yang tidak kalah unik dan fashionable seperti tie dye mask, masker rajut dan lain lain.
Selain stylish dan bisa dikreasikan, penggunaan masker kain sangat dianjurkan karena masker kain dinilai lebih ramah lingkungan dibanding masker bedah yang hanya 1 kali pakai, . Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik, perlu diketahui limbah masker sekali pakai yang dibuang ke tempat sampah merupakan limbah infeksius.
Dikutip dari situs Republika.co.id mengatakan “Pengamat lingkungan dari FPlk Institut Pertanian Bogor (IPB), Bidang Keahlian Ekotoksikologi, Etty Riani, mengatakan, limbah masker yang saat ini penggunaannya kian meningkat di masa pandemi dapat menimbulkan berbagai masalah. Di antaranya yang utama adalah ancaman faktor kesehatan jika limbah tersebut tidak dikelola dengan prosedur yang benar.
“Terkait pengelolaan limbah medis, yang dikhawatirkan adalah limbah yang berasal dari masyarakat. Banyak yang tidak paham (penanganannya), misalnya masker, mereka menggunakan sekali pakai,” ujarnya kepada Republika.co.id.
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta tercatat ada sebanyak 860 kilogram masker sekali pakai yang dibuang selama masa pandemi ini. Oleh karena itu penting bagi kita untuk tidak hanya menjaga kesehatan kita tetapi juga kesehatan lingkungan.
