Konten dari Pengguna

Lautan Putih di Haul Solo 115: Ketika Haul Solo Bukan Sekadar Tradisi

Muhammad Thoha Alfaridzi

Muhammad Thoha Alfaridzi

Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Thoha Alfaridzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Haul Solo ke-115 Kembali Dipadati Jamaah dari Berbagai Penjuru Dunia : Peringatan Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Surakarta

Dokumentasi Pribadi Penulis; Rangkaian haul solo
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi Penulis; Rangkaian haul solo

SOLO – kembali berubah menjadi lautan putih. Jamaah dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari mancanegara, tumpah ruah mengikuti Haul Solo ke-115, peringatan wafatnya Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, pengarang kitab maulid Simthud Durar. Puncak haul digelar Sabtu, 3 Oktober 2026, pukul 09.00 WIB, dan Maulid di gelar Minggu 4 Oktober 2026 Ba'da Subuh, disiarkan langsung melalui Akun Sosial Media resmi Masjid Riyadh Solo.

Ribuan jamaah kembali memadati kawasan Pasar Kliwon, Surakarta. Pakaian putih terlihat memenuhi jalan, masjid, dan sudut-sudut kampung. Mereka datang dari berbagai daerah, bahkan dari berbagai negara, untuk menghadiri Haul Solo ke-115, peringatan Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi di Masjid Riyadh.

Bagi sebagian orang, pemandangan tersebut mungkin hanya terlihat sebagai keramaian tahunan. Namun, bagi saya, lautan manusia yang berkumpul di Solo ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: bagaimana sebuah tradisi keagamaan mampu bertahan, diwariskan, dan terus menemukan tempat di tengah perubahan zaman.

Haul bukan hanya tentang mengenang seseorang yang telah wafat. Di dalamnya terdapat perjumpaan, doa, silaturahmi, dan proses pewarisan nilai dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Di tengah hiruk-pikuk Kota Solo yang semakin modern, kawasan Pasar Kliwon seolah berubah menjadi ruang pertemuan bagi berbagai latar belakang. Jamaah datang dengan tujuan yang sama, tetapi membawa cerita perjalanan yang berbeda-beda.

Bagi saya, justru di sinilah menariknya Haul Solo. Keramaian yang muncul setiap tahun bukan sekadar persoalan jumlah jamaah. Ia menjadi gambaran bahwa tradisi keagamaan masih memiliki daya hidup dan mampu mempertemukan manusia dalam satu ruang kebersamaan.

Tiga Rangkaian Acara

Berdasarkan jadwal resmi panitia, rangkaian Haul Solo 2026 terdiri atas tiga acara utama:

Rauhah, 30 September–2 Oktober 2026, ba'da Ashar

Puncak Haul, 3 Oktober 2026, pukul 09.00 WIB

Maulid, 4 Oktober 2026, ba'da Subuh

Pada rauhah, dibacakan nasihat-nasihat Habib Ali. Puncak haul diisi manakib, qasidah, tausiyah, dan doa bersama. Pembacaan Maulid Simthud Durar menutup seluruh rangkaian, lalu para peziarah melanjutkan ziarah ke makam keturunan Habib Ali di sisi selatan masjid. Jamaah yang pulang juga disuguhi hidangan khas haul, nasi kebuli dengan olahan daging kambing.

Dari Hadramaut ke Solo

Haul Solo berakar dari perjalanan dakwah keluarga Habib Ali. Beliau adalah ulama besar asal Hadramaut, Yaman, yang wafat pada 1913 M. Putranya, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, hijrah ke Nusantara dan menetap di Solo, lalu mendirikan Masjid Riyadh. Nama itu sama dengan masjid yang didirikan sang ayah di Hadramaut. Sejumlah sumber menyebut masjid ini berdiri sekitar tahun 1916.

Dakwah Habib Alwi dilanjutkan putranya, Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi. Menurut cucu Habib Ali, Mustofa Mulachela, sebagaimana dikutip Republika, Habib Anislah yang pertama kali menggelar haul Habib Ali di Masjid Riyadh. Habib Anis wafat pada 2006, dan penyelenggaraan haul diteruskan para keturunan beliau.

Terus Tumbuh dari Tahun ke Tahun

Dari majelis yang awalnya sederhana, Haul Solo kini menjadi salah satu pertemuan keagamaan terbesar di Indonesia. Pada 2014, Republika melaporkan jalan utama di sekitar masjid ditutup karena pengunjung membeludak, dan NU Online mencatat puluhan ribu jamaah hadir. Pada 2018, panitia menyebut haul ini sudah masuk kalender event Pemerintah Kota Surakarta. Kini, menurut Indonesia Travel, Haul Solo menarik ratusan ribu peziarah dari berbagai belahan dunia.

Pertumbuhan ini tidak lepas dari sejumlah hal:

  1. Siaran langsung yang menjangkau dunia. Dengan live streaming di kanal resmi Masjid Riyadh Solo, jamaah yang tak bisa hadir tetap bisa mengikuti acara dari rumah. Banyak yang kemudian bertekad hadir langsung pada tahun berikutnya.

  2. Dukungan pemerintah dan warga. Haul yang masuk kalender event kota membuat pengaturan lalu lintas, keamanan, dan layanan publik semakin terkoordinasi.

  3. Khidmah relawan dan masyarakat. Ribuan relawan dan warga sekitar menyiapkan makanan, parkir, kebersihan, dan penginapan bagi tamu.

  4. Ekonomi yang bergerak. Pedagang, pelaku UMKM, dan penginapan di sekitar lokasi ikut merasakan manfaatnya, sehingga haul menjadi agenda yang ditunggu masyarakat luas.

  5. Cinta yang diwariskan lintas generasi. Banyak jamaah datang bersama anak dan cucu, sehingga tradisi ini terus bertambah penerusnya.

Kisah di Balik Khidmah

Di balik kelancaran acara, ada kisah khidmah yang kerap dituturkan para relawan. Habib Ali semasa hidupnya dikenal sangat memuliakan tamu, gemar memberi makan orang banyak, dan menyayangi umat. Karena itu, siapa pun yang mengambil peran sebagai khadim (pelayan) dalam haul beliau dipandang sedang menyambung amalan mulia sang shohibul haul.

Banyak relawan dan warga setempat bersaksi bahwa setelah lelah lahir batin mencurahkan tenaga, waktu, dan harta untuk menyukseskan haul, mereka merasakan ketenangan hati, kesehatan, dan kelancaran rezeki sepanjang tahun berikutnya. Mereka memegang prinsip Ahlu Wafa, bahwa Allah tidak membiarkan hamba-Nya rugi setelah memuliakan para kekasih-Nya. (Catatan: ini testimoni dan keyakinan para relawan, bukan klaim yang bisa diukur.)

Pesan dari Majelis

Dalam haul kali ini, Habib Jindan bin Novel bin Jindan mengingatkan agar hadir di majelis tidak berhenti pada kehadiran fisik. "Yang dilihat adalah apa yang berubah setelah kita pulang," pesan inti beliau. Jamaah diingatkan agar tidak rajin ke haul tetapi meninggalkan shalat Dhuha, wirid, dan ibadah harian. Ilmu harus berujung pada amal, rida Allah lebih utama daripada rida manusia, dan mencintai orang saleh dibuktikan dengan mengikuti jalan hidup mereka, bukan sekadar menyebut nama dan merasa dekat. Habib Jindan juga mengajak jamaah menjadikan nasihat sebagai bahan introspeksi, bukan alat menilai kekurangan orang lain.

Pesan lain datang dari Ustadzah Aisyah Farid binti Syekh Abu Bakar bin Salim, yang menyampaikan perkataan Habib Ali tentang maulid karyanya. Maulid itu menjadi salah satu pegangan bagi orang yang belum mengenal nabinya. Beruntunglah orang yang bisa duduk di majelisnya, sebab majelis itu selalu dalam perhatian Rasulullah.

Harapan ke Depan

Dengan jamaah yang terus bertambah, panitia dan masyarakat berharap Haul Solo terus berjalan tertib, aman, dan membawa manfaat luas. Bagi yang belum pernah hadir, Haul Solo mendatang adalah kesempatan untuk merasakan majelis yang telah berjalan lebih dari satu abad. Bagi yang pernah hadir, ajaklah keluarga, sahabat, dan tetangga, karena nikmat majelis akan terasa lebih lengkap jika dibagi.

Seperti pesan yang disampaikan di haul tahun ini, ukuran keberhasilan sebuah haul bukan hanya banyaknya jamaah yang datang, melainkan seberapa banyak kebaikan yang dibawa pulang dan diamalkan.

Haul Solo ke-115 akhirnya bukan hanya tentang siapa yang hadir dan seberapa ramai acaranya. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi akan tetap hidup ketika nilai-nilai di dalamnya terus dipahami, dijalankan, dan diwariskan oleh generasi setelahnya.