Konten dari Pengguna

Menjaga Lisan di Tengah Dunia yang Bising: Pesan Habib Umar bin Hafidz

Muhammad Thoha Alfaridzi

Muhammad Thoha Alfaridzi

Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta

·waktu baca 16 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Thoha Alfaridzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi majelis ilmu — dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi majelis ilmu — dibuat menggunakan AI.

Pernahkah kita menyesali perkataan yang terlanjur diucapkan? Mungkin hanya satu kalimat sederhana, tetapi tanpa disadari kata-kata tersebut mampu melukai perasaan orang lain. Tidak jarang, persoalan yang awalnya kecil justru berkembang menjadi pertengkaran hanya karena seseorang tidak mampu mengendalikan lisannya.

Di tengah perkembangan zaman, manusia semakin mudah mengungkapkan isi pikirannya. Media sosial memberikan ruang bagi siapa saja untuk berbicara, berpendapat, bahkan mengomentari kehidupan orang lain. Namun, kemudahan tersebut terkadang membuat kita lupa bahwa setiap perkataan memiliki tanggung jawab.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu pelajaran menarik dari kajian Dars Fajar bersama Al-Habib Umar bin Hafidz, sebagaimana terangkum dalam sejumlah catatan dan cuplikan kajian yang dibagikan melalui media sosial pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Kajian yang membahas ajaran akhlak dalam kitab Qami' al-Thughyan karya Syekh Nawawi Al-Bantani tersebut mengingatkan pentingnya menjaga lisan, mengendalikan hawa nafsu, berkata jujur, menjaga amanah, dan memperbaiki hubungan antarmanusia.

Pesan-pesan tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan saat ini. Sebab, di tengah dunia yang semakin ramai dengan berbagai pendapat, kemampuan menjaga perkataan justru menjadi salah satu sikap yang paling sulit dilakukan.

Menjaga Lisan, Salah Satu Bentuk Kesempurnaan Akhlak

Salah satu pesan utama yang terdapat dalam catatan kajian adalah bahwa menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim. Manusia sering kali menganggap berbicara sebagai hal sederhana. Padahal, setiap ucapan dapat membawa seseorang menuju kebaikan ataupun keburukan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengajarkan bahwa sebelum berbicara, seseorang sebaiknya mempertimbangkan manfaat dan akibat dari perkataannya. Apabila ucapan tersebut mengandung kebaikan, maka tidak ada salahnya disampaikan. Namun, apabila berpotensi menimbulkan keburukan, memilih diam dapat menjadi keputusan yang lebih bijaksana.

Dalam catatan kajian juga dijelaskan bahwa orang yang menjaga lisannya akan lebih mudah menjaga anggota tubuh lainnya dari perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Hal ini menunjukkan bahwa menjaga lisan bukan hanya tentang bagaimana seseorang berbicara, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan dirinya sendiri.

Al-Qur'an dalam Surah Qaf ayat 18 mengingatkan:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat."

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap perkataan manusia berada dalam pengawasan Allah SWT. Tidak ada ucapan yang benar-benar lepas dari pertanggungjawaban, baik perkataan yang disampaikan secara langsung maupun melalui tulisan.

Dua Hal yang Banyak Menjerumuskan Manusia ke Neraka

Dalam kajian tersebut juga disampaikan sebuah hadis mengenai dua hal yang banyak menyebabkan manusia masuk ke dalam neraka, yaitu lisan dan kemaluan.

Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Beliau menjawab bahwa perkara tersebut adalah ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak yang baik. Ketika ditanya mengenai hal yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka, beliau menjawab bahwa perkara tersebut adalah mulut dan kemaluan. (HR. Tirmidzi).

Pesan ini memperlihatkan bahwa manusia perlu berhati-hati terhadap perkataan dan perilakunya. Terkadang seseorang mampu menahan diri dari perbuatan buruk yang terlihat, tetapi belum tentu mampu menahan ucapan yang keluar ketika dirinya sedang marah atau kecewa.

Dalam kajian juga terdapat peringatan mengenai perkataan yang dianggap sepele, tetapi dapat membawa akibat buruk bagi kehidupan seseorang. Bahkan, ucapan yang tidak dijaga dapat menjadi salah satu sebab yang dikhawatirkan mengantarkan manusia kepada su'ul khatimah, yaitu akhir kehidupan yang tidak baik.

Karena itu, menjaga lisan perlu menjadi kebiasaan yang terus dilatih. Tidak cukup hanya menghindari perkataan kasar, tetapi juga menghindari kebohongan, fitnah, penghinaan, dan ucapan yang dapat merusak hubungan dengan sesama manusia.

Belajar dari Nasihat Imam Syafi'i: Berpikir Sebelum Berbicara

Dalam salah satu catatan kajian terdapat nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Syafi'i mengenai pentingnya mempertimbangkan perkataan sebelum mengucapkannya.

Nasihat tersebut mengajarkan bahwa apabila seseorang ingin berbicara, hendaknya ia terlebih dahulu memikirkan apakah perkataannya akan membawa manfaat. Jika ucapan tersebut baik, maka sampaikanlah. Namun, apabila mengandung keburukan atau menimbulkan keraguan, sebaiknya ia menahan diri.

Pesan ini terasa semakin penting dalam kehidupan modern. Saat ini, seseorang dapat dengan mudah menuliskan komentar di media sosial tanpa berpikir panjang. Bahkan, tidak sedikit orang yang ikut menyebarkan informasi hanya karena merasa tertarik dengan judul atau isi unggahan tertentu.

Padahal, belum tentu informasi tersebut benar.

Sering kali kita merasa harus memberikan tanggapan terhadap segala sesuatu. Kita ingin menjadi orang pertama yang berkomentar, memberikan penilaian, atau menyampaikan pendapat. Namun, terkadang kita lupa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Diam bukan berarti seseorang tidak memiliki pendapat. Dalam keadaan tertentu, diam justru menunjukkan bahwa seseorang memiliki kemampuan mengendalikan emosi dan memahami situasi.

Tidak semua persoalan harus diperdebatkan. Tidak semua kesalahan orang lain harus diumumkan. Begitu pula tidak semua perkataan yang menyakitkan harus dibalas dengan perkataan yang sama.

Bahaya Lisan dan Kebiasaan Mengucapkan Perkataan Buruk

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Abu Hamid Al-Ghazali membahas berbagai bahaya lisan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa. Pembahasan tersebut mencakup dua puluh jenis bahaya lisan, di antaranya perkataan yang tidak bermanfaat, dusta, mencaci, menghina, menggunjing, dan mengadu domba.

Kebohongan menjadi salah satu perilaku yang perlu diwaspadai. Sekali seseorang terbiasa berbohong, kepercayaan orang lain terhadap dirinya dapat semakin berkurang.

Selain kebohongan, ucapan yang digunakan untuk menghina dan melaknat orang lain juga merupakan perilaku tercela.

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai perbuatan melaknat seorang mukmin. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, melaknat seorang mukmin diibaratkan seperti membunuhnya.

Tentu, perumpamaan tersebut menunjukkan betapa seriusnya tindakan melaknat seseorang, meskipun dilakukan hanya melalui perkataan.

Dalam catatan kajian juga disampaikan bahwa manusia tidak semestinya membiasakan diri mencaci maki sesama muslim, manusia lainnya, maupun makhluk ciptaan Allah SWT.

Peringatan tersebut mengajarkan bahwa akhlak yang baik seharusnya diterapkan secara luas, bukan hanya kepada orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita.

Bayangkan apabila setiap orang terbiasa mempertimbangkan perkataannya sebelum berbicara. Barangkali akan ada lebih sedikit pertengkaran, kesalahpahaman, dan hubungan persaudaraan yang rusak akibat ucapan yang tidak dipikirkan sebelumnya.

Empat Hal yang Perlu Dijaga agar Terhindar dari Perbuatan Buruk

Selain menjaga lisan, catatan kajian juga memuat pembahasan mengenai pentingnya mengendalikan anggota tubuh dan hawa nafsu.

Manusia memiliki keinginan dan dorongan yang dapat mengarah kepada kebaikan maupun keburukan. Oleh sebab itu, diperlukan kemampuan mengendalikan diri agar tidak mudah terjerumus ke dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT.

Disebutkan ada empat hal yang perlu dijaga, yaitu mata, mulut, perut, serta hati dan pikiran.

Menjaga mata berarti berusaha menghindari pandangan yang dilarang dan dapat menimbulkan keinginan untuk melakukan kemaksiatan. Menjaga mulut berarti mengendalikan setiap ucapan agar tidak digunakan untuk berdusta, mencela, atau menyakiti orang lain.

Sementara itu, menjaga perut berkaitan dengan kehati-hatian terhadap makanan dan sesuatu yang dikonsumsi agar tidak berasal dari hal yang dilarang. Menjaga hati dan pikiran berarti berusaha menghindari prasangka buruk, keinginan tercela, serta pikiran yang dapat mendorong seseorang melakukan perbuatan dosa.

Dalam salah satu ringkasan kajian juga terdapat peringatan mengenai kebiasaan membayangkan keindahan lawan jenis yang dapat membangkitkan syahwat dan mendorong seseorang mendekati perbuatan zina.

Pesan tersebut dapat dipahami sebagai ajakan untuk lebih berhati-hati dalam mengendalikan pikiran dan keinginan.

Sebab, tidak semua perbuatan buruk terjadi secara tiba-tiba. Terkadang, perilaku tersebut bermula dari pandangan, pikiran, atau keinginan yang terus dibiarkan berkembang tanpa pengendalian diri.

Kejujuran dan Kesungguhan sebagai Dasar Kehidupan

Pembahasan lain yang terdapat dalam kajian adalah mengenai kejujuran dan kesungguhan dalam berbuat baik.

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 119:

**يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ**

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur)."

Ayat tersebut mengajarkan pentingnya kejujuran dalam kehidupan. Kejujuran bukan hanya terlihat dari kemampuan seseorang mengatakan sesuatu sesuai kenyataan, tetapi juga melalui kesesuaian antara niat, ucapan, dan perbuatannya.

Dalam catatan kajian dijelaskan bahwa kesungguhan atau sidq memiliki makna yang luas. Keikhlasan merupakan bagian dari kesungguhan, tetapi kesungguhan tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang telah mencapai keikhlasan yang sempurna.

Kesungguhan dapat terlihat melalui beberapa tingkatan. Tingkatan pertama adalah kesungguhan dalam perkataan. Pada tingkatan ini, seseorang berusaha selalu berbicara dengan jujur dan tidak menyampaikan kebohongan.

Tingkatan kedua adalah kesungguhan dalam perbuatan, yaitu ketika seseorang membuktikan niat baik melalui tindakan nyata. Sementara itu, tingkatan ketiga adalah kesungguhan dalam keadaan batin, ketika seseorang mampu menjaga keselarasan antara hati, ucapan, dan perbuatannya.

Seseorang mungkin dapat mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi pribadi yang baik. Namun, keinginan tersebut tidak memiliki arti apabila tidak diikuti dengan perubahan perilaku.

Begitu pula ketika seseorang mengaku peduli terhadap orang lain, tetapi masih sering merendahkan dan membicarakan keburukan mereka.

Oleh sebab itu, kesungguhan seharusnya tidak berhenti sebagai ucapan. Kesungguhan perlu diwujudkan melalui tindakan dan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.

Keikhlasan, Riya, dan Sifat Ujub

Dalam kajian juga disampaikan bahwa orang yang benar-benar ikhlas tidak menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama dari amal perbuatannya.

Keikhlasan berkaitan dengan niat seseorang dalam melakukan kebaikan. Ketika seseorang berbuat baik hanya untuk mendapatkan pengakuan dan kekaguman orang lain, niat tersebut dapat bercampur dengan sifat riya.

Riya merupakan perilaku memperlihatkan amal dengan tujuan memperoleh pujian dari manusia. Sementara itu, ujub merupakan sikap merasa kagum atau membanggakan kelebihan dan amal perbuatannya sendiri.

Kedua sifat tersebut perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi ketulusan seseorang dalam berbuat baik.

Di era media sosial, persoalan ini semakin menarik untuk direnungkan. Tidak sedikit aktivitas kebaikan yang kemudian dibagikan melalui unggahan foto atau video.

Membagikan kegiatan positif tentu tidak selalu berarti riya. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah niat di balik tindakan tersebut.

Apakah seseorang membagikan kebaikan untuk menginspirasi orang lain, atau justru semata-mata ingin memperoleh pujian?

Pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab dengan kejujuran terhadap diri sendiri.

Hakikat kesungguhan sebagaimana disampaikan dalam catatan kajian adalah perpaduan antara kekuatan, tekad, semangat, ucapan, dan perbuatan dalam menjalankan kebaikan serta menaati perintah Allah SWT.

Dengan demikian, kesungguhan dan keikhlasan menjadi dua sikap yang saling berkaitan dalam membentuk akhlak seorang muslim.

Menjaga Amanah, Menjaga Kepercayaan Orang Lain

Amanah menjadi pembahasan penting lainnya dalam kajian Dars Fajar tersebut.

Amanah dapat dipahami sebagai kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang untuk dilaksanakan dengan baik. Bentuknya tidak selalu berupa harta atau barang, tetapi juga dapat berupa rahasia, pekerjaan, janji, maupun tugas yang harus dipenuhi.

Dalam kehidupan sehari-hari, menjaga amanah sebenarnya dapat dimulai dari hal sederhana.

Ketika seseorang mempercayakan rahasianya kepada kita, tidak menyebarkan rahasia tersebut merupakan bentuk amanah. Ketika diberikan tugas, menyelesaikannya secara bertanggung jawab juga termasuk sikap amanah.

Begitu pula ketika seseorang berjanji untuk melakukan sesuatu. Janji tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai ucapan biasa yang dapat dilupakan begitu saja.

Dalam kajian, menjaga amanah dikaitkan dengan ketakwaan kepada Allah SWT. Seseorang yang diberikan kepercayaan hendaknya melaksanakan tanggung jawab tersebut karena kesadaran bahwa segala perbuatannya akan dipertanggungjawabkan.

Dalam kajian, juga memuat kisah mengenai seseorang yang memberikan maaf kepada orang yang telah melakukan pembunuhan. Dikisahkan bahwa korban memberikan pesan agar pelakunya dimaafkan, kemudian pihak keluarga memberikan maaf dari tuntutan qisas.

Kisah tersebut mengandung pesan moral yang dapat dijadikan pelajaran berharga dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pentingnya menumbuhkan sikap pemaaf, mengendalikan emosi, serta menjaga hati agar tidak dikuasai oleh kebencian dan dendam terhadap sesama.

Memaafkan bukanlah perkara mudah, terutama ketika seseorang mengalami kerugian atau perlakuan yang sangat menyakitkan. Namun, ajaran tentang memaafkan mengingatkan manusia agar tidak membiarkan kebencian terus menguasai hati.

Keutamaan Membaca Surah Al-Ikhlas

Dalam kajian juga terdapat pembahasan mengenai keutamaan membaca Surah Al-Ikhlas.

Surah Al-Ikhlas merupakan salah satu surah pendek dalam Al-Qur'an yang mengandung penegasan tentang keesaan Allah SWT. Meskipun terdiri atas empat ayat, surah tersebut memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam.

disampaikan bahwa membaca surah Al-Ikhlas sebanyak 11 kali setelah salat fardu memiliki keutamaan yang besar. Berdasarkan riwayat yang disebutkan dalam kajian, Allah SWT akan membangunkan sebuah istana di surga bagi orang yang mengamalkannya. Keterangan ini disebut berasal dari kitab Qami'ut Thughyan karya Syekh Nawawi.

Berkaitan dengan hal tersebut, Sayyidina Umar bin Khattab dikisahkan pernah berkata, “Ini perkara mudah. Kalau begitu, bukankah banyak istana-istana kita?” Rasulullah SAW kemudian disebut menjelaskan bahwa karunia Allah jauh lebih besar daripada amal yang dilakukan manusia. Hal ini menggambarkan betapa luasnya kemurahan Allah SWT dalam memberikan pahala kepada hamba-Nya.

Selain itu, dalam kajian tersebut juga dijelaskan bahwa membaca surah Al-Ikhlas satu kali memiliki keutamaan pahala yang setara dengan membaca sepertiga Al-Qur'an.

Dari pesan tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa ibadah tidak selalu harus berupa amalan yang berat atau sulit dilakukan. Amalan sederhana, seperti membaca surah Al-Ikhlas, juga memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT apabila dilakukan dengan hati yang ikhlas. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk terus memperbanyak amal kebaikan, menjaga keikhlasan dalam beribadah, dan tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun.

Doa Penutup Majelis: Mengakui Kesalahan dan Memohon Ampunan

Salah satu bagian yang menyentuh dari rangkaian cuplikan tersebut adalah pembacaan doa penutup majelis.

Doa yang dikenal dengan bacaan Ya Rabbana I'tarafna ini berisi pengakuan manusia atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Di dalamnya juga terdapat permohonan agar Allah SWT menerima taubat, menutupi aib, memberikan keselamatan, serta mengampuni keluarga dan seluruh kaum muslimin.

Bacaan Doa dalam Bahasa Arab

يَا رَبَّنَا اعْتَرَفْنَا بِأَنَّنَا اقْتَرَفْنَا

وَأَنَّنَا أَسْرَفْنَا عَلَى لَظَى أَشْرَفْنَا

فَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً تَغْسِلُ كُلَّ حَوْبَةٍ

وَاسْتُرْ لَنَا الْعَوْرَاتِ وَآمِنِ الرَّوْعَاتِ

وَاغْفِرْ لِوَالِدِينَا رَبِّ وَمَوْلُودِينَا

وَالْآلِ وَالْإِخْوَانِ وَسَائِرِ الْخِلَّانِ

وَكُلِّ ذِي مَحَبَّةٍ أَوْ جِيرَةٍ أَوْ صُحْبَةٍ

وَالْمُسْلِمِينَ أَجْمَعْ آمِينَ رَبِّ اسْمَعْ

فَضْلًا وَجُودًا مَنًّا لَا بِاكْتِسَابٍ مِنَّا

بِالْمُصْطَفَى الرَّسُولِ نَحْظَى بِكُلِّ سُؤْلٍ

صَلَّى وَسَلَّمَ رَبِّي عَلَيْهِ عَدَّ الْحَبِّ

وَآلِهِ وَالصَّحْبِ عَدَدَ طَشِّ السُّحْبِ

وَالْحَمْدُ لِلْإِلَهِ فِي الْبَدْءِ وَالتَّنَاهِي

Makna Doa dalam Bahasa Indonesia

Ya Allah, Tuhan kami, sesungguhnya kami mengakui bahwa kami telah banyak melakukan dosa dan kesalahan. Kami menyadari bahwa kami sering kali melampaui batas dan melakukan perbuatan yang tidak Engkau ridai, hingga mendekatkan diri kami kepada siksa neraka.

Oleh karena itu, kami memohon kepada-Mu agar Engkau menerima taubat kami. Terimalah taubat yang dapat membersihkan seluruh dosa yang pernah kami lakukan, baik yang disengaja maupun yang terjadi karena kelalaian kami.

Ya Allah, tutupilah segala aib dan kekurangan kami. Lindungilah kami dari ketakutan, keburukan, dan segala sesuatu yang dapat membahayakan kehidupan kami. Janganlah Engkau membiarkan kami terus berada dalam kesalahan dan kebodohan yang menjauhkan kami dari rahmat-Mu.

Ampunilah kedua orang tua kami yang telah merawat, mendidik, dan membesarkan kami. Ampunilah pula anak-anak kami, keluarga kami, saudara-saudara kami, serta seluruh orang yang memiliki hubungan persaudaraan dan kasih sayang dengan kami.

Ya Allah, berikanlah ampunan kepada tetangga-tetangga kami, sahabat-sahabat kami, dan seluruh kaum muslimin. Limpahkanlah kasih sayang-Mu kepada mereka semua dan kabulkanlah permohonan yang kami panjatkan.

Ya Allah, sesungguhnya kami menyadari bahwa segala kebaikan yang kami peroleh merupakan karunia dan kemurahan-Mu. Bukan semata-mata karena kemampuan atau usaha kami sendiri, melainkan karena rahmat yang Engkau berikan.

Dengan kemuliaan Nabi Muhammad SAW, Rasul pilihan-Mu, kami berharap agar segala permohonan baik yang kami panjatkan dapat Engkau kabulkan.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak bilangan biji-bijian yang tidak terhitung jumlahnya. Limpahkan pula shalawat dan salam kepada keluarga serta para sahabat beliau sebanyak curahan hujan yang turun dari awan.

Segala puji hanya bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, dari awal hingga akhir segala sesuatu.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Makna yang Dapat Dipetik dari Doa Tersebut

Doa tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak pernah terlepas dari kesalahan. Setiap orang memiliki kekurangan, baik dalam perkataan, tindakan, maupun niat yang tersimpan di dalam hati.

Terkadang kita merasa telah melakukan banyak kebaikan, tetapi lupa bahwa masih ada perkataan yang menyakiti orang lain. Kita mungkin rajin menjalankan ibadah, tetapi belum sepenuhnya mampu mengendalikan emosi atau menjaga kepercayaan yang diberikan.

Melalui doa tersebut, manusia diajak untuk kembali menyadari keterbatasannya dan tidak merasa lebih baik daripada orang lain.

Menariknya, permohonan ampunan tidak hanya ditujukan untuk diri sendiri, tetapi juga bagi orang tua, keluarga, sahabat, tetangga, dan seluruh umat Islam.

Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan beragama juga berkaitan dengan kepedulian terhadap orang lain. Ketika seseorang memohon kebaikan untuk dirinya, ia juga diajarkan untuk mendoakan kebaikan bagi sesamanya.

Menjadi Manusia yang Lebih Baik Dimulai dari Diri Sendiri

Dari keseluruhan pesan yang terdapat dalam kajian tersebut, ada satu hal yang patut direnungkan: memperbaiki diri sendiri sering kali lebih sulit daripada menilai kesalahan orang lain.

Kita mungkin mudah menasihati orang lain agar berbicara dengan santun, tetapi masih kesulitan menahan perkataan ketika sedang marah. Kita juga dapat mengingatkan orang lain tentang pentingnya kejujuran, tetapi terkadang belum mampu mengakui kesalahan sendiri.

Hal serupa berlaku dalam menjaga amanah. Kita ingin dipercaya oleh banyak orang, tetapi belum tentu selalu mampu menjaga kepercayaan yang telah diberikan.

Padahal, akhlak yang baik tidak terbentuk hanya melalui pengetahuan. Akhlak membutuhkan kebiasaan, latihan, kesadaran, dan kesungguhan untuk memperbaiki diri.

Menjaga lisan dapat dimulai dengan mengurangi perkataan yang tidak bermanfaat. Kejujuran dapat dilatih melalui keberanian mengakui kesalahan. Kesungguhan dapat dibuktikan melalui tindakan nyata, sedangkan amanah dapat dijaga dengan memenuhi tanggung jawab yang telah dipercayakan.

Begitu pula dengan keikhlasan. Seseorang dapat mulai belajar melakukan kebaikan tanpa selalu mengharapkan pengakuan atau pujian dari orang lain.

Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, apabila dilakukan secara konsisten, kebiasaan kecil dapat memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang.

Jadi, Sudahkah Kita Benar-Benar Menjaga Lisan?

Pada akhirnya, menjaga lisan bukan hanya tentang kemampuan memilih diam, melainkan tentang kesadaran untuk bertanggung jawab atas setiap perkataan.

Di tengah kehidupan yang semakin ramai dengan berbagai perdebatan, kita sering kali merasa perlu memberikan komentar terhadap setiap persoalan. Seolah-olah setiap hal harus ditanggapi dan setiap perbedaan harus diperdebatkan.

Padahal, tidak semua perkataan membawa manfaat dan tidak semua perdebatan menghasilkan kebaikan.

Terkadang, seseorang justru menunjukkan kebijaksanaannya ketika mampu menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang dapat menyakiti orang lain.

Kita tentu tidak dapat mengendalikan seluruh perkataan orang di sekitar kita. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk mengendalikan perkataan sendiri.

Kita juga tidak dapat memaksa semua orang bersikap jujur, menjaga amanah, atau memiliki akhlak yang baik. Akan tetapi, kita dapat memulai semuanya dari diri sendiri.

Ilmu yang diperoleh melalui sebuah kajian seharusnya tidak berhenti sebagai catatan atau pengetahuan semata. Ilmu tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui perkataan, tindakan, maupun cara memperlakukan sesama manusia.

Sebab, ukuran keberhasilan seseorang dalam mempelajari akhlak bukan hanya seberapa banyak nasihat yang mampu dihafalkan, tetapi seberapa jauh nasihat tersebut diwujudkan dalam perilaku.

Kajian Dars Fajar bersama Al-Habib Umar bin Hafidz, menjadi pengingat bahwa perjalanan memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Selama manusia masih memiliki kesempatan untuk hidup, selalu ada ruang untuk belajar menjaga perkataan, memperbaiki kesalahan, menunaikan amanah, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Barangkali, sebelum kita sibuk menilai perkataan dan perilaku orang lain, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk dijawab: sudahkah perkataan kita hari ini memberikan ketenangan bagi orang lain, atau justru meninggalkan luka yang tidak terlihat?

Karena pada akhirnya, tidak semua kebaikan harus disampaikan melalui banyak kata. Ada kalanya kebaikan justru lahir dari kemampuan untuk diam, memahami, dan menjaga perasaan sesama.

Catatan penulis:

  1. Artikel ini merupakan tulisan reflektif yang disusun berdasarkan pemahaman dan sudut pandang penulis terhadap cuplikan kajian Dars Fajar bersama Al-Habib Umar bin Hafidz yang dibagikan melalui media sosial pada 11 Oktober 2026. Isi tulisan ini merupakan hasil pemaknaan penulis terhadap pesan-pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

  2. Untuk Lebih Lengkapnya bisa di lihat di Link Berikut : https://www.youtube.com/live/PgaJCfOZGRw?si=yMeMtRJCaV9S5jOE