Fenomena Elitisme di Kalangan Penikmat Film

mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Deedad Rusaranha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena elitisme di kalangan penikmat film memperlihatkan bahwa selera tontonan terkadang berkaitan dengan identitas dan cara seseorang ingin dipandang oleh lingkungan sosialnya.
Pengetahuan tentang sinema patut diapresiasi karena dapat membantu seseorang memahami karya dari berbagai perspektif. Tetapi, pengetahuan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menganggap selera orang lain lebih rendah.
Seseorang boleh menikmati film populer karena ceritanya menghibur, sementara orang lain memilih film klasik karena tertarik pada nilai artistiknya. Keduanya memiliki alasan yang sah dalam menikmati tontonan.
"menjadi penikmat film tidak harus dibuktikan melalui daftar tontonan yang bergengsi atau kemampuan menyebutkan nama sutradara ternama"
Kemampuan mengapresiasi karya juga tercermin dari keterbukaan terhadap perspektif berbeda dan kesediaan menghargai pilihan orang lain.
Menonton film seharusnya menjadi ruang untuk menikmati cerita dan memahami perspektif baru. Tapi, di tengah beragamnya selera penonton, film terkadang menjadi simbol status yang membuat sebagian orang merasa lebih unggul daripada yang lain.
Ketika Selera Film Menjadi Ukuran Kualitas Diri
Film memiliki beragam genre yang menawarkan pengalaman berbeda bagi penontonnya. Ada yang menyukai film aksi dan komedi untuk hiburan, sementara yang lain memilih film dengan cerita kompleks karena tertarik pada pesan filosofis atau aspek sinematografinya.
Tapi, perbedaan selera terkadang memunculkan anggapan bahwa film tertentu lebih berkualitas daripada yang lain. Penggemar film klasik atau independen, misalnya, bisa saja menganggap film populer terlalu sederhana dan kurang berbobot.
Padahal, menikmati film tidak selalu harus berkaitan dengan kerumitan cerita atau seberapa terkenal sutradaranya. Film sederhana juga dapat menyampaikan pesan mendalam, sedangkan film dengan narasi kompleks belum tentu berhasil menarik perhatian setiap penonton.
Apakah film yang sulit dipahami otomatis lebih berkualitas? Tidak selalu. Kualitas film dapat dinilai dari berbagai aspek, mulai dari cerita, akting, sinematografi, hingga cara sutradara menyampaikan gagasan.
Media Sosial dan Budaya Merasa Paling Paham Film
Media sosial memberikan ruang bagi penonton untuk membagikan ulasan, rekomendasi, dan pendapat mengenai film. Namun, dalam situasi tertentu, platform ini juga menjadi tempat seseorang membangun citra diri melalui selera tontonan.
Film yang jarang dikenal bisa dianggap lebih berkelas, sementara film populer terkadang diremehkan karena dianggap terlalu komersial. Akibatnya, pengetahuan tentang sutradara, genre, atau film klasik dapat digunakan untuk menunjukkan identitas sebagai penonton yang dianggap lebih berpengalaman.
Meski demikian, membagikan film yang kurang dikenal atau menulis ulasan mendalam bukan berarti seseorang bersikap elitis. Persoalannya terletak pada bagaimana pengetahuan tersebut digunakan, apakah untuk memperluas wawasan bersama atau justru merendahkan orang lain.
Media sosial pada akhirnya dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus tempat munculnya persaingan untuk mendapatkan pengakuan sosial.
