Padel: Olahraga atau FOMO?

mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Deedad Rusaranha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era modern sekarang Media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam membuat padel menjadi sangat populer, Seperti komunitas olahraga, selebgram, bahkan influencer bermain padel, yang dimana membuat padel semakin dikenal dan menarik perhatian banyak orang. Kondisi ini membuat padel tidak hanya dipandang sebagai olahraga, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup.
Popularitas tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan: apakah masyarakat benar-benar tertarik pada padel sebagai olahraga, atau hanya mengikuti tren yang sedang berkembang?
Media Sosial dan Popularitas Padel
Media sosial memiliki peran besar dalam membuat padel semakin populer. Unggahan teman, influencer, hingga figur publik yang memperlihatkan aktivitas bermain padel membuat olahraga ini semakin dikenal dan menarik perhatian banyak orang. Lapangan padel yang ramai, perlengkapan olahraga yang menarik, serta momen kebersamaan setelah bermain menjadi bagian dari konten yang sering dijumpai di media sosial.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa popularitas suatu olahraga tidak selalu berkembang hanya karena manfaat kesehatan atau aktivitas fisik yang ditawarkan. Paparan konten di media sosial juga dapat memengaruhi ketertarikan seseorang untuk mencoba aktivitas yang sama. Ketika padel semakin sering muncul di linimasa, sebagian orang mungkin merasa penasaran, tertarik untuk mencoba, atau bahkan merasa perlu ikut bermain agar tidak tertinggal dari tren yang sedang berlangsung.
Namun, apakah semua orang yang mencoba padel karena melihatnya di media sosial dapat disebut mengalami FOMO? Belum tentu. Media sosial juga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan olahraga baru dan mendorong masyarakat agar lebih aktif secara fisik. Seseorang mungkin menemukan padel melalui media sosial, tetapi kemudian benar-benar menyukai olahraga tersebut karena manfaat dan pengalaman yang ditawarkan.
Persoalannya bukan sekadar dari mana seseorang mengenal padel, melainkan alasan yang membuatnya terus bermain. Apakah ia bermain karena menikmati aktivitasnya, atau hanya karena ingin mengikuti apa yang sedang populer?
Antara Minat Pribadi dan Keinginan Mengikuti Tren
Di balik popularitas padel, muncul pertanyaan tentang alasan seseorang memutuskan untuk bermain. Ada orang yang tertarik karena ingin menjaga kebugaran, mempelajari olahraga baru, atau menghabiskan waktu bersama teman. Namun, ada pula kemungkinan seseorang tertarik karena melihat lingkungan pergaulannya ramai bermain padel dan tidak ingin merasa tertinggal.
Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut melewatkan pengalaman yang sedang dinikmati orang lain. Dalam konteks ini, seseorang mungkin terdorong mencoba padel bukan semata-mata karena menyukai olahraganya, melainkan karena ingin menjadi bagian dari tren dan lingkungan sosial yang sedang berkembang.
Apakah mengikuti tren selalu berarti seseorang tidak memiliki minat pribadi? Jawabannya juga belum tentu. Minat seseorang dapat muncul setelah ia mencoba sesuatu yang awalnya hanya dilakukan karena ajakan teman atau pengaruh tren. Dalam hal ini, tren justru dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan hobi baru.
Sebaliknya, seseorang juga perlu menyadari apakah keputusan bermain padel benar-benar berasal dari keinginan sendiri. Jika seseorang merasa harus bermain agar diterima dalam pergaulan, takut dianggap ketinggalan, atau terus mengeluarkan biaya meskipun tidak menikmatinya, kondisi tersebut dapat mengarah pada FOMO.
Padel sebagai Ruang Sosialisasi
Salah satu daya tarik padel adalah sifatnya yang sosial. Permainan ini umumnya dilakukan secara berpasangan atau berkelompok, sehingga pemain dapat berinteraksi dengan teman maupun orang baru. Bagi sebagian orang, aspek sosial tersebut justru menjadi alasan utama untuk bermain.
Padel tidak hanya menawarkan manfaat fisik, tetapi juga kesempatan untuk membangun relasi. Aktivitas bermain sering dilanjutkan dengan berbincang atau berkumpul bersama. Karena itu, padel dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang menggabungkan olahraga, hiburan, dan pergaulan.
Namun, apa aspek sosial tersebut mengurangi nilai padel sebagai olahraga? Tidak juga. Olahraga tidak selalu harus dilakukan secara individual, Selama seseorang tetap melakukan aktivitas fisik dan memperoleh manfaat kesehatan, unsur sosial dalam padel justru dapat meningkatkan motivasi untuk berolahraga secara rutin.
Pertanyaan kontranya adalah: jika seseorang bermain padel terutama untuk bertemu teman, apakah ia masih dapat disebut berolahraga? Jawabannya bergantung pada aktivitas yang dilakukan. Meskipun motivasinya bersifat sosial, seseorang tetap melakukan gerakan fisik, menggunakan energi, dan memperoleh manfaat dari aktivitas tersebut. Motivasi sosial tidak otomatis menghilangkan nilai olahraga.
Mengikuti Tren: Masalah atau Kesempatan?
Mengikuti tren tidak selalu berarti sesuatu yang negatif. Tren dapat memperkenalkan seseorang pada aktivitas yang sebelumnya tidak pernah ia pertimbangkan. Dalam kasus padel, tren dapat mendorong masyarakat untuk mencoba olahraga baru, bergerak lebih aktif, dan menemukan lingkungan sosial yang positif.
Mencoba padel karena ajakan teman atau pengaruh media sosial juga tidak selalu menunjukkan FOMO. Seseorang dapat memulai karena penasaran, kemudian menemukan bahwa olahraga tersebut sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Dalam situasi seperti ini, tren berfungsi sebagai pemicu awal, bukan satu-satunya alasan untuk terus bermain.
Meski demikian, mengikuti tren dapat menjadi masalah apabila dilakukan tanpa pertimbangan. Biaya sewa lapangan, perlengkapan, dan frekuensi bermain perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Seseorang juga perlu mempertimbangkan apakah aktivitas tersebut benar-benar memberikan kepuasan atau hanya dilakukan demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan.
