Konten dari Pengguna

Memasak, Kemampuan Dasar yang Cukup Penting Dimiliki Semua Orang

Muhammad Iqbal Habiburrohim

Muhammad Iqbal Habiburrohim

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Iqbal Habiburrohim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Skill memasak tidak melihat gender. Sumber : pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Skill memasak tidak melihat gender. Sumber : pexels.com

Perdebatan mengenai memasak yang mengarah ke stereotip gender sudah menjamur di Indonesia. Banyak suara di luar sana mengatakan bahwa seorang perempuan harus pandai di urusan dapur dan seorang laki-laki seringkali diragukan maskulinitasnya apabila memiliki kemampuan yang berhubungan dengan memasak.

Kemudian, banyak kubu muncul menanggapi persoalan ini seperti kubu yang nggak setuju bahwa perempuan dieksploitasi haknya apabila dipaksa untuk bisa memasak, lalu ada pula kubu yang berpendapat bahwa laki-laki tidak perlu memiliki kemampuan memasak, serta pendapat-pendapat lainnya.

Menurut saya, memasak adalah kemampuan mendasar yang perlu dimiliki oleh semua orang dan tanpa memandang gender. Perempuan yang bisa masak menjadi nilai plus dan laki-laki yang bisa memasak pun tidak memalukan sama sekali.

Lihat saja kompetisi MasterChef Indonesia yang jurinya terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan. Kalau memasak hanya dibatasi berdasarkan gender, seharusnya ketiga juri ya laki-laki semua atau kalau nggak perempuan semua, bukan?

embed from external kumparan

Saya setuju bahwa kita semua berhak memilih apa yang kita inginkan, entah itu ingin belajar memasak atau tidak tertarik mempelajari memasak sama sekali pun tidak ada masalah, tetapi memasak sebenarnya adalah kemampuan dasar yang diperlukan semua orang.

Kemampuan di sini bukan berarti kalian harus sejago Chef Juna atau Chef Renata, lho! Cukup mengerti dasar-dasar memasak seperti bumbu dapur, menggoreng, menumis, dan memotong pun sebenarnya sudah termasuk cukup baik untuk orang awam seperti kita.

Tidak perlu membawa alasan eksploitasi atau maskulinitas untuk urusan semacam ini karena memang tidak ada yang perlu merasa dipaksa atau merasa dipermalukan hanya karena satu kegiatan. Memasak memang bukan satu kemampuan primer yang harus dimiliki semua orang, tetapi mempelajari dasar-dasar memasak memang sangat worth untuk dicoba.

Tidak bergantung kepada orang lain

Kalau kita mengotak-ngotakkan kemampuan ini berdasarkan gender, seorang laki-laki yang menganggap bahwa belajar masak adalah hal yang tidak penting, maka mereka akan selalu bergantung untuk dimasakkan oleh orang lain. Padahal, selalu digambarkan sebagai pribadi yang mandiri dan gentle, bukankah hal tersebut berarti sebaliknya? Kalau urusan perut masih bergantung kepada orang lain, bukannya ini malah situasi yang pas untuk mempertanyakan maskulinitas yang dibangga-banggakan itu?

Begitu juga dengan perempuan, memasak bukan berarti membuat kalian dieksploitasi haknya. Kalian pun tidak perlu takut dianggap dianggap lemah atau semacamnya hanya karena kemampuan memasak kalian.

Anggap saja memasak adalah sebuah nilai plus yang membuat kalian semua, entah cowok atau cewek bisa lebih leluasa dalam memilih masakan yang kalian inginkan. Kalian tidak perlu menunggu lebih lama untuk bisa menghilangkan rasa lapar yang melanda perut kalian.

Lebih hemat

Berhubung saya memegang prinsip hemat dan saya juga nggak punya privilege seperti uang lebih, saya harus pintar-pintar mengelola pengeluaran agar tetap bisa makan di akhir bulan. Apabila setiap hari saya harus meminta uang terus ke keluarga, ya saya cuma jadi beban keluarga saja. Apalagi penghasilan saya juga nggak seberapa karena masih duduk di bangku kuliah.

Memasak sendiri bisa lebih menghemat pengeluaran karena saya nggak perlu jajan ketika berada dari luar rumah. Cukup lihat apa yang bisa dimanfaatkan di rumah dan kita pun bisa langsung meracik ramuan bumbu yang sesuai dengan selera kita sendiri. Bahan yang paling sering ada di rumah biasanya nasi sisa yang sangat cocok digunakan untuk memasak nasi goreng. Kalau lagi beruntung, kita bisa nambah topping seperti bakso atau sosis yang belum sempat dipakai.

Siap menghadapi situasi darurat

Entah kapan, kita tidak pernah tahu akan menghadapi situasi darurat seperti apa. Situasi yang paling sering saya alami adalah saya ditinggal di rumah sendirian. Biasanya saya dibekali dengan banyak stok mi instan sebagai makanan yang bisa saya santap pada situasi semacam itu. Akan tetapi, tidak mungkin juga saya bakal menyantap makanan instan selama seminggu berturut-turut.

Paling nggak dengan kemampuan dasar memasak, kita bisa membeli sedikit bahan yang nggak mahal seperti tahu, tempe atau sayur-sayuran seperti kangkung yang nantinya bisa ditumis atau dioseng. Jika setiap hari memesan fried chicken atau nasi padang melalui ojek online bisa-bisa tidak hanya pencernaan yang protes karena menumpuknya zat yang tidak baik untuk tubuh, tapi dompet juga protes karena uang di dalamnya diambil terus-menerus.

Terakhir, saya tetap tidak bisa memaksa bagaimana kehendak kalian. Akan tetapi, menurut saya memasak adalah satu skill yang cukup worth untuk dicoba dan dikuasai walaupun hanya dasar.

Bagaimana sudah mulai tertarik belajar memasak?