Mahasiswa Sederhana Bernama Moh Faiq Afifudin

Sastra Indonesia - Universitas Pamulang - Jangan menduga, caraku berbeda.
Konten dari Pengguna
8 Maret 2023 14:22
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Rojak Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Moh Faiq Afifudin. Foto: Dokumentsi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Moh Faiq Afifudin. Foto: Dokumentsi Pribadi.
Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit menceritakan seorang mahasiswa teladan di Universitas Pamulang yang bernama Moh Faiq Afifudin. Rasanya senang saja saya melihat cara ia menempuh pendidikan dengan semangatnya, dan yang sangat saya kagumkan adalah ia yang sibuk seperti itu mampu membuat buku novel.
Moh Faiq atau yang sering dipanggil Faiq, dengan penampilan sederhananya mampu merangkul banyak sekali mahasiswa. Dengan awal semester ia menjabat sebagai kepala divisi himpunan mahasiswa, ia selalu aktif dalam mencampuri berbagai acara. Selain itu Faiq juga menjabat ketua kelas, tepatnya di ruangan atau kelas saya sendiri.
Perjalanan pendidikan Faiq yang sederhana membuat saya sadar, bahwa untuk serius dalam menempuh pendidikan itu sebenarnya susah-susah gampang. Namun setelah saya bertanya banyak sekali dengannya, dengan sangat heran ia menjawab sedikit dari pertanyaan saya dengan "pendidikan itu salah satu kewajiban dan tanggung jawab".
Dengan motor tua sebagai alat transportasinya, Faiq tidak pernah mengeluh akan kesulitan dengan kendaraannya. Meskipun terkadang perjalanan menuju kampusnya selalu terhalang karena sering mogok dan sebagainya, karena motor tua yang pasti banyak sekali cobaannya. Namun Faiq tidak pernah sedikit pun mengeluh akan hal itu.
Lanjut saya bertanya dengannya, bagaimana ia bisa membuat buku novel dengan sempurna? Jawabnya, ceritakan saja semua perjalanan kamu sampai sejauh-jauhnya. Dengan itu menurutnya akan lebih mudah dalam membuat buku novel sepertinya, meskipun yang saya tahu untuk membuat novel itu harus sesuai dengan kaidahnya.
Tentunya saya terkagum-kagum akan hal itu, dengan ia yang tidak pernah membicarakan tentang novel lalu ia mengabarkan telah menulis dua novel dengan adanya ISBN. Sejak saya tahu itulah Faiq, dan ternyata ia juga telah membuat dua buku novel, saya pun terinspirasi untuk semangat dalam mempelajari Sastra Indonesia.
Dengan kita dilatih untuk mengenal sebuah novel, tentu kita pun dilatih untuk bisa membuat novel. Dengan berbagai teori dan praktik, tentu saya semakin ingin tahu bagaimana novel itu bisa terbit dengan sempurna. Dengan alur cerita penuh tanda tanya, rasanya membuat saya semakin penasaran bagaimana makna novel itu sendiri.
Faiq, dengan kerendahannya mampu menciptakan sebuah karya yang belum mampu orang lain lakukan. Dengan semangat ia menempuh pendidikan, rasanya saya ingin sekali sepertinya. Namun sampai saat ini saya pun masih belum mampu untuk membuat sedikit pun karya sepertinya, dengan saya yang mencoba untuk bisa menjadi sepertinya.
Bangga dan terkesan, itulah yang saya rasakan saat berada bersama Faiq di kantin. Banyak yang perlu saya pelajari darinya, banyak sekali yang saya belum kuasai sejauh ini. Namun dengan semangat Faiq membuat saya ingin juga untuk menjadi sepertinya, dengan keadaan yang sederhana ia mampu membuat karya yang sangat luar biasa.
Sempat saya berpikir untuk diri sendiri, mengapa saya terlalu sibuk memikirkan hal yang tidak penting. Lantas sejauh ini saya banyak sekali ketertinggalan untuk menggapai impian, yang sangat saya inginkan justru terkikis bahkan terlupakan karena kesibukan yang tidak penting akan sesuatu hal yang saya sendiri pun tidak mengerti.
Kesadaran dan keinginan mulai tumbuh setelah saya bertanya banyak sekali ke Faiq, dengan jawaban sederhana ia mampu mengubah pola pikir saya yang berantakan. Meskipun terkadang membuat saya sedikit kesal dengan sifatnya yang emosional, yang juga sering sekali membuat saya gagal paham akan hal itu terhadapnya.
Untuk itu, saya berterima kasih sekali dengannya telah menyadarkan saya yang sejauh ini keliru. Semoga dengan ia yang sederhana, ia mampu mewujudkan semua mimpinya. Dengan sangat yakin, suatu saat ia pasti menjadi orang hebat. Akhir kata, mohon maaf apabila tulisan cerita kali ini sedikit membahas seorang Moh Faiq Afifudin.
Saya sangat rindu mawar, "salam satu aspal, nikmat sehat nikmat rejeki untuk kita semua". Amin