Konten dari Pengguna

Guru Bukan Content Creator, Tapi Kenapa Harus Kalah Menarik?

Muhammad Saputra

Muhammad Saputra

Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Pendidikan Ekonomi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ini menunjukkan bahwa perbedaan cara penyampaian materi sangat menentukan minat belajar siswa bukan materinya yang berubah, tetapi bagaimana guru menyajikannya agar tidak kalah menarik dari dunia digital. Sumber gambar ini di ambil dari : https://chatgpt.com/s/m_69eb20b001148191a8104dd8770cccb1
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini menunjukkan bahwa perbedaan cara penyampaian materi sangat menentukan minat belajar siswa bukan materinya yang berubah, tetapi bagaimana guru menyajikannya agar tidak kalah menarik dari dunia digital. Sumber gambar ini di ambil dari : https://chatgpt.com/s/m_69eb20b001148191a8104dd8770cccb1

Tulisan ini merupakan pandangan penulis terhadap tantangan inovasi media pembelajaran di era digital. Hari ini, perhatian menjadi “mata uang” paling mahal dalam pendidikan. Masalahnya, ruang kelas sering kalah bersaing. Bukan karena siswa malas belajar, tetapi karena pembelajaran tidak lagi berbicara dengan bahasa zaman mereka. Siswa hidup dalam dunia yang cepat, visual, dan interaktif. Mereka terbiasa memahami sesuatu dalam hitungan detik, bukan menit. Sementara di kelas, waktu seakan berjalan mundur ceramah panjang, slide penuh teks, dan minim pengalaman. Di titik ini, yang gagal bukan siswanya, tapi cara kita menyampaikan ilmu. Di sinilah ironi itu muncul: guru tidak dituntut menjadi content creator, tetapi dihadapkan pada realitas yang menuntut hal serupa menarik, relevan, dan mampu mempertahankan perhatian. Jika tidak, pembelajaran hanya akan terdengar, tapi tidak benar-benar diterima. Inovasi media pembelajaran bukan soal ikut tren, melainkan soal bertahan. Komik edukatif, video kreatif, storytelling, hingga gamifikasi bukan sekadar variasi, tetapi strategi agar belajar kembali hidup. Ketika siswa merasa terlibat, di situlah pemahaman tumbuh. Namun, kita juga harus jujur: tidak semua guru diberi ruang untuk berinovasi. Beban administrasi, keterbatasan fasilitas, dan minimnya pelatihan membuat inovasi terasa seperti tuntutan tanpa dukungan. Ini bukan sekadar masalah individu, tetapi sistem. Jika kondisi ini terus dibiarkan, sekolah akan perlahan kehilangan relevansinya. Siswa akan tetap belajar, tetapi bukan dari kelas melainkan dari dunia luar yang lebih menarik dan responsif. Akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah guru harus menjadi kreatif, tetapi apakah sistem pendidikan siap memberi mereka kesempatan untuk itu. Karena di era ini, perhatian bukan sekadar pelengkap pembelajaran melainkan pintu masuknya.