Konten dari Pengguna

Amanah Intelektual: Jalan Sunyi Kader IMM

A Mujahidin

A Mujahidin

Pegiat Literasi. Mahasiswa Prodi ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. "Cobalah lebih serius untuk tidak serius"

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari A Mujahidin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. pribadi// Kader IMM Cabang Ciputat.
zoom-in-whitePerbesar
Dok. pribadi// Kader IMM Cabang Ciputat.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi teknologi digital saat ini, kehidupan intelektual mahasiswa mengalami pergeseran yang cukup drastis. Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi. Literasi yang sering didengungkan sebagai fondasi utama pembentukan karakter dan intelektual bangsa, tidak lagi menjadi perhatian utama hari ini. Aktivitas membaca buku dan menulis karya ilmiah semakin tergeser oleh scroll media sosial dan budaya konsumsi informasi yang sangat cepat. Di sinilah peran organisasi mahasiswa seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menjadi sangat relevan dan strategis dalam merekonstruksi problem tersebut.

IMM bukan hanya organisasi kader, melainkan juga ruang peradaban dan laboratorium pemikiran. Dalam konteks keummatan dan kebangsaan, IMM memiliki tanggung jawab moral untuk membangun generasi intelektual muslim yang berkarakter, progresif, dan berwawasan luas. Salah satu jalur utamanya adalah melalui penguatan budaya literasi.

IMM dan Jejak Intelektualnya

Sejak didirikan pada 14 Maret 1964, IMM telah mewariskan semangat intelektualisme yang kental. IMM lahir dari rahimnya Muhammadiyah dengan semangat untuk menyatukan nilai-nilai keislaman dan keilmuan. Dalam buku "Anak-anak Sang Surya" karya Ahmad Syafii Maarif, disebutkan bahwa IMM menjadi tulang punggung regenerasi intelektual dalam tubuh Muhammadiyah. Maka tak heran jika banyak tokoh intelektual Muslim Indonesia lahir dari rahim IMM, seperti Amien Rais, Syafii Maarif, dan Din Syamsuddin. Mereka adalah contoh kader yang tidak hanya pandai berorganisasi, tetapi juga tajam dalam gagasan dan kuat dalam literasi.

Namun, dalam perjalanannya, kita harus jujur melihat realitas hari ini. Banyak kader IMM yang terjebak dalam rutinitas struktural belaka. Diskusi mulai jarang digelar, buletin komisariat tidak lagi terbit, dan budaya membaca di kalangan kader mulai memudar dan terkikis. Ini adalah sinyal bahwa IMM harus segera melakukan reorientasi dan revitalisasi gerakan literasi.

Makna Literasi dalam Konteks IMM

Literasi dalam perspektif IMM tidak hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi mencakup kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif terhadap kondisi sosial, politik, dan keagamaan. Literasi harus menjadi jalan dakwah intelektual yang mencerahkan umat dengan kata lain literasi adalah ruh gerakan dan pergerakan IMM. Dalam konteks ini, semangat literasi di IMM memiliki tiga dimensi yaitu:

1. Literasi Kognitif: Penguatan wawasan keilmuan kader melalui membaca buku, diskusi ilmiah, kajian tematik, dan forum intelektual.

2. Literasi Sosial: Kemampuan kader untuk memahami realitas masyarakat dan menjawabnya melalui gagasan dan gerakan sosial.

3. Literasi Aksi: Mewujudkan gagasan dalam bentuk tulisan, karya, dan advokasi yang terukur dan berdampak .

Tantangan Literasi Kader IMM

Tantangan utama literasi di kalangan kader IMM bukan hanya persoalan akses terhadap buku atau media baca/pustaka, tetapi lebih pada aspek kesadaran dan kemauan. Di era digital ini, informasi begitu melimpah, tetapi tidak semuanya mengandung nilai. Kecenderungan konsumsi informasi dangkal melalui media sosial menjadikan kader lebih reaktif daripada reflektif. Selain itu, tantangan struktural di internal IMM juga perlu menjadi perhatian. Tidak adanya sistem kaderisasi yang secara khusus memuat kurikulum literasi membuat kader kehilangan arah dan metode dalam mengembangkan kapasitas intelektualnya. Dalam banyak kasus, kader lebih sibuk mengurus agenda seremonial daripada membangun basis intelektual yang kokoh.

Revitalisasi Semangat Literasi: Jalan Keluar

Menghidupkan kembali semangat literasi di IMM harus dimulai dari kesadaran kolektif bahwa literasi adalah bagian dari ruh perjuangan organisasi. Adapun beberapa langkah konkret yang bisa diambil antara lain:

  1. Mendirikan Rumah Literasi IMM di setiap komisariat sebagai pusat aktivitas baca, tulis, dan diskusi.

  2. Membentuk Kelas Menulis Kader, baik esai, opini, maupun karya ilmiah populer yang bisa dimuat di media massa.

  3. Mengaktifkan Buletin/majalah Komisariat, baik cetak maupun digital, sebagai media ekspresi kader-kader.

  4. Mengintegrasikan Literasi dalam Kurikulum Perkaderan, terutama di Darul Arqam Dasar (DAD).

  5. Mengundang Tokoh-tokoh Intelektual IMM untuk menjadi mentor literasi bagi kader muda.

IMM dan Amanah Intelektual Umat

IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam harus menyadari bahwa mereka membawa amanah ganda yaitu amanah intelektual dan amanah keummatan. Literasi adalah alat untuk menjawab kedua amanah itu. Dengan literasi, kader IMM mampu membaca zaman, menulis solusi, dan menjadi motor perubahan di tengah masyarakat. Dalam bukunya "Islam Berkemajuan: Narasi Inklusif Muhammadiyah" (2016), Haedar Nashir menyebutkan bahwa dakwah Muhammadiyah hari ini menuntut kader yang mampu berpikir terbuka, inklusif, dan berbasis ilmu pengetahuan. Maka, kader IMM tidak cukup hanya semangat bergerak, tetapi juga harus cakap dalam berwacana. Artinya eksistensi IMM sangat penting dalam rahimnya muhammadiyah yaitu dalam menjaga amanah mencerdaskan umat. Dengan diksi lain, Literasi bukan aksesoris dalam gerakan dan pergerakan IMM, melainkan jantungnya.