Konten dari Pengguna

Embun Es di Dieng: Antara Eksotika Wisata dan Nestapa Petani

Muji Setiyo

Muji Setiyo

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena pembentukan embun es di Dieng dan efeknya bagi pertanian (Sumber: Dokumentasi Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Fenomena pembentukan embun es di Dieng dan efeknya bagi pertanian (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Dataran Tinggi Dieng kembali menyambut pagi dengan permukaan tanah yang berkilau seperti disiram serpihan salju. Suhu yang turun hingga di bawah nol derajat Celsius menciptakan fenomena tahunan yang langka: embun upas, atau embun upas yang menyelimuti tanaman dan rerumputan.

Bagi wisatawan, momen ini adalah keajaiban. Banyak yang rela bangun sebelum fajar, menembus udara dingin demi menyaksikan keindahan alami yang tak biasa di negeri tropis. Kamera para pelancong sibuk membidik kristal es di pucuk daun, sementara unggahan media sosial membanjiri tagar #Dieng dan #EmbunUpas.

Pariwisata pun bergairah. Homestay penuh, warung-warung ramai, dan penjual suvenir menikmati panen rezeki musiman. Pemerintah daerah menyambut antusiasme ini dengan berbagai event untuk mendongkrak kunjungan.

Namun di balik lensa kamera dan senyum wisatawan, ada cerita lain yang membeku di ladang-ladang kentang milik petani lokal.

Embun yang Cantik, Tapi Membunuh Tanaman

Bagi para petani, embun upas bukanlah berkah, melainkan ancaman. Tanaman hortikultura terutama kentang tumbuh subur di lahan tinggi Dieng terancam layu terkena suhu beku.

Secara ilmiah, kerusakan ini dapat dijelaskan dengan sederhana: saat embun membeku di permukaan daun, air di dalam jaringan sel tanaman ikut membeku. Dan karena air mengembang saat membeku (anomali air), dinding-dinding sel tanaman pecah, menyebabkan jaringan rusak dan tanaman mati perlahan.

“Kalau semalam suhunya ekstrem, bisa satu petak langsung rusak semua. Padahal baru seminggu lalu sehat-sehat,” keluh seorang petani yang kami temui di ladangnya.

Kerugian materiil tak main-main. Dan sayangnya, sebagian besar petani tidak punya teknologi penyelamat. Mereka hanya bisa pasrah pada cuaca.

Saatnya Sains dan Teknologi Turun Tangan

Fenomena ini membuka ruang diskusi yang lebih luas: di mana peran inovasi?

Dieng butuh solusi yang lebih dari sekadar doa petani atau promosi wisata. Diperlukan sentuhan teknologi terapan, hasil riset akademik, dan pendekatan kearifan lokal yang menyatu. Misalnya:

  • Apakah bisa dikembangkan greenhouse murah yang menjaga suhu malam tetap stabil?

  • Adakah material penutup yang tetap transparan untuk fotosintesis, tapi tahan dingin ekstrem?

  • Mungkinkah petani didorong untuk beralih ke varietas tanaman tahan beku melalui rekayasa genetika atau perbaikan kultur?

  • Atau mungkinkah teknologi prediksi cuaca mikro dan sistem peringatan dini bisa digunakan lebih praktis di tingkat petani?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya untuk peneliti dan mahasiswa, tapi juga untuk kita semua yang peduli pada keadilan ekologi: bisakah keindahan alam dinikmati tanpa mengorbankan penghidupan petani?

Jalan Tengah: Ekowisata yang Memberdayakan

Dieng adalah contoh nyata bagaimana satu fenomena alam bisa menjadi sumber ekonomi sekaligus tantangan ekologi. Maka, diperlukan pendekatan bijak agar wisata tidak meninggalkan luka di lahan pertanian.

kumparan post embed

Salah satu langkah strategis adalah memadukan program ekowisata dengan edukasi publik. Wisatawan tak hanya datang untuk berfoto, tapi juga belajar bagaimana es merusak tanaman, bahkan ikut menanam, mengenal siklus panen, dan menyumbang bagi petani. Kampus dan lembaga riset bisa turun tangan dalam merancang teknologi adaptif yang tak mahal dan tak rumit.

Dapatkan versi videonya di:

muji.blog.unimma.ac.id