Fouling di Pipa Balik Geothermal Dieng, Bagaimana Bisa Terbentuk?

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lapisan kerak atau fouling pada pipa balik sistem panas bumi di Dieng menjadi perhatian serius. Masalah yang tampak sepele ini bisa berdampak besar pada efisiensi pembangkit listrik geothermal.
Saat melewati kawasan Dieng pada 20 Juli 2025, saya melihat adanya lapisan tebal di bagian dalam pipa balik, pipa yang mengalirkan air kondensasi kembali ke kolam penampungan setelah melewati turbin. Inilah yang disebut fouling: endapan mineral seperti silika atau karbonat yang menempel di dinding pipa akibat proses fisikokimia. Sebagai dosen yang mengampu mata kuliah yang berhubungan dengan rekayasa sistem thermal di Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA), saya tertarik untuk berhenti dan kemudian mengamati fenomena tersebut.
Awalnya, diameter pipa tampak normal. Namun seiring waktu, kerak terbentuk dan menyempitkan aliran. Alhasil, laju air melambat, tekanan kerja meningkat, dan efisiensi sistem pun menurun. Jika dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan gangguan pada pompa hingga penurunan kinerja pembangkit secara keseluruhan.
Masalah fouling ini umum terjadi di sistem panas bumi, tapi belum banyak dibahas secara terbuka. Padahal, dampaknya nyata. Fouling pada pipa balik berbeda dari fouling di pipa uap; keduanya punya karakteristik endapan dan dampak teknis masing-masing.
Fenomena ini bisa menjadi tantangan sekaligus peluang riset, terutama di bidang teknik mesin, teknik kimia, dan energi terbarukan. Pertanyaannya: bagaimana cara membersihkan kerak di pipa? Apakah perlu material pelapis anti-endapan, rekayasa aliran baru, atau metode pembersihan berkala berbasis sensor?
Dengan kapasitas energi geothermal Indonesia yang besar, efisiensi sistem adalah kunci. Dan fouling, meski tersembunyi, tidak boleh dianggap remeh.
Dapatkan versi videonya di:
