Konten dari Pengguna

Garam dari Daratan: Fenomena Unik Sumur Asin di Desa Jono, Grobogan

Muji Setiyo

Muji Setiyo

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses pengambilan air dari sumur garam di Desa Jono, Kabupaten Grobogan (Foto: Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Proses pengambilan air dari sumur garam di Desa Jono, Kabupaten Grobogan (Foto: Penulis)

Siapa bilang garam hanya bisa diproduksi di pesisir? Di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, ada fenomena unik yang membuat banyak orang terheran-heran: sumur air asin di tengah daratan yang mampu menghasilkan garam.

Pada umumnya, garam dihasilkan dari laut melalui proses penguapan air laut. Namun, di Desa Jono, warga setempat memanfaatkan sumur yang mengeluarkan air asin dan panas. Air inilah yang kemudian menjadi bahan baku pembuatan garam. “Bukan dari laut, tapi dari bebatuan yang mengandung garam. Tanahnya di sini warnanya kuning,” jelas Pak Sasminto, salah seorang petani garam asal desa tersebut.

Air asin dari sumur ditampung terlebih dahulu, lalu dialirkan ke kelakah. Di lahan ini, air dibiarkan menguap perlahan di bawah terik matahari. Prosesnya memakan waktu sekitar dua minggu hingga terbentuk kristal garam yang siap dipanen. Menurut warga, hasil garam lebih baik jika lahan ditutup selama proses penguapan, karena jika dibiarkan terbuka, kualitas bisa menurun atau bahkan rusak.

Meski metode tradisional, garam yang dihasilkan cukup diminati. Umumnya, garam dipasarkan dalam kemasan kiloan dan dijual melalui para bakul yang datang langsung dari desa. Rasanya asin pekat, bahkan air asinnya disebut terasa “panas” ketika menyentuh kulit. Warga percaya, kandungan mineral di dalamnya berbeda dari garam laut biasa.

video youtube embed

Tantangan utama produksi garam daratan ini adalah musim hujan. Saat hujan deras datang, kelakah tergenang dan proses penguapan tidak bisa dilakukan. Meski begitu, pada musim kemarau, produksi bisa berjalan lancar dan menjadi sumber penghidupan tambahan bagi warga desa.

Fenomena sumur asin di Grobogan ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga kekayaan alam yang menarik. Bagaimana mungkin, di tengah daratan yang jauh dari pesisir, masyarakat bisa memproduksi garam yang kualitasnya tidak kalah dengan garam laut? Inilah keistimewaan Desa Jono, tempat garam lahir bukan dari ombak, melainkan dari perut bumi.

kumparan post embed

muji.blog.unimma.ac.id