Jangan Asal Pilih Pengharum Mobil, Bentuknya Bisa Memengaruhi Udara di Kabin

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengharum mobil mungkin membuat kabin terasa lebih segar. Namun, ketika mobil diparkir di bawah terik matahari, bentuk pengharum yang digunakan ternyata dapat memengaruhi konsentrasi partikel di udara kabin.
Bagi sebagian orang, pengharum mobil sudah menjadi bagian dari kenyamanan berkendara. Ada yang memilih pengharum berbentuk cair, gel, maupun padat. Namun, apa yang terjadi pada pengharum tersebut ketika mobil ditinggalkan dalam kondisi tertutup dan terpapar panas matahari?
Pertanyaan sederhana itu menjadi dasar sebuah penelitian yang dilakukan untuk melihat pengaruh formulasi pengharum mobil terhadap konsentrasi partikel udara di dalam kabin.
Mobil dipanaskan matahari selama tiga jam
Penelitian dilakukan menggunakan Daihatsu Gran Max Pick-Up tahun 2015 dengan mesin bensin 1.495 cc. Kendaraan ditempatkan di area terbuka Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Magelang dengan pintu dan jendela tertutup. Empat kondisi dibandingkan, yaitu kabin tanpa pengharum sebagai kontrol, pengharum cair Pink Blossom, pengharum gel Flower Nectar, dan pengharum padat Spring Bougainvillea. Pengukuran dilakukan setiap 30 menit selama tiga jam, dari pukul 10.00 hingga 13.00 WIB.Yang menarik, suhu kabin meningkat cukup tinggi. Dalam kondisi terpapar matahari langsung, temperatur kabin dapat mencapai sekitar 44–50°C. Sementara itu, kelembapan relatif turun hingga sekitar 32–40 persen. Kondisi tersebut penting karena panas dapat mempercepat pelepasan senyawa dari material pengharum.
Pengharum cair menghasilkan partikel paling tinggi
Hasil pengukuran menunjukkan adanya perbedaan konsentrasi partikel udara di antara keempat kondisi. Untuk partikel berukuran 0,3 mikrometer, konsentrasi maksimum yang terukur adalah:
Tanpa pengharum: 64.072 partikel/L
Pengharum cair: 100.089 partikel/L
Pengharum gel: 93.614 partikel/L
Pengharum padat: 31.333 partikel/L
Jika dibandingkan dengan kondisi tanpa pengharum, pengharum cair menunjukkan konsentrasi maksimum sekitar 56,2 persen lebih tinggi. Pengharum gel juga lebih tinggi, sekitar 46,1 persen.
Sebaliknya, pengharum padat justru menunjukkan konsentrasi sekitar 51,1 persen lebih rendah dibandingkan kondisi kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa bukan hanya jenis aroma yang penting. Bentuk atau formulasi pengharum juga dapat memengaruhi bagaimana material tersebut melepaskan komponennya ke udara.
Mengapa pengharum cair lebih tinggi?
Secara sederhana, material yang berada dalam bentuk cair cenderung lebih mudah mengalami perpindahan massa dibandingkan material yang terperangkap dalam matriks gel atau padat.
Ketika temperatur kabin meningkat, proses pelepasan komponen volatil dari pengharum dapat berlangsung lebih cepat.
Pada pengharum gel, komponen aroma berada dalam suatu matriks yang dapat memperlambat proses difusi. Sementara pada pengharum padat, pelepasan komponen ke udara dapat menjadi lebih terbatas.
Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa jumlah kandungan pewangi bukan satu-satunya faktor penentu. Pengharum gel yang memiliki kandungan fragrance lebih tinggi daripada pengharum cair justru menghasilkan konsentrasi partikel maksimum yang lebih rendah. Artinya, formulasi dan karakteristik material dapat berperan penting dalam proses pelepasan komponen ke udara.
Tapi apakah berarti pengharum cair berbahaya? Jawabannya tidak sesederhana itu.
Penelitian ini mengukur konsentrasi partikel udara, bukan secara langsung mengukur tingkat toksisitas atau dampak kesehatan dari masing-masing produk. Karena itu, hasil penelitian tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa pengharum cair menyebabkan gangguan kesehatan atau bahwa pengharum padat pasti lebih sehat.
Penelitian juga hanya dilakukan pada satu kendaraan dan satu kali pengujian untuk masing-masing kondisi. Karena itu, hasilnya masih bersifat awal dan perlu dikonfirmasi melalui penelitian dengan lebih banyak kendaraan, produk, kondisi cuaca, dan pengulangan eksperimen.
Apa yang bisa dilakukan pemilik mobil?
Hasil penelitian ini memberikan satu pesan praktis yang cukup sederhana. Jangan langsung masuk dan berkendara dalam kondisi kabin sangat panas setelah mobil lama terparkir di bawah matahari.
Membuka pintu atau jendela terlebih dahulu dan melakukan ventilasi dapat membantu mengganti udara kabin sebelum kendaraan digunakan. Setelah itu, sistem AC dapat digunakan untuk membantu mencapai kondisi kabin yang lebih nyaman.
Pengharum juga sebaiknya dipilih dengan mempertimbangkan formulasi dan cara penggunaannya, bukan hanya berdasarkan seberapa kuat aromanya.
Bukan berarti harus berhenti memakai pengharum mobil
Penelitian ini tidak mengatakan bahwa pengharum mobil harus dihindari. Justru, temuan tersebut menunjukkan bahwa benda sederhana yang sering dianggap hanya sebagai sumber aroma ternyata memiliki interaksi dengan kondisi lingkungan di dalam kabin.
Terutama di negara beriklim tropis, temperatur interior kendaraan yang ditinggalkan di bawah matahari dapat meningkat jauh lebih tinggi daripada temperatur lingkungan. Karena itu, penelitian mengenai kualitas udara kabin tidak cukup hanya melihat sistem AC atau ventilasi. Material yang berada di dalam kabin, termasuk pengharum, juga layak diperhatikan.
Penelitian ini masih merupakan proof of concept (TRL 3). Namun, hasil awalnya membuka pertanyaan yang menarik: seberapa besar pengaruh berbagai jenis material interior kendaraan terhadap kualitas udara yang setiap hari kita hirup selama berkendara? Pertanyaan tersebut membutuhkan penelitian lanjutan dengan kondisi yang lebih beragam dan pengukuran senyawa udara yang lebih spesifik.
Artikel ini dirangkum dari penelitian “Effects of Car Air Freshener Formulations on Airborne Particle Concentrations in Solar-Heated Vehicle Cabins” oleh Riyados Solichin, Muji Setiyo, dan Mohamad Heerwan Bin Peeie, yang diterbitkan dalam Scientific Experiences in Mechanical Engineering.
