Konten dari Pengguna

Kesiapan Mahasiswa dan Perguruan Tinggi Menyambut Era Digital: Eviden-Based

Muji Setiyo

Muji Setiyo

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret penguasaan kompetensi digital mahasiswa Indonesia (Sumber: CfDS)
zoom-in-whitePerbesar
Potret penguasaan kompetensi digital mahasiswa Indonesia (Sumber: CfDS)

Era Industri 4.0 telah membawa gelombang perubahan yang mentransformasi berbagai sendi kehidupan, termasuk dunia kerja. Otomatisasi dan kecerdasan buatan diprediksi akan menghilangkan banyak pekerjaan lama, namun di sisi lain juga menciptakan jenis pekerjaan baru yang menuntut penguasaan keterampilan digital dan soft skills yang mumpuni. Di tengah disrupsi ini, kesiapan sumber daya manusia, khususnya lulusan perguruan tinggi, menjadi kunci bagi Indonesia untuk dapat bersaing dan memenangkan era baru ini.

Sebuah studi komprehensif tahun 2021 oleh Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada berupaya memotret kesiapan tersebut. Melalui survei terhadap 1.162 mahasiswa dan wawancara dengan pimpinan dari 19 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, penelitian ini menyajikan data berbasis bukti (evidence-based) mengenai tingkat kesiapan mahasiswa dan institusi pendidikan tinggi dalam menghadapi tantangan RI 4.0.

Potret Kesiapan Mahasiswa: Kompeten di Dasar, Tertinggal di Tingkat Lanjut

Secara umum, tingkat kesiapan mahasiswa Indonesia untuk memasuki era RI 4.0 berada pada skor 60.62 dari 100. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata mahasiswa telah memiliki lebih dari separuh keterampilan yang dibutuhkan, namun perjalanan untuk mencapai tingkat ideal masih panjang.

Skor kesiapan ini dibentuk dari dua komponen utama:

  • Kompetensi Digital (Hard Skills): Skor rata-rata 57.92.

  • Kompetensi Lintas Fungsional (Soft Skills): Skor rata-rata 63.33.

Data ini mengindikasikan bahwa mahasiswa Indonesia sedikit lebih unggul dalam soft skills dibandingkan hard skills digital.

Jika dibedah lebih dalam, kompetensi digital mahasiswa menunjukkan gambaran yang menarik. Mereka tergolong kuat dalam kompetensi digital dasar dengan skor 72.89, namun masih berjuang di tingkat menengah (56.35) dan tingkat lanjut (44.53). Artinya, mayoritas mahasiswa sudah mahir menggunakan gawai dan internet untuk komunikasi dan mencari informasi, namun masih lemah dalam hal yang lebih krusial di era RI 4.0 seperti kreasi konten digital, keamanan siber, dan pemecahan masalah kompleks menggunakan teknologi.

Kesenjangan kompetensi ini juga terlihat antar kelompok mahasiswa. Studi menemukan bahwa mahasiswa laki-laki, dari rumpun ilmu STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), yang berkuliah di perguruan tinggi tier-1, dan berlokasi di Jawa cenderung memiliki skor kesiapan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.

Satu temuan yang patut menjadi catatan adalah adanya rasa percaya diri yang berlebih (overconfidence) di kalangan mahasiswa. Saat diminta menilai kesiapan diri mereka sendiri, skor rata-rata yang diberikan adalah 72.84, jauh di atas skor riil mereka (60.62). Fenomena ini bisa menjadi pedang bermata dua: di satu sisi menunjukkan optimisme, namun di sisi lain dapat menghambat kemauan untuk belajar dan meningkatkan diri.

Tantangan Perguruan Tinggi: Dari Infrastruktur Hingga Kesiapan Dosen

Di sisi institusi, perguruan tinggi dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Meskipun seluruh 19 perguruan tinggi yang disurvei telah memiliki infrastruktur dasar seperti koneksi internet dan perpustakaan daring, hanya 4 di antaranya yang memiliki platform pembelajaran daring (e-learning) yang tergolong maju.

Namun, tantangan terbesar justru terletak pada kesiapan tenaga pengajar. Seluruh perwakilan perguruan tinggi mengakui bahwa mayoritas dosen mereka belum siap menghadapi RI 4.0. Banyak dosen, terutama dari generasi senior, yang belum familiar dengan perkembangan teknologi terkini dan metode pengajaran yang relevan dengan kebutuhan industri digital.

Padahal, para pimpinan perguruan tinggi sudah memiliki gambaran kurikulum ideal untuk merespons RI 4.0, yang mencakup empat aspek utama:

  • Platform e-Learning yang mumpuni.

  • Mata kuliah dan pelatihan kewirausahaan digital.

  • Penguasaan Bahasa Inggris.

  • Mata kuliah pengantar teknologi inti RI 4.0 (seperti Big Data, AI, IoT).

Sayangnya, implementasi kurikulum ideal ini masih terhambat oleh berbagai faktor, mulai dari prioritas institusi yang lebih fokus pada rekrutmen mahasiswa baru hingga kepatuhan pada kepentingan pemangku kebijakan yang lebih tinggi.

Data dari studi CfDS UGM ini memberikan sinyal yang jelas: terdapat kesenjangan signifikan antara kebutuhan industri di era digital dengan kondisi riil kesiapan mahasiswa dan perguruan tinggi di Indonesia. Menutup kesenjangan ini bukanlah tugas yang bisa diemban oleh satu pihak saja.

Dibutuhkan sebuah upaya kolaboratif dan terpadu antara pemerintah sebagai regulator, perguruan tinggi sebagai pencetak talenta, dan industri sebagai pengguna tenaga kerja. Pemerintah perlu mendorong kebijakan yang mendukung transformasi pendidikan tinggi, termasuk investasi pada infrastruktur digital dan program peningkatan kompetensi dosen secara masif. Perguruan tinggi harus lebih adaptif dalam memperbarui kurikulum, mengadopsi metode pembelajaran inovatif, dan membekali dosen dengan keterampilan yang relevan. Sementara itu, industri dapat berperan aktif dengan memberikan masukan kurikulum, menyediakan platform magang, dan berinvestasi dalam riset bersama.

Tanpa langkah-langkah strategis dan kolaboratif, Indonesia berisiko tertinggal dan hanya menjadi penonton di tengah gegap gempita Revolusi Industri 4.0. Sebaliknya, dengan persiapan yang matang, bonus demografi yang dimiliki Indonesia dapat menjadi modal besar untuk melahirkan generasi talenta digital yang siap membawa bangsa menuju kemajuan.