Tips Publikasi Artikel Ilmiah #12: Kaidah Umum Menyajikan Tabel

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menulis artikel ilmiah bukan hanya soal isi yang berbobot. Menarik tidaknya sebuah naskah ilmiah juga sangat dipengaruhi oleh cara kita menyajikan data. Salah satu elemen penting tapi sering disepelekan adalah penyajian tabel.
Saya sudah berkali-kali menemukan kesalahan ini, baik dari mahasiswa bimbingan saya, penulis pemula, bahkan dari peneliti yang sebenarnya sudah produktif. Kesalahan tersebut sederhana namun berdampak besar: menampilkan tabel dengan cara yang tidak sesuai kaidah publikasi ilmiah.
Padahal, tabel yang ditata dengan baik bukan hanya enak dilihat. Ia juga memudahkan editor saat proses layout, mempercepat indexing, hingga meningkatkan keterbacaan bagi pembaca yang mencari data secara cepat.
Berikut beberapa issue yang sering terjadi, serta tips memperbaikinya berdasarkan pengalaman saya sebagai editor jurnal ilmiah:
Tabel Penuh dengan Garis Vertikal dan Horizontal
Coba lihat tabel di artikel Anda. Apakah masih penuh garis horizontal dan vertikal?
Jika ya, saatnya mengubahnya. Dalam artikel ilmiah, semua garis vertikal sebaiknya dihilangkan. Gunakan hanya garis horizontal di tiga titik penting:
di bagian atas tabel (sebagai pembuka),
di antara header dan isi tabel (sebagai pemisah),
dan di bagian bawah tabel (sebagai penutup).
Gaya tabel yang bersih dan minimalis bukan hanya soal estetika. Ini adalah standar yang digunakan oleh sebagian besar jurnal ilmiah terindeks.
Bagaimana Jika Isi tabel Bukan Angka?
Tak semua tabel harus penuh angka. Dalam banyak penelitian sosial atau kajian literatur, isi tabel sering kali berupa narasi, ringkasan paragraf, atau kutipan pendek seperti:
nama peneliti,
metode yang digunakan,
hasil utama,
hingga kelebihan dan kekurangannya.
Tabel dengan teks panjang seperti ini justru harus lebih bersih. Hilangkan semua garis vertikal. Cukup gunakan garis horizontal untuk membagi informasi secara logis.
Percayalah, pembaca Anda akan berterima kasih karena isi tabel mudah dipahami tanpa harus menyipitkan mata atau mengikuti garis ke segala arah.
Konversi Tabel Jadi Gambar? Pantangan Besar!
Ini mungkin yang paling krusial: jangan pernah ubah tabel menjadi gambar. Masih banyak yang dengan mudahnya menyisipkan tabel hasil tangkapan layar dari Excel atau Google Sheet. Memang cepat. Tapi efek jangka panjangnya buruk:
Tabel tidak bisa diedit oleh editor jika ada revisi angka atau penyesuaian layout,
Mesin pencari dan tools pengindeks tidak bisa membaca isi tabel,
Kualitas cetaknya buruk, dan di versi digital tabel tersebut tidak responsif.
Jadi, jika Anda ingin karya ilmiah Anda terbaca, terindeks, dan diakui, pastikan tabel tetap dalam bentuk teks editable.
Menulis Artikel Ilmiah Itu Seni
Sebagian orang menganggap ini masalah teknis kecil. Tapi justru dari teknis kecil inilah integritas dan profesionalitas penulis diuji. Sebagai penulis, kita memang dituntut untuk fokus pada substansi. Namun, cara menyajikan substansi itulah yang membuat hasil kerja kita berbeda antara yang biasa-biasa saja dan yang layak terbit di jurnal terakreditasi.
Dapatkan versi videonya di:
Temukan artikel lainnya tentang "Tips Publikasi Artikel Ilmiah"
