Konten dari Pengguna

Tips Publikasi Artikel Ilmiah #7: Mengapa Kontribusi Penelitian Harus Ada?

Muji Setiyo

Muji Setiyo

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penempatan kontribusi penelitian (Sumber: Dokumentasi Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penempatan kontribusi penelitian (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Menulis artikel ilmiah itu bukan cuma soal menyajikan data atau menjelaskan metode. Salah satu bagian yang justru sering luput tapi sangat penting adalah soal kontribusi riset. Sayangnya, masih banyak dosen dan penulis yang terlalu sibuk dengan angka dan tabel, sampai lupa menjawab pertanyaan paling penting: "Apa dampak riset ini untuk ilmu pengetahuan atau masyarakat?"

Padahal, kontribusi bukan pelengkap. Ia adalah jiwa dari sebuah tulisan ilmiah. Bahkan, kontribusi seharusnya tidak hanya muncul di satu bagian saja, tapi mengalir halus sejak pendahuluan sampai kesimpulan. Lalu, bagaimana cara menempatkan kontribusi ini secara strategis? Yuk, kita bedah satu per satu.

1. Pendahuluan: Tunjukkan Arah, Bukan Klaim

Di bagian awal artikel, jangan buru-buru menyebut, “Kontribusi riset ini adalah...”. Itu terlalu gamblang. Justru, biarkan kontribusi muncul lewat narasi. Ajak pembaca melihat “peta masalah” yang sedang kita bahas, lalu tunjukkan arah kemana riset ini akan membawa perubahan.

Misalnya, kalau kita sedang mengembangkan teknologi hemat energi, tunjukkan dulu urgensinya secara global, seperti relevansinya dengan SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), khususnya SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau. Atau jika ingin lebih lokal, kaitkan dengan isu kemandirian teknologi atau kebutuhan masyarakat.

2. Diskusi: Saatnya Bicara Dampak

Nah, bagian diskusi inilah tempat paling pas untuk bicara lebih lugas soal kontribusi. Di sini, kita bisa menjawab pertanyaan penting: Apa arti temuan ini dalam konteks yang lebih luas?

Apakah riset kita memperbaiki hasil sebelumnya? Menawarkan metode baru yang lebih efisien? Atau bahkan membantah teori lama dengan bukti lebih kuat? Jangan ragu. Justru ketika kita berani mengkritisi atau menyempurnakan riset terdahulu, itulah bentuk kontribusi ilmiah yang segar dan relevan.

3. Kesimpulan: Pertegas Harapan dan Manfaat

Di akhir tulisan, jangan hanya menutup dengan rangkuman. Gunakan bagian kesimpulan untuk menegaskan kembali kontribusi, sekaligus menyampaikan harapan jangka panjang.

Contohnya, “Jika metode ini diadopsi secara luas, bisa mengurangi konsumsi energi rumah tangga hingga 20%,” atau “Temuan ini membuka potensi produksi yang lebih ramah lingkungan.” Kalimat seperti ini bisa membuat artikel kita punya efek jangka panjang—bukan cuma berhenti di jurnal, tapi bisa jadi acuan kebijakan atau riset lanjutan.

Artikel ilmiah yang kuat bukan hanya yang penuh data dan metode, tapi juga yang punya makna. Kontribusi adalah tentang meninggalkan jejak pemikiran, menyulut diskusi, dan mendorong perubahan.

Jadi, kalau kamu sedang menulis artikel ilmiah, jangan hanya berpikir soal hasil dan angka. Pikirkan juga: apa yang bisa saya sumbangkan untuk ilmu dan masyarakat? Karena di situlah letak kekuatan tulisanmu, bukan cuma valid, tapi juga berdampak.

Dapatkan versi videonya di:

Temukan artikel lainnya tentang "Tips Publikasi Artikel Ilmiah"

muji.blog.unimma.ac.id