Tips Publikasi Artikel Ilmiah #8: Artikelmu Harus Enak Dibaca dan enak Dilihat!

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di dunia akademik, kita sering dengar saran klise: “kalau mau tembus jurnal internasional, artikelmu harus punya novelty!” Tapi apakah hanya itu yang penting? Jawabannya: tidak.
Banyak penulis pemula (dan bahkan yang sudah berpengalaman) terlalu fokus pada ide besar dan data canggih, sampai lupa satu hal penting: penyajian artikel. Padahal, sesederhana apa pun idenya, kalau ditulis dengan struktur rapi, bahasa mengalir, grafik jelas, dan tabel tertata, peluang untuk diterima akan jauh lebih besar.
Bahasa Itu Kunci
Kalau kamu menulis dalam bahasa Inggris, grammar yang benar memang penting. Tapi bukan cuma itu. Tulisanmu juga harus mengalir. Artinya: pilihan kata pas, kalimat tidak kaku, dan alur logika enak diikuti.
Biar nggak terjebak diksi yang itu-itu saja, coba manfaatkan aplikasi seperti Thesaurus, Quillbot, atau Grammarly. Tools ini bisa bantu memperkaya kosakata dan memperhalus tulisan.
Selain itu, kamu juga harus tahu konteks bidang keilmuanmu. Misalnya, di teknik, kata performance lebih tepat daripada ability. Tapi kalau kamu di ranah sosial, capability atau competency mungkin lebih cocok.
Grafik dan Gambar Harus Jelas, Bukan Sekadar Estetik
Sering kali gambar atau grafik di artikel ilmiah cuma jadi pajangan. Padahal, fungsinya vital: menjelaskan data, memperkuat argumen.
Pastikan setiap grafik punya judul sumbu (axis) yang jelas. Apa yang diukur? Satuan apa? Skala seperti apa? Semua itu harus tampak di grafikmu. Ingat, reviewer nggak punya waktu untuk menebak-nebak.
Tabel Juga Harus Patuh Aturan
Banyak yang nggak sadar, tabel yang ditulis asal-asalan bisa jadi deal breaker. Misalnya: kamu nulis artikel versi Inggris, tapi masih pakai koma untuk angka desimal (3,14). Padahal, dalam standar internasional, itu seharusnya 3.14. Kesalahan kecil, tapi bisa bikin reviewer ragu sama akurasi datamu.
Manfaatkan Teknologi
Biar artikelmu tampil prima, jangan ragu pakai tools digital. Mau itu Grammarly untuk grammar, Excel/SPSS untuk olah data, Canva untuk infografik, atau Mendeley untuk sitasi, semua bisa jadi senjata kalau kamu mau belajar menggunakannya.
Dan ya, jangan lupakan kemampuan komputer dasar. Mulai dari ngatur layout artikel, bikin grafik, sampai formatting referensi, semua butuh skill digital.
Menulis Itu Proses, Bukan Instan
Banyak yang berharap bisa nulis artikel ilmiah top hanya dengan ikut satu-dua pelatihan. Padahal, menulis itu kebiasaan. Harus dibangun lewat jam terbang: banyak membaca, rajin latihan menulis, dan belajar dari revisi demi revisi.
Karena pada akhirnya, artikel yang enak dibaca itu bukan lahir dari inspirasi sesaat. Tapi dari proses panjang yang dipenuhi tekad, latihan, dan pemahaman.
Jadi, kalau kamu sedang menyiapkan naskah untuk jurnal, jangan cuma fokus pada “apakah idenya baru?” Tapi juga tanyakan: “sudahkah ini enak dibaca dan dilihat?”
Artikel yang bagus bukan cuma yang berisi, tapi juga yang terkemas dengan baik.
Semangat menulis!
Dapatkan versi videonya di:
Temukan artikel lainnya tentang "Tips Publikasi Artikel Ilmiah"
