Wajah Lain Dunia Akademik: Praktik Tidak Etis Penulis dalam Publikasi Ilmiah

Peneliti di Jurusan Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Magelang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muji Setiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik semaraknya publikasi ilmiah yang menggema dari kampus-kampus dan laboratorium di Indonesia, tersimpan sisi gelap yang jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu kelakuan tidak etis sebagian penulis dalam proses publikasi. Dalam sebuah grup WhatsApp yang berisi para editor jurnal ilmiah ternama di Indonesia, diskusi hangat membongkar fenomena-fenomena yang seharusnya membuat kita semua resah. Fenomena ini mencerminkan problem struktural dan budaya akademik yang harus segera ditangani.
Penggunaan AI tanpa Transparansi
Generative AI seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini telah menjadi alat bantu baru dalam menulis artikel. Namun, banyak penulis menggunakannya tanpa menyatakan keterlibatan AI secara eksplisit. Artikel yang dihasilkan tampak rapi, logis, bahkan memukau, tetapi miskin pemahaman mendalam dan orisinalitas. Editor dan reviewer sering menemukan artikel yang “terlalu sempurna untuk jadi manusiawi”. Masalah muncul ketika AI bukan lagi alat bantu, tapi menjadi ghost writer utama, menggantikan kapasitas berpikir kritis penulis. Hal ini bukan hanya soal etika, tapi juga tentang integritas ilmiah.
Double (atau Lebih) Submission
Ada penulis yang mengirim artikel yang sama ke dua atau lebih jurnal sekaligus. Ini pelanggaran etika paling klasik tapi tetap terjadi dan bahkan kian meningkat. Saat satu jurnal sibuk me-review, ternyata artikel yang sama sudah diterbitkan jurnal lain. Motifnya? Ingin cepat terbit. Atau lebih buruk lagi para penulis menipu sistem demi angka publikasi. Dampaknya, reviewer dan editor membuang waktu, jurnal dirugikan secara reputasi, dan sistem akademik tercoreng.
Plagiarisme adalah Musuh Abadi, Titik!
Meski software pendeteksi plagiarisme kian canggih, kreativitas penulis dalam menjiplak juga makin lihai. Ada yang menyaru dengan parafrase otomatis, atau bahkan menjiplak artikel dalam bahasa asing yang diasumsikan tidak terdeteksi. Ironisnya, beberapa pelaku adalah dosen yang mengajar metode penelitian. Ada juga kasus menyalin tulisan mahasiswa sendiri tanpa atribusi.
Self-Citation Berlebihan
Mereferensikan karya sendiri bukan kesalahan, asalkan relevan. Namun, saat satu artikel berisi 60% kutipan dari tulisan penulis sendiri, motifnya patut dipertanyakan, apakah untuk meningkatkan indeks H-indeks pribadi atau memanipulasi metrik sitasi? atau ada motif lain? Self-citation yang tidak proporsional mengaburkan objektivitas ilmiah dan bisa merusak ekosistem keilmuan itu sendiri.
PHP (Penulis Habis Proses), Menghilang
Fenomena ini terjadi saat penulis sudah menerima permintaan revisi dari reviewer, namun tak pernah kembali mengirim naskah. Akibatnya, proses review macet dan slot publikasi tertunda. Banyak penulis tidak menyadari bahwa proses submit bukan sekadar uji coba, tapi komitmen moral. Ghosting dalam dunia akademik merusak ritme jurnal dan membebani editor.
Melobi Editor via Undangan Pemateri
Ada penulis yang mencoba menjinakkan editor jurnal melalui jalur pertemanan akademik, termasuk mengundang editor sebagai pembicara seminar dengan harapan artikelnya bisa mendapat karpet merah. Praktik ini menggambarkan problem konflik kepentingan yang bisa mengancam objektivitas editorial jurnal. Ini semacam “gratifikasi akademik” yang terselubung.
Lobi Lewat Jalur Pejabat atau Tokoh Berpengaruh
Ini kasus paling ekstrem, dimana penulis membawa nama pejabat, tokoh nasional, atau pihak berkuasa agar artikelnya diterima. Bahkan ada yang menyebut “tolong bantu, ini rekomendasi dadri Xxxxxx (penjabat tinggi universitas)”. Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia akademik belum sepenuhnya steril dari feodalisme dan nepotisme. Jika jurnal menyerah pada tekanan semacam ini, maka integritas ilmiah runtuh.
Menjaga Marwah Ilmiah, Kewajiban Siapa?
Publikasi ilmiah seharusnya menjadi ruang suci pertukaran gagasan yang jujur, orisinal, dan objektif. Ia bukan sekadar soal angka-angka di Google Scholar, Scopus, WoS, atau metric serupa, bukan juga ajang pameran gelar atau pencapaian institusi. Ia adalah nadi dari ekosistem ilmu pengetahuan yang menghubungkan pengetahuan masa lalu, tantangan hari ini, dan harapan masa depan.
Namun realitas menunjukkan bahwa marwah akademik tengah diuji. Digoda oleh ambisi pribadi, didesak oleh tekanan birokrasi “wajib publikasi”, dan perlahan tercemar oleh praktik-praktik yang mengabaikan etika. Dari plagiarisme yang dibungkus rapi, hingga lobi tak pantas kepada editor, semua itu menciptakan retakan dalam fondasi keilmuan yang seharusnya kokoh.
Para editor jurnal sejatinya adalah garda terdepan sekaligus benteng terakhir penjaga integritas ilmiah. Mereka bekerja di balik layar, menyaring ribuan naskah, memelototi kalimat demi kalimat, dan berdialog dengan reviewer demi menjaga kualitas pengetahuan yang akan disebarluaskan. Tapi sejauh mana mereka bisa berdiri tegak bila komunitas akademik justru permisif terhadap penyimpangan?
Tanpa dukungan dari dosen, peneliti, mahasiswa, lembaga pendidikan, bahkan pembuat kebijakan, tugas menjaga integritas ilmiah akan menjadi misi yang berat dan sunyi. Kita butuh kultur akademik baru yang menempatkan etika setara pentingnya dengan intelektualitas. Kita butuh kampus yang lebih menghargai proses, bukan sekadar hasil. Dan kita butuh penulis yang tidak hanya cerdas menulis, tapi juga jujur dalam berkarya.
Sudah waktunya kampus, lembaga riset, dan pemerintah menetapkan standar etika akademik yang jelas, terukur, dan ditegakkan dengan konsisten. Karena hanya dengan integritas, ilmu bisa tetap menjadi cahaya.
Menjaga marwah ilmiah bukan sekadar urusan jurnal, bukan pula soal reputasi satu institusi. Ini soal menjaga kepercayaan publik pada ilmu pengetahuan. Karena ketika integritas ilmiah runtuh, bukan hanya jurnal yang rusak tapi seluruh sendi keilmuan bangsa ikut hancur.
Jangan biarkan ruang suci ilmu menjadi ladang kecurangan. Mari pulihkan martabatnya, bersama-sama.
