Ketika Sibuk Jadi Gaya Hidup: Refleksi Hustle Culture di Kalangan Gen Z

Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mahasantri Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Mujtaba Akmal Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah hustle culture atau budaya kerja tanpa henti menjadi fenomena yang akrab di kalangan muda. Media sosial penuh dengan narasi tentang kerja keras, produktivitas maksimal, dan “grind everyday” yang dianggap sebagai kunci kesuksesan. Unggahan tentang morning routine pukul lima pagi, side hustle, atau kerja lembur demi “masa depan cerah” seolah menjadi simbol anak muda berambisi. Namun di balik semangat positif itu, muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar sedang mengejar mimpi, atau justru terjebak dalam ilusi produktivitas?
Fenomena ini berakar pada perubahan sosial dan ekonomi yang lebih dalam. Generasi muda tumbuh dalam era di mana persaingan global semakin ketat. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi, lapangan kerja yang terbatas, dan tuntutan biaya hidup yang tinggi. Di sisi lain, mereka hidup dalam dunia digital yang menampilkan kesuksesan secara instan, membuat banyak orang merasa harus terus “bergerak” agar tidak tertinggal. Akibatnya, “sibuk” menjadi gaya hidup baru, bahkan menjadi tolok ukur nilai diri.
Padahal, hustle culture tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan psikologis. Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa tekanan kerja berlebih meningkatkan risiko stres dan burnout, terutama di kalangan usia produktif muda. Banyak mahasiswa dan pekerja muda mengeluh kelelahan, kehilangan makna, dan merasa hidupnya hanya berputar antara kerja, tugas, dan target. Ironisnya, semua itu sering kali dibungkus dengan narasi motivasi: “kalau capek, berarti kamu sedang berkembang.”
Secara sosial, hustle culture juga menciptakan bentuk baru dari stratifikasi simbolik: mereka yang produktif dianggap “lebih unggul” dibanding yang memilih hidup seimbang. Inilah yang disebut sosiolog Pierre Bourdieu sebagai bentuk distinction, di mana gaya hidup digunakan untuk menegaskan identitas dan status. Dalam konteks ini, kesibukan menjadi komoditas simbolik, cara untuk menunjukkan nilai diri di hadapan publik digital. Orang bukan hanya bekerja untuk hidup, tetapi bekerja untuk dilihat bekerja.
Namun, bukan berarti semangat berusaha harus dipadamkan. Yang perlu dikritisi adalah glorifikasi kerja berlebihan tanpa arah. Hustle bukan masalah ketika disertai kesadaran tujuan dan keseimbangan hidup. Justru yang berbahaya adalah ketika produktivitas diukur dari seberapa sedikit kita tidur, seberapa sering kita lembur, atau seberapa padat kalender kita.
Di sinilah pentingnya mengembalikan makna work-life balance sebagai bentuk kesadaran sosial baru di kalangan muda. Bekerja keras tetap penting, tetapi bukan dengan mengorbankan kesehatan mental dan kehidupan sosial. Paradigma ini bisa dimulai dari lingkungan kampus dan dunia kerja yang lebih manusiawi, memberi ruang istirahat, refleksi, dan bahkan “tidak melakukan apa-apa” tanpa rasa bersalah. Karena justru dalam ruang jeda itu, kreativitas sering lahir.
Pada akhirnya, produktivitas bukanlah tentang seberapa banyak yang kita lakukan, melainkan seberapa bermakna hasil dari apa yang kita kerjakan. Dunia yang serba cepat memang menuntut adaptasi, tetapi bukan berarti kita harus kehilangan arah dalam kecepatan itu. Generasi muda perlu menyadari bahwa hidup bukan kompetisi tanpa garis akhir. Ada kalanya berhenti sejenak bukan tanda menyerah, melainkan cara untuk menemukan kembali makna berjuang.
