Konten dari Pengguna

Mengejar Rezeki Berlebihan Tidak Berbeda dengan Mengejar Kematian Sendiri

mujtahid aktanto

mujtahid aktanto

Master of Technobiomedic - Unair, Senior data analyst in food industry, Ex-Bankers, Ex-penulis majalah jalan-jalan "infobackpakers".

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari mujtahid aktanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengejar rezeki dama dengan mengejar kematian - dokumen pribadi / mujtahid aktanto
zoom-in-whitePerbesar
Mengejar rezeki dama dengan mengejar kematian - dokumen pribadi / mujtahid aktanto

Kumparan - mengejar rezeki berlebihan tidak berbeda dengan mengejar kematian sendiri, Qur'an Surah. Ibrahim [14]: 7 mengatakan bahwa : "Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksaKu amat pedih”. Seringkali kita kaitkan hal mengejar rezeki akan sering mendengar penjelasan terkait pentingnya rasa bersyukur. dan tuhanpun juga mengatakan bahwa rezeki sudah di tentukan sejak lahir pada setiap manusia.

Ada seorang rekan saya yang mempertanyakan, kalo rezeki itu ya apa yang kita nikmati hari ini, jadi kalo kita terlalu berhemat banget dengan niat menyimpan jadi banyak bisa jadi suatu saat bukannya makin banyak malah bisa hilang dengan berbagai cerita buat apa? jadi sebaiknya begitu punya rezeki segera di rupakan dalam bentuk investasi seperti upgrade nilai diri dan keluarga, atau beli emas atau jadi aset walaupun tidak besar.

Buat saya sebagai penulis, pandangan tersebut tidak salah, bahkan sebagian bisa di benarkan. Namun tidak sepenuhnya juga benar. karena dalam agama islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Banyak sekali hadist pendukung terkait menjadi orang kaya dan justru diperintah untuk mencari harta sebanyak-banyaknya agar dapat membantu orang lain yang berkekurangan atau perlu dibantu.

Dalam agama Islam mengajarkan agar seorang muslim mampu berzakat, infaq, shadaqoh, waqaf, dan tolong-menolong dalam kebaikan. Selain itu, juga ada hadist yang sudah familiar di dengungkan "tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah". serta Hadist yang mengatakan bahwa Sebaik-baik orang adalah yang paling banyak member manfaat bagi orang lain.

Setiap Manusia Sudah Menjadi Orang Kaya Sejak Lahir

Tanpa kita sadari, Sebenarnya Allah sudah memberi kita rezeki yang sangat kaya. bahkan seorang pengemis pun memiliki rezeki diatas 1 Miliar masing-masing tanpa disadari.

pernahkan kalian sadari harga dari bagian tubuh kita? berapa harga sebuah ginjal? berapa harga sebuah mata? berapa harga sebuah tangan? berapa harga yang harus kita bayar jika kita ingin memperbaiki bagian tubuh yang luka? tentunya bisa bernilai ratusan juta hingga miliar. apakah itu tidak menandakan kekayaan seseorang? Aset tubuh adalah hal berharga.

Namun jika itu kurang meyakinkan bahwa setiap manusia di lahirkan memiliki rezeki yang sangat besar penulis akan memberi perhitungan lagi. Pernahkan seseorang berdoa minta di beri rezeki sebanyak 100 juta atau 500 juta atau 1 miliar? ayo berhitung rezeki yang di berikan allah sejak lahir. Penulis sudah membuat simulasi dengan penghasilan di bawah UMR pun masih di beri rezeki hingga diatas 1 miliar lho.

  1. Bayi di beri makan 3x sehari bubur dan susu jika di hitung sebulan bayi menerima rezeki sekitar 1 juta minimal untuk keluarga sederhana. selama 4 tahun setara 60 juta.

  2. saat balita dan sekolah dasar, makan 3x sehari ditambah uang saku secukupnya, biaya sekolah dan ATK sebulan menjadi 1,5 juta jika dihitung selama 9 tahun tanpa sakit setidaknya mendapat rezeki 162 juta

  3. Saat remaja sekolah SMA dan kuliah umumnya membutuhkan biaya cukup besar seperti biaya perjalanan sekolah, biaya masuk sekolah, kursus, dan penunjang pelajaran lainnya tanpa mengalami sakit umumnya berkisar 2,5 juta perbulan. selama 7 tahun (3+4) setidaknya mendapat rezeki sebanyak 210 juta.

  4. Terakhir jika setelah lulus mencari kerja dan mendapat penghasilan paling minimal untuk bertahan hidup 100 ribu per hari (dibawah UMR) setidaknya terima 3 juta sebulan sejak umur 21 sampai dengan umur 56 tahun tanpa ada peningkatan rezeki 1 kali pun bahkan tidak pernah dapat THR, maka selama 35 tahun akan mendapat rezeki sebesar 1,265 Miliar.

Jika di total dalam hidup seseorang yang bukan orang kaya saja, Minimal seseorang sudah mendapat rezeki setidaknya 1,5 Miliar plus aset tak ternilai berupa tubuh manusia. bukankah allah sudah mengabulkan semua doa setiap manusia di bumi jika hanya meminta rezeki senilai 1 Miliar? "nikmat tuhan manakah yang kamu dustakan"

Tidak akan mati seseorang sebelum habis rezekinya

Namun jangan lupa dengan salah satu hadist terkait rezeki yang berkata “Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya... (HR. Ibnu Majah no. 2144)

Hal yang paling jelas dari itu adalah tidak akan mati seseorang kecuali telah menghabiskan seluruh rezekinya. Penulis berpandangan bahwa setiap manusia tidak mengetahui takaran rezeki yang telah di tetapkan kepada masing-masing umatnya. Jika kita terlalu serakah dalam mengejar rezeki dunia dan tanpa sadar bahwa jatah rezeki sudah di ambil semua, maka bukan lagi rezeki yang datang melainkan kematian yang akan menghampiri.

Prinsip berbagi rezeki kepada orang lain karena ada hak orang lain yang di titipkan Allah SWT melalui harta kita

Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzaariyat :19 “Bahwa dalam setiap harta terdapat hak orang lain (orang yang meminta-minta dan orang yang tidak meminta-minta)." Dalam harta yang dititipkan oleh Allah pada kita, terdapat hak-hak orang lain di dalamnya.

Lalu apa hubungan dengan judul artikel di atas dengan berbagi rezeki kepada orang lain? Penulis memiliki pendapat bahwa jika kita bekerja untuk menjadi kaya dengan tujuan memberi manfaat untuk orang lain, memberi zakat, infaq dan Sodaqah kepada orang yang berhak, maka Harta yang kita dapat justru bertambah bukan hanya milik kita seorang namun juga milik banyak orang terutama yang kita bantu.

Allah akan ridho memberi kita rezeki lebih dari apa yang sudah ditetapkan karena adanya rezaki orang lain yang di berikan melalui kita. Artinya kita akan mendapat rezeki kita dan juga rezeki orang lain juga asalkan kita menjalankan kewajiban membagi rezeki kepada yang berhak tersebut.

Apakah itu artinya kita bekerja keras selain untuk diri sendiri juga bekerja untuk orang lain? secara logika itu mungkin ada benarnya. Namun sebenarnya apa yang kita dapatkan justru sangat jauh lebih besar jika mengacu pada Hadist diatas.

  1. Secara matematis menunda kematian atau memperpanjang umur, Jika Rezeki sama dengan umur, maka Rezeki kita sendiri ditambah dengan rezeki orang lain yang melalui kita akan setara dengan menambahkan umur kita sendiri ditambah dengan sebagian umur orang lain yang rezekinya lewat kita.

  2. Mendapatkan Pahala dari hal yang paling di sesali orang yang meninggal ayitu berbagi sedekah, Allah SWT berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian) ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al Munafiqun ayat 10).

  3. Menjadi orang yang bermanfaat di hadapan Allah dan sesama manusia, "Sebaik-baik manusia adalah menjadi orang yang bermanfaat". Tentu secara tidak langsung akan berpengaruh dalam pandangan secara sosial walaupun alangkah baiknya segala pertolonga di niatkan dengan niat tanpa pamrih.

  4. Menghilangkan sifat serakah dan Meningkatkan sifat rasa bersyukur. Dengan mengikhlaskan rezeki untuk di bagi maka hal tersebut menjadi salah satu tanda bahwa kita mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan, dan barang siapa bersyukur akan Allah tambah nikmatnya.

Jangan Menggampangkan Rezeki dengan Bersantai

Penulis memiliki keyakinan untuk tidak menggampangkan 3 hal yang hingga saat ini menjadi misteri dalam hidup, Jodoh, Mati, dan Rezeki. dan sejujurnya 3 hal ini sangat berkaitan erat dengan Rezeki.

Jika kita menggampangkan Jodoh, Kesulitan dan perceraian yang kita akan hadapi. Jika kita menggampangkan Mati, maka umur pendek yang kita temui. Jika kita menggampangkan Rezeki, maka kemiskinan dan kesusahan yang kita nikmati.

Jadi menurut saya, setiap nafas di masa lampau, saat ini, maupun kemudian nanti itu adalah rezeki yang sudah diatur untuk kita. Jangan terlalu santai karena prinsip rezeki hari ini di nikmati, rezeki esok hari di pikir nanti. Namun juga jangan sampai kita terlalu sibuk dengan keserakahan karena tidak akan mati seseorang sebelum habis rezekinya. Jika kita terlalu mengejar rezeki, artinya kita mengejar kematian kita sendiri.