Bloh Apui Gampong Leukeun dalam Tradisi Masyarakat Aceh Barat
Tulisan dari Mukhsin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bloh Apui Gampong Leukeun merupakan tradisi masyarakat Aceh Barat yang memadukan ritus, zikir, syair, musik rapai, dan berjalan di atas bara api. Tradisi ini memiliki sejarah panjang di Gampong Leukeun dan kini tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Aceh Barat.
Bagi sebagian orang, Bloh Apui Gampong Leukeun mungkin terlihat sebagai pertunjukan ekstrem, ketika seseorang berjalan di atas bara api tanpa terbakar. Namun, bagi masyarakat Gampong Leukeun, Aceh Barat, praktik ini bukan sekadar atraksi, melainkan ritus yang memiliki aturan, persiapan, dan keyakinan spiritual yang diwariskan antargenerasi.
Dalam laporan penelitian Struktur dan Fungsi Ritus Seni Pertunjukan Bloh Apui Aceh Barat, disebutkan bahwa “ritual pertunjukan bloh apui memiliki fungsi religius-spiritual yang mendalam” (Fadli, 2025). Pernyataan ini menegaskan bahwa bloh apui bukan sekadar peristiwa visual, melainkan bagian dari sistem kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Ritus ini melibatkan berbagai unsur, pawang sebagai pemimpin, pemain sebagai pelaku, serta syair, zikir, dan iringan musik sebagai penguat suasana spiritual. Semua itu tidak berdiri sendiri, tetapi membentuk satu kesatuan pengalaman yang tidak bisa dipisahkan antara yang tampak dan yang batin.
Bara api, langkah kaki, dan tubuh yang tidak terbakar merupakan representasi permukaan dari sebuah praktik. Di baliknya, terdapat proses panjang yang tidak kasatmata, meliputi latihan batin, disiplin spiritual, serta pembentukan keyakinan secara bertahap.
Tauhid dan Al-Qur’an sebagai Dasar Keyakinan
Dari hasil diskusi saya dengan maestro dan pewaris bloh apui, satu hal yang paling ditekankan adalah proses belajar tidak dimulai dari api. Tidak ada latihan langsung berjalan di atas bara api. Yang pertama kali diajarkan justru adalah tauhid.
Seorang calon pawang api harus terlebih dahulu memahami bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan. Keyakinan ini bukan sekadar dihafal, tetapi harus diinternalisasi, menjadi cara pandang dalam melihat dunia.
Setelah fondasi itu dianggap cukup kuat, barulah ia dibimbing menjalani berbagai amalan-amalan seperti shalat hajat, puasa, serta membaca doa-doa tertentu dan ayat-ayat Al-Qur’an setelah shalat fardhu. Praktik-praktik ini bukan sekadar ritual formal, melainkan cara untuk membentuk kedisiplinan batin dan kedekatan dengan Tuhan.
Bagi masyarakat Gampong Leukeun, keyakinan ini memiliki rujukan yang sangat jelas, yaitu kisah Nabi Ibrahim yang diselamatkan dari api oleh Allah. Peristiwa tersebut dipahami sebagai bukti bahwa api, meskipun secara alamiah membakar, tetap tunduk pada kehendak Tuhan.
Pemahaman ini hidup dalam ungkapan yang sering disampaikan:
“Jika Tuhan tidak mengizinkan api itu membakar, maka walaupun secara nyata api bersifat membakar, ia tidak akan membakar.”
(Wawancara dengan masyarakat Gampong Leukeun)
Dalam praktiknya, para pelaku bloh apui juga mengamalkan ayat Al-Qur’an yang merujuk pada peristiwa tersebut, yaitu Surah Al-Anbiya ayat 69:
"قُلْنَايَانَارُكُونِيبَرْدًاوَسَلَامًاعَلَىٰإِبْرَاهِيمَ"
Ayat ini tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi diyakini sebagai sumber kekuatan spiritual. Ia menjadi pengingat bahwa api tidak berdiri sebagai kekuatan independen, melainkan sebagai bagian dari kehendak Tuhan.
Di titik ini, bloh apui tidak lagi sekadar tentang “kebal api”. Ia menjadi ekspresi tauhid, tentang bagaimana manusia memahami, meyakini serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.
Laku Spiritual dan Jalan Panjang
Jika dilihat dari luar, pawang api mungkin tampak seperti sosok yang memiliki kemampuan khusus. Namun, dari hasil percakapan dengan maestro dan pewarisnya, menjadi pawang bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dalam waktu singkat.
Seorang calon pawang harus menjalani proses pembelajaran yang panjang, bahkan hingga sekitar sepuluh tahun. Waktu tersebut bukan dihabiskan untuk melatih aspek lahiriah semata, melainkan untuk membentuk diri secara spiritual dan mental.
Selama proses itu, seorang calon pawang harus menjaga konsistensi ibadah, menjalani puasa di waktu-waktu tertentu, melaksanakan shalat-shalat tambahan, serta mengamalkan doa-doa tertentu secara rutin. Disiplin ini menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kesiapan batin.
Dalam laporan penelitian juga disebutkan bahwa sebelum pertunjukan dilakukan, pelaku menjalani puasa dan shalat hajat sebagai bentuk penyucian diri dan permohonan kepada Ilahi (Fadli, 2025). Namun, dari pengalaman lapangan, praktik tersebut tidak hanya dilakukan menjelang pertunjukan, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama proses belajar.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara melihat bloh apui sebagai atraksi dan memahaminya sebagai ritus. Jika dilihat sebagai atraksi, yang penting adalah hasil, berjalan di atas api. Tetapi dalam perspektif ritus, yang utama justru adalah prosesnya, jalan panjang yang ditempuh sebelum seseorang dianggap layak memikul tanggung jawab sebagai pawang api.
Seorang pawang api, dengan demikian, bukan sekadar pelaku. Ia adalah sosok yang telah ditempa, diuji, dan diakui secara spiritual oleh komunitasnya. Otoritasnya tidak datang dari keberanian semata, tetapi dari perjalanan batin yang panjang.
Begitu pula dengan anggota pelaku Bloh Apui lainnya, yang setidaknya harus memiliki bekal spiritual dasar, meliputi pemahaman tauhid, ketaatan dalam menjalankan ibadah fardhu, serta pemahaman terhadap esensi dasar dari ritus Bloh Apui
Bloh Apui tidak dimaknai sebagai upaya manusia untuk mengendalikan atau menaklukkan api, melainkan sebagai ekspresi keyakinan bahwa api sepenuhnya berada dalam kuasa dan kehendak Tuhan. Dalam kerangka tersebut, pelaku menempatkan dirinya bukan sebagai subjek yang berkuasa, tetapi sebagai hamba yang memohon dan berserah. Dengan demikian, yang sesungguhnya diuji bukanlah ketahanan tubuh terhadap bara, melainkan kualitas iman yang menyertainya. Pada titik inilah, Bloh Apui menghadirkan lapisan makna yang tidak sepenuhnya selesai untuk dipahami.

