Konten dari Pengguna

Multatuli dan Max Havelaar: Karya Sastra Penumbang Kolonialisme di Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hikmal Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Situasi Ladang (Foto: kumparan.com/saut-situmorang)
zoom-in-whitePerbesar
Situasi Ladang (Foto: kumparan.com/saut-situmorang)

Pernah dengar nama Douwes Dekker, kan? Di sejarah kita, sebenarnya ada dua tokoh penting dengan nama ini yang masih punya hubungan kerabat, yaitu Eduard Douwes Dekker dan Ernest Douwes Dekker. Nah, kali ini aku mau cerita soal Eduard, atau yang mungkin lebih sering kamu dengar dengan nama pena-nya: Multatuli.

Jadi gini ceritanya, Multatuli itu artinya "aku yang menderita banyak". Sekitar tahun 1839, Eduard ini datang ke Nusantara dari Belanda buat kerja di pemerintahan kolonial. Dia sempat pindah-pindah tugas dari Sumatera Barat, Manado, sampai akhirnya di awal tahun 1856 dia diangkat jadi Asisten Residen di Lebak, Banten.

Di Lebak inilah dia melihat kenyataan yang bikin hatinya hancur. Dia nyaksiin langsung gimana menderitanya rakyat gara-gara sistem Tanam Paksa. Udah gitu, penderitaan rakyat makin parah karena diperas sama pejabat lokal (Bupati Lebak). Sedihnya, kelakuan korup bupati ini malah dilindungi sama pemerintah Belanda, semata-mata demi ngejaga setoran hasil bumi biar tetap lancar.

Eduard yang nggak tega lihat rakyat kecil ditindas akhirnya protes dan ngelaporin pemerasan ini ke atasannya, si Residen Banten. Tapi tebak? Laporannya ditolak mentah-mentah. Belanda nggak mau ngusik bupati cuma demi ngejaga "stabilitas". Karena merasa nilai-nilai keadilannya dikhianati, di tahun yang sama Eduard nekat mengundurkan diri dari jabatannya.

Setelah mengundurkan diri, dia pulang ke Eropa dalam keadaan miskin. Tapi dari titik terendah inilah sejarah baru dimulai. Pada tahun 1860, dia merilis novel berjudul Max Havelaar pakai nama samaran Multatuli tadi. Lewat buku ini, dia bener-bener nelanjangi kebohongan sistem kolonial yang selama ini ngakunya bawa "kesejahteraan" buat tanah jajahan.

Cover Buku Max Havelaar (Foto: kumparan.com/grady-nagara)

Ada satu bagian di novel itu yang ngena banget, yaitu kisah Saija dan Adinda. Sebelumnya, publik Eropa itu nggak tahu menahu kondisi asli di Hindia Belanda; mereka kira Tanam Paksa itu bawa peradaban yang bagus. Tapi lewat kisah tragis dua sejoli yang lugu ini—termasuk cerita perampasan kerbau dan pembantaian keluarga Adinda—Eduard sukses ngebongkar realitas kalau kekayaan yang dinikmati orang Belanda itu dibangun di atas darah dan air mata rakyat pribumi. Angka-angka statistik ekspor kopi dan gula yang dibanggain pemerintah seketika berubah jadi tragedi kemanusiaan yang menyentuh hati pembaca di sana.

Buku ini sukses bikin geger sampai memicu perdebatan panas di Parlemen Belanda. Tokoh-tokoh liberal di sana pakai cerita Multatuli buat nekan pemerintah kolonial supaya menghapus Tanam Paksa. Ujungnya, kritik tajam ini memaksa Kerajaan Belanda ngeluarin kebijakan baru yang namanya Politik Etis di tahun 1901, yang fokusnya buat ngebayar "hutang budi" lewat irigasi, transmigrasi, dan edukasi buat rakyat pribumi.

Nggak cuma heboh di Eropa, Max Havelaar juga jadi obor penerang buat tokoh-tokoh pergerakan kita. R.A. Kartini misalnya, matanya benar-benar terbuka soal penindasan kolonial setelah baca buku ini, dan dia sering banget muji keberanian Multatuli di surat-suratnya. Terus bagi Bung Karno, buku ini ibarat amunisi politik. Pas dia bikin pembelaan Indonesia Menggugat di pengadilan tahun 1930, Soekarno dengan lantang ngutip Multatuli buat ngebuktiin kalau penjajahan itu nggak lebih dari sekadar mesin pemeras keringat rakyat.

Semangat dari tulisan ini juga nular ke tokoh lain kayak Tjipto Mangoenkoesoemo dan kerabatnya sendiri, Ernest Douwes Dekker, yang akhirnya berani mendirikan Indische Partij—partai pertama yang terang-terangan nuntut kemerdekaan kita.

Makanya, nggak berlebihan kalau sastrawan kita, Pramoedya Ananta Toer, sampai ngejulukin Max Havelaar sebagai "buku yang membunuh kolonialisme". Coba bayangin, dari lembaran-lembaran cerita satu orang yang berani bersuara itu, akhirnya lahir generasi-generasi terpelajar yang sukses ngeruntuhin kekuasaan Hindia Belanda. Keren banget, kan?