Kata-kata yang Melukai: Refleksi tentang Kekerasan Verbal Terhadap Perempuan

Instruktur PUSDIKLAT Pengembangan SDM Universitas Muhammadiyah Malang. Mediator Bersertifikat. /@penakaryajf (tiktok)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Jusrihamulyono AHM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita mendengar kalimat "Ah, cuma kata-kata doang kok, masa iya sampai sakit hati?" Sayangnya, pandangan ini masih mengakar kuat di masyarakat kita. Padahal, kekerasan verbal terhadap perempuan sama berbahayanya dengan kekerasan fisik, hanya saja lukanya tidak terlihat mata.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyaksikan bagaimana perempuan menjadi sasaran kata-kata yang merendahkan. Mulai dari komentar tentang penampilan fisik, pilihan hidup, hingga kemampuan intelektual. "Kamu terlalu gemuk," "Perempuan memang susah diatur," atau "Dasar perempuan, emosian melulu" adalah contoh-contoh kalimat yang mungkin terdengar sepele, tetapi sebenarnya mengandung unsur kekerasan verbal.
Yang lebih memprihatinkan, kekerasan verbal ini sering kali dinormalisasi dalam budaya kita. Kita terbiasa mendengar ayah yang berteriak pada ibu, suami yang meremehkan istri, atau bahkan teman yang mengolok-olok perempuan lain dengan dalih "bercanda." Ketika perilaku ini dianggap wajar, maka korban pun mulai mempertanyakan perasaannya sendiri. Mereka bertanya-tanya, "Apakah aku terlalu sensitif? Apakah ini memang salahku?"
Dampak kekerasan verbal terhadap perempuan tidak bisa diremehkan. Penelitian menunjukkan bahwa kata-kata yang merendahkan dapat menyebabkan trauma psikologis yang mendalam. Perempuan yang mengalami kekerasan verbal cenderung mengalami penurunan harga diri, kecemasan, depresi, bahkan gangguan makan. Mereka mulai meragukan kemampuan diri dan sering kali menarik diri dari lingkungan sosial.
Lebih jauh lagi, kekerasan verbal dapat menjadi pintu gerbang menuju kekerasan fisik. Pola yang terbentuk adalah pelaku mulai dengan kata-kata kasar, kemudian meningkat menjadi ancaman, dan akhirnya berlanjut ke tindakan fisik. Oleh karena itu, menganggap kekerasan verbal sebagai "hal kecil" adalah kesalahan besar yang dapat berakibat fatal.
Lalu, bagaimana kita sebagai masyarakat dapat berperan dalam mencegah kekerasan verbal terhadap perempuan? Pertama, kita perlu mengubah mindset bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar. Kita harus belajar untuk lebih berhati-hati dalam berbicara dan memilih kata-kata yang membangun, bukan yang merusak.
Kedua, penting untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan untuk berbicara. Ketika seorang perempuan melaporkan kekerasan verbal, jangan langsung menyalahkan atau meremehkan pengalamannya. Sebaliknya, dengarkan dengan empati dan tawarkan dukungan yang mereka butuhkan.
Ketiga, edukasi tentang kekerasan verbal perlu terus digalakkan. Mulai dari lingkup keluarga, sekolah, hingga tempat kerja. Anak-anak perlu diajarkan sejak dini bahwa menghormati perempuan adalah hal yang fundamental, bukan pilihan.
Kekerasan verbal terhadap perempuan bukanlah masalah pribadi, melainkan masalah sosial yang membutuhkan solusi bersama. Kita semua bertanggung jawab untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan menghormati martabat setiap individu, terlepas dari jenis kelaminnya. Karena pada akhirnya, kata-kata yang kita ucapkan hari ini akan membentuk dunia yang kita tinggali esok hari. Mari kita pastikan dunia itu menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk semua.
